Si Kecil Hanya Suka 1 Sisi
Oleh: Tuti Asrianti, Konselor Laktasi
Bingung bayi hanya suka menyusu pada satu sisi saja? Apakah rasa ASI kanan dan
kiri bisa berbeda? Jangan-jangan posisi menyusui Anda yang kurang benar.
Pengalaman terindah bagi ibu baru adalah dapat menyusui buah hatinya. ASI
eksklusif adalah hadiah terbaik buat bayi Anda. Selain kandungan gizinya paling
baik, dengan memberikan ASI akan terjalin ikatan kasih sayang yang mesra antara
ibu dan bayi (bonding
). Ny. Dilla yang baru saja melahirkan putri pertamanya sudah bertekad memberi
ASI eksklusif. Namun sebulan belakangan ini Ny. Dilla dilanda kebingungan.
Pasalnya setiap kali menyusui, si bayi hanya senang pada payudara kanan saja.
Dilla merasa khawatir ada apa-apa dengan payudara sebelah kirinya, sehingga
putrinya tak suka.
Beberapa kemungkinan penyebab
Seringkali ibu lebih percaya mitos. Misalnya percaya bahwa sisi yang satu
terasa manis, sementara sisi yang lain tawar. Padahal anggapan ini tidak benar.
Masalah yang dialami Ny. Dilla sepertinya banyak dialami oleh para ibu baru
lainnya. Bayi jadi sering menangis dan rewel karena lapar, ia hanya mau minum
pada satu sisi payudara saja. Andai Anda mengalami hal itu, tak perlu resah dan
cepat-cepat memutuskan untuk memberi susu formula atau makanan tambahan, karena
takut kualitas ASI tak menyukupi. Memang tak ada efek kekurangan nutrisi bila
bayi hanya senang menyusu pada satu sisi saja, namun sebaiknya bayi bisa
menyusu pada ASI kiri dan kanan. Selain itu menyusu kedua sisi payudara
menciptakan keseimbangan agar bentuk payudara ibu tak kendur sebelah.
Coba cari tahu mengapa si kecil hanya senang menyusu pada satu sisi saja.
Mungkin si kecil baru pandai mengisap salah satu puting saja, karena puting
tersebut lebih lembut. Payudara yang sudah terbiasa diisap memiliki tekstur
yang lebih lembut dan kenyal dan si kecil sudah merasa familiar dengan kondisi
ini. Sehingga ketika ia diberi payudara sisi yang lain, ia merasa asing dan
sulit mengisapnya.
Yang sering tak terpikirkan adalah posisi ibu saat menggendong bayi, karena
faktor kebiasaan. Misalnya ibu sudah merasa lebih nyaman memberi sisi kiri
ketimbang kanan, sehingga saat memberi sisi kanan Anda merasa tegang.
Akibatnya, bayi pun menyesuaikannya, dan menjadi kebiasaan. Selain itu pada
kasus tertentu yang relatif jarang terjadi cedera kepala akibat tindakan
persalinan bisa membuat bayi hanya nyaman menyusu pada posisi tertentu saja.
Bagaimana mengatasinya
Suasana rileks
Saat memberikan ASI, posisi menyusui harus benar dan ibu harus santai, tidak
boleh tegang ataupun ragu, sehingga bayi enjoy
saat menyusu. Bawa pikiran dan perasaan yang positif, misalnya senang dan puas
terhadap bayi, limpahkan kasih sayang Anda dan percaya bahwa ASI adalah yang
terbaik untuk bayi, yang akan membantu refleks oksitoksin (hormon penghasil
ASI) bekerja, dan ASI mengalir dengan lancar.
Faktor kebiasaan
Hal lain yang paling penting adalah perasaan nyaman bayi dan ibunya. Nyaman
tidaknya bayi dipengaruhi oleh posisi areola di mulut. Yang baik adalah seluruh
areola berada di dalam mulut bayi. Posisi yang pas membuat produksi ASI
melimpah.
Coba pindah-pindahkan posisi menggendong bayi, sehingga semua posisi terasa
nyaman bagi Anda berdua.
Susui saat mengantuk
Solusi lain bila ingin bayi kembali menyusu pada kedua payudara, susuilah bayi
dengan payudara yang ’tidak disukai’ pada saat bayi mengantuk (dalam keadaan
tidak sadar penuh), dengan demikian si kecil mau menyusu pada payudara ’bukan
favoritnya’.
Panduan Praktis lainnya
-
Niatkan bahwa Anda ingin memberi yang terbaik buat bayi. Ciptakan suasana
santai dan rileks. Biarkan kepala bayi terjatuh pada pertengahan lengan bawah
atau pergelangan tangan ibu
-
Pegang bagian belakang dan bahu bayi. Hadapkan wajah si kecil dengan wajah
Anda, agar ia dapat leluasamemandang wajah ibunya.
-
Dekap erat si kecil, sesekali belai kepalanya dengan lembut.
-
Pastikan seluruh areola masuk ke dalam mulut bayi, dan hidung tidak tertutup
oleh payudara.
TOP
Makanan Pendamping ASI
ASI (Air Susu Ibu) adalah makanan tunggal terbaik yang bisa memenuhi seluruh
kebutuhan gizi bayi normal untuk tumbuh kembang di bulan-bulan pertama
kehidupannya. Itu sebabnya, Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Dana PBB untuk
Anak-anak (UNICEF) menetapkan pemberian ASI eksklusif pada bayi selama 6 bulan.
Ini berarti, si kecil hanya mendapat ASI, tanpa makanan tambahan lain selama
masa itu.
Penelitian menunjukkan, banyak manfaat diperoleh bayi yang mendapat ASI. Tidak
ada yang bisa menggantikan ASI yang memang di’desain’ khusus untuk bayi. Dan
jangan lupa, proses pemberian ASI akan menumbuhkan kelekatan emosi yang dalam
dan kuat antara mama dan bayi.
Setelah usia 6 bulan, ASI hanya memenuhi sekitar 60-70% kebutuhan gizi bayi.
Jadi, bayi mulai membutuhkan makanan pendamping ASI (MP-ASI). Pemberian makanan
padat pertama ini harus memperhatikan kesiapan bayi, antara lain, keterampilan
motorik, keterampilan mengecap dan mengunyah, plus penerimaan terhadap rasa dan
bau. Makanya, pemberian makanan padat pertama perlu dilakukan secara bertahap.
Misalnya, untuk melatih indera pengecapnya, berikan bubur susu satu rasa dulu,
baru kemudian dicoba yang multi rasa.
TOP
Usia 6-8 Bulan – Makanan Lumat
Saat mulai memberi si kecil makanan padat, jangan bertubi-tubi memberi aneka
jenis makanan dalam waktu singkat. Beri jeda beberapa hari antara setiap jenis
makanan baru, sehingga tidak terlalu memaksa anak. Anda pun punya cukup waktu
untuk memantau kalau-kalau ada masalah yang timbul berkaitan dengan makanan
tertentu.
Juga, biarkan bayi memutuskan berapa banyak makanan yang mau ditelannya. Untuk
beberapa jenis makanan—dalam sehari—bayi Anda bisa jadi kelihatannya tidak
makan terlalu banyak. Sedangkan bayi lain malah kelihatan sangat rakus. Tidak
usah pusing. Ikuti saja apa maunya. Yang penting, Anda selalu memantau proses
tumbuh kembangnya secara teratur.
Bagaimana memulainya?
Setelah usia 6 bulan, makanan padat pertama si kecil ini adalah makanan lumat,
yakni bubur susu dan buah. Selama 2 minggu pertama, si kecil cukup diberi dua
jenis makanan ini. Makanan lumat mudah dicerna dan cepat meninggalkan lambung
si kecil. Pemberian makanan lumat ini dimulai dalam bentuk encer dan jumlahnya
sedikit. Secara bertahap, makanan dikentalkan serta jumlahnya ditambah.
Pemberian secara bertahap ini perlu dilakukan karena sampai usia ini, jenis
makanan yang paling bayi kenal adalah ASI (dan ia masih tetap membutuhkannya
sampai usia 2 tahun). Jika ia mendorong keluar makanan atau menutup mulut
rapat-rapat, jangan paksa. Mungkin ia belum siap untuk makan makanan padat.
Setelah bayi berhasil melalui masa 2 minggu ini dengan baik, Anda bisa
memberinya makanan lunak, yakni nasi tim saring, sebanyak 1 kali dalam sehari.
Nasi tim ini harus terdiri dari sumber karbohidrat, sumber protein, serta
sumber zat pengatur.
Bagaimana dengan buah? Sebaiknya disajikan dengan cara disaring dan mulailah
dengan buah berserat rendah. Misalnya, jeruk, pisang, pepaya, dan avokad.
Secara bertahap, Anda boleh memberinya buah lain.
Peralihan dari makanan lumat ke makanan lunak juga perlu dilakukan secara
bertahap. Ini berarti, Anda perlu mengatur kekasaran teksturnya. Awalnya, pilih
sayur berserat rendah, seperti wortel, tomat, bayam, dan sebagainya.
Setelahnya, Anda bisa memberinya brokoli dan lainnya.
Makan dari sendok butuh keterampilan tersendiri. Bisa jadi, Anda harus uji coba
selama beberapa kali sampai bayi betul-betul terbiasa. Di usia ini, kebanyakan
pemenuhan kalori masih berasal dari ASI. Dan tujuan utama mengenalkan makanan
padat pada bayi adalah mengajarinya cara makan yang benar-benar berbeda serta
memperkenalkan aneka citarasa dan tekstur makanan baru. Yang terpenting, buat
proses belajar mengenal makanan baru jadi pengalaman yang menyenangkan.
Pentingnya Variasi
Untuk memperkenalkan makanan pada bayi, mulailah dengan 1 jenis makanan. Tunggu
paling tidak selama 4 hari sebelum mengenalkan makanan jenis lain. Adanya
tenggang waktu membuat bayi makin mengenal dan bisa menerima makanan barunya.
Reaksi alergi biasanya baru muncul beberapa hari setelah jenis makanan itu
dikonsumsi. Jika timbul reaksi alergi jenis tertentu, Anda jadi tahu persis
penyebabnya.
Sebagian pakar percaya, penting untuk mulai memperkenalkan sayuran hijau dulu,
sehingga pola citarasa bayi tidak ‘termanjakan’ dengan rasa manis dari
buah-buahan. Sebagian pakar lagi menganggap itu hanya mitos belaka. Menurut
mereka, bayi terlahir dengan menyukai yang manis-manis. Anda bisa
mengombinasikan kedua pendapat ini, dan melihat mana yang paling pas buat bayi
Anda.
Yang pasti, mengombinasikan berbagai jenis makanan akan membuat bayi tidak
cepat bosan, memicu selera makannya plus tidak menjadikannya si pemilih
makanan. Jangan sampai ia terbiasa makan makanan yang itu-itu saja. Ia bisa
kekurangan gizi yang dibutuhkannya.
Jadikan Sebagai Rutinitas
Waktu makan—sarapan, makan siang dan makan malam—harus Anda terapkan secara
konsisten. Ini bukannya tanpa alasan. Sistem pencernaan bayi perlu dilatih
untuk belajar menerima, mencerna, serta menyerap makanan pada waktu-waktu yang
ditentukan.
Untuk masing-masing waktu makan itu, sajikan kelompok makanan yang ada dalam
tabel 'Jadwal pemberian makanan si kecil'
. Perlu dicatat, kalau kenyang si kecil akan memberi sinyal. Misalnya,
menjulurkan lidah atau memalingkan kepala. Jadi, jangan takut si kecil akan
makan secara berlebihan.
Mulai Memperkenalkan Biskuit
Anda sudah bisa mulai memberi biskuit bayi sebagai camilan di antara waktu
makan. Koordinasi antara mata dan tangannya sudah cukup baik, sehingga ia bisa
membawa tangannya ke mulut. Pada umur 7 bulan, rata-rata bayi sudah mampu makan
sendiri biskuitnya.
Umumnya, tekstur biskuit yang lembut membuat bayi mudah mengemutnya, bahkan
akan membantu merangsang pertumbuhan giginya.
TOP
Gizi Penting untuk Usia 6-12 Bulan
Pada usia 6-12 bulan, pola makan anak harus mengikuti piramida makanan. Makin ke
atas makin sedikit porsi makanan yang harus dikonsumsi anak. Berikut urutannya
dari paling bawah ke paling atas:
-
Sumber karbohidrat, yakni roti, jagung, nasi, cereal, dan
sebagainya, dikonsumsi sebanyak 1-3 kali/hari @ 1 mangkuk kecil.
-
Sumber zat pengatur, yaknis sayuran dikonsumsi sebanyak 1-2
kali/hari sekitar 25-50 g mentah. Buah dikonsumsi sebanyak 1-2 kali/hari
sekitar 25-75 g.
-
Sumber protein
yaitu ASI dikonsumsi sebanyak 2-3 kali/hari. Protein lainnya dikonsumsi
sebanyak 1-3 kali/hari. Misalnya, ayam kampung (paha bawah), telur (1/2–1
butir), daging (1/2 potong sedang/20 g), kacang-kacangan (1-2 sendok makan),
tahu (1 potong/50 g), tempe (1 potong/25 g), serta ikan (1 potong sedang/20 g).
-
Bila perlu, berikan sumber lemak
berupa minyak sebanyak 1/2 sendok teh.
Penting:
ASI adalah sumber utama untuk karbohidrat, lemak dan protein.
TOP
Masalah Makanan yang Bisa Timbul Bagi Bayi Usia 6-8 Bulan: Alergi Makanan
Alergi makanan adalah suatu reaksi yang timbul pada tubuh setelah seseorang
mengonsumsi suatu jenis makanan. Reaksi ini dipicu oleh kondisi kekebalan tubuh
pada orang tersebut.
Bila salah satu dari Anda atau pasangan Anda punya riwayat alergi makanan,
risikonya pada si kecil meningkat sampai 20-30%. Jika Anda berdua alergi,
risikonya pada anak naik lagi hingga 40-70%.
Tanda-tanda si kecil mengalami alergi makanan, adalah jika setelah Anda
memberinya satu jenis makanan, ia menunjukkan gejala-gejala, antara lain:
-
Ruam di kulit
-
Diare
-
Muntah
Munculnya alergi membutuhkan lebih dari satu kali paparan untuk sensitif
terhadap alergen. Dan jika anak Anda menolak satu jenis makanan, ini belum
tentu berarti ia mengalami alergi. Siapa tahu ia hanya tidak mau makan saja.
Perlu dicatat:
Menangis terus-menerus bisa pula menjadi pertanda alergi makanan, meski umumnya
diikuti ruam, diare, atau muntah.
Kebanyakan anak yang alergi makanan akhirnya bisa mengatasi alerginya. Makanya,
Anda bisa memperkenalkan lagi makanan itu dengan aman (konsultasi dulu dengan
dokter anak Anda).
TOP
Jadual Pemberian Makan Bagi Si Kecil Usia 6-8 Bulan
Usia
|
Jenis Makanan
|
6-7 bulan
|
-
ASI sesuai keinginan atau MP-ASI sehari 3-4 kali 150-180 ml
-
1 kali bubur susu + 1 kali buah + 1 kali nasi tim saring
|
7-8 bulan
|
-
ASI sesuai keinginan atau MP-ASI sehari 3-4 kali 180-210 ml
-
1 kali bubur susu + 1 kali buah + 2 kali nasi tim saring
|
TOP