Aikido untuk Anak
Aikido menjadi bekal yang baik agar anak bisa menjaga diri. Selain itu, aikido juga bermanfaat untuk kesehatan fisik dan pembentukan karakter.

Andre masih ingat ketika dikeroyok lebih dari dua puluh orang ketika masih SMA dulu. Tak kuat melawan, Andre akhirnya melarikan diri agar tidak celaka. Pengalaman itu mendorong pria yang tinggal di Kemang, Jakarta ini menyuruh kedua putranya untuk berlatih aikido. “Saya kan tidak mungkin mengantar dia kemana-mana selamanya. Saya berharap agar kelak dia bisa membentengi diri.”

Ketika ditanya mengapa ia memilih aikido, Andre menyatakan bahwa aikido bukan sekadar olahraga bela diri tapi juga seni. “Saya pernah berlatih salah satu jenis olahraga bela diri sewaktu muda. Setiap pulang latihan saya selalu lebam-lebam. Jurus-jurusnya terlalu keras. Saya tidak melihat itu di aikido,” tuturnya lebih lanjut.

Berbeda dengan seni bela diri lain, aikido menanamkan nilai dan sikap menghadapi konflik dengan cara yang tenang, bukan dengan keras. Aikido cocok untuk anak karena olahraga ini bukan seni yang dipertandingkan tapi anak akan berfokus kepada prinsip saling ajar dan kerjasama sekaligus bermain. “Aiki bukan teknik untuk berkelahi atau mengalahkan lawan. Ini adalah seni menyatukan dunia dan membuat umat manusia sebagai satu keluarga,” kata Ueshiba Morihei, pendiri aikido.

Anak-anak berusia 4 tahun sudah bisa berlatih aikido. Beberapa dojo hanya menerima anak berusia 7 tahun ke atas.

Petik manfaatnya

  1. Menyehatkan badan
    Teknik-teknik aikido diolah sedemikian rupa sehingga menjadikannya sebagai olahraga yang mengoordinasikan gerak tubuh secara holistik dengan keseimbangan tubuh. “Nilai aerobiknya juga paling tinggi,” menurut, pimpinan perguruan Keluarga Besar Aikido Indonesia (KBAI).
  2. Mengenali kelebihan dan kekurangan diri
    Setiap orang tentu memiliki kelebihan dan kekurangan. Kombinasi kedua hal ini bisa menjadi suatu keunikan yang membedakan diri dengan orang lain. Melalui aikido, anak-anak dilatih untuk lebih mengenal keunikan ini tadi. Sebagai contoh, anak yang bertubuh pendek tentu harus mencari cara untuk menghadapi lawan yang bertubuh tinggi. Dengan kata lain, aikido melatih peserta untuk bisa memanfaatkan kelebihan maupun kekurangannya saat menghadapi lawan.
  3. Menajamkan nalar
    Masih berhubungan dengan prinsip mengenali kelebihan dan kekurangan diri, aikido juga berfungsi menajamkan nalar. Karena tekniknya dibuat sedemikian rupa sehingga membuat orang harus tahu cara dia mengenali dirinya dan berkoordinasi dengan teknik yang begitu taktis. Sesuatu yg taktis kan membutuhkan kemampuan nalar
  4. Menumbuhkan rasa percaya
    Dalam aikido, peserta berlatih secara berpasangan. Satu pihak berperan sebagai nage (pelempar), sementara yang lain berperan sebagai uke (yang dilempar). Kedua pihak bisa bertukar peran untuk melatih masing-masing teknik. Dengan kata lain, mereka bekerjasama sebagai partner. Di sinilah dibutuhkan rasa percaya. “Sebenarnya, sifat aikido berbahaya. Tapi, peserta harus percaya bahwa orang yang menjadi partner akan menjaga dirinya. Yang diberi kepercayaan pun harus bertanggung jawab untuk tidak melukai pasangannya,” kata Ferdiansyah.
  5. Mengendalikan agresivitas
    Meskipun termasuk bela diri, aikido tidak melibatkan emosi maupun gerakan yang meledak-ledak. Olahraga ini tidak berfokus pada teknik meninju maupun menendang lawan sebagai bentuk pertahanan, melainkan teknik mengunci, mengontrol gerakan dan menjauhkan lawan dari wilayah kita. Tujuan aikido adalah melindungi diri tanpa harus mencederai lawan. Di sinilah peranan aikido dalam mengendalikan agresivitas.