Alat Untuk Menjaga Keseimbangan

Hukum Tuhan yang satu ini berlaku mutlak, untuk alam personal, sosial, dan global-universal (alam semesta). Jika hukum ini dilanggar, maka akan ada  goncangan akibat tabrakan atau rusak.

Memang, ada keseimbangan yang otomatik tercipta sendiri tanpa usaha kita (sistem), seperti keseimbangan alam atau keseimbangan tertentu pada bagian tubuh kita.

Tapi, ada keseimbangan yang harus diciptakan melalui usaha, seperti keseimbangan peranan kita di kantor dan di rumah, keseimbangan sebagai pribadi dan pasangan, keseimbangan jiwa dan raga, dan seterusnya.

Logika kita mungkin sulit untuk menjelaskan keseimbangan itu seperti apa. Tapi, perasaan kita sudah tahu mengenai hal ini. Perasaan kita akan mengatakan bahwa jika hidup kita seimbang, maka akan ada dinamika (peningkatan, perbaikan, kemajuan, dan lain - lain) dan akan ada keharmonisan (internal dan eksternal).

Lewat tanda-tanda yang dikabarkan perasaan itulah logika kita bisa bekerja untuk menemukan alat, yang kalau dipakai, akan membuat hidup kita seimbang. Setidak-tidaknya dengan alat ini, keseimbangan kita tidak akan terganggu terlalu lama.

Untuk urusan keseimbangan di kantor dan di rumah, alat yang dimaksudkan itu adalah:

Pertama, target / standar prestasi. Buatlah rumusan soal target yang kita perjuangkan, entah perbaikannya, peningkatannya atau perubahannya di beberapa wilayah yang penting, misalnya karier atau peranan dalam keluarga.

Tentunya, harus berdasarkan keadaan, kemampuan, dan kebutuhan kita. Target akan mendinamiskan kita. Ibarat naik sepeda, kalau kita diam (statis), pastinya akan jatuh. Raga dan jiwa kita pun begitu, keseimbangannya akan hilang jika kita statis.

Kedua, makna dan tindakan. Maknailah masalah yang muncul sebagai petanda adanya gangguan keseimbangan. Jika raga kita sakit, segera munculkan koreksi untuk keseimbangan. Jika hubungan kita ada konflik, munculkan koreksi untuk keseimbangan.

Perlu kita ingat bahwa satu masalah dalam hidup kita itu tak terhitung dimensi dan persepktif. Bisa karena ulah kita, ulah orang lain, ulah keadaan, tapi bisa juga karena sebagai koreksi. Semua ini terkadang muncul jadi satu.

Ketiga, sensitivitas rasa. Tajamkan sensitivitas rasa untuk mengantisipasi masalah. Menajamkannya bisa pakai logika dengan melihat pengalaman pribadi atau orang lain, melihat model dalam lingkungan, atau pakai pendekatan dengan Tuhan. Intinya,  kita dapat mengantisipasi seoptimal mungkin.

Jika kita sudah menjalankan tiga alat di atas, bolehlah kita berpirinsip hidup mengalir bagai air mengalir, yaitu santai, serius, dan fokus. Jangan sampai kita berprinsip begitu, tapi tidak ada target yang dituju, tak ada peristiwa yang dimaknai dan kurang sensitif terhadap potensi bahaya.

* lifeskill facilitator, penulis dan learning counselor

Share artikel ini:

Artikel Terkait