Apakah Jamu Sama dengan Suplemen?

Sekadar meluruskan anggapan keliru bahwa jamu barangkali sering dipersepsikan sebagai penambah kekuatan fisik, sebagaimana yang dibayangkan orang tentang suatu suplemen. Semacam bahan bakar esktra bagi tubuh, padahal sejatinya jamu bukanlah suplemen. Lalu apa?

KITA, atau mungkin lebih tepatnya orang tua kita, sudah lebih dulu akrab dengan jamu ketimbang suplemen. Dulu waktu layanan medis masih sederhana, harapan orang terpangku pada jamu setiap kali jatuh sakit. Warisan bahan berkhasiat nenek moyang kita begitu melimpah, sebagian untuk meredakan penyakit, yang pada kenyataannya jamu belumlah melakukan peran sebagai obat.

Suplemen sendiri berasal dari industri negara maju, yang menyadari kalau rata-rata tubuh orang sekarang berisiko kekurangan asupan zat gizi. Menu harian yang kurang segar, pola makan instant dan serba diolah (refined diet), memilih buah dan sayur mayur diawetkan, sehingga kehilangan sebagian besar zat gizi yang dikandungnya, danitu yang menjadi sebab kebanyakan orangkehilangan zat gizi tubuh yang diperlukannya.

Jamu dan suplemen sebagai peningkat kesehatan

Baik jamu maupun suplemen,jika dilihat dari manfaatnya, lebih bertujuan untuk meningkatkan kesehatan ketimbang sebagai obat. Oleh karena untuk menjadi obat, semua bahan berkhasiat teruji dulu baik khasiat maupun toksisitasnya, selain berapa besar takaran efektif yang terukurnya. Karena jamu masih berupa bahan kasar (raw material), belum teruji ada tidaknya zat yang merugikan tubuh dan belum tahu berapa takaran efektifnya, jamu belum melakukan peran sebagai obat. Proses untuk menjadi obat perlu banyak uji, selain juga biaya.

Tidak salah mengonsumsi jamu kalau tujuannya meningkatkan kesehatan tubuh, namun bukan berharap banyak untuk menyembuhkan suatu penyakit. Apalagi menyembuhkan segala penyakit.

 

Sekali lagi perlu protokoler farmakologis untuk menjadikan bahan berkhasiat berubah peran sebagai obat. Beras kencur untuk pegal linu, temulawak untuk kesehatan hati, bawang putih untuk kekebalan tubuh, tidaklah secara spesifik untuk menyembuhkan suatu penyakit, melainkan hanya meredakan keluhan.

 

Demikian pula halnya dengan suplemen. Banyak jenis suplemen ditawarkan untuk mengisi kekosongan tubuh akan kekurangan satu atau lebih zat gizi akibat keliru dalam gaya makan. Rutin memilih menu kebarat-baratan seperti burger, bistik, donat, rata-rata konsumen berisiko kekurangan zat gizi vitamin mineral yang hilang dalam menu sejenis itu. Gandum kehilangan vitamin mineral dalam proses mengubahnya menjadi terigu. Air tebu mengalami hal yang sama ketika diubah menjadi kristal gula pasir. Daging sapi dan ayam yang diberi pakan penggemuk sehingga nilai gizinya berbeda dengan sapi atau ayam kampung yang bisa lengkap menemukan makannya di alam bebas.

 

Penyakit kekurangan suplemen

 

Tak sedikit orang sekarang yang tubuhnya kekurangan suplemen, melihat pola dan pilihan menu hariannya. Sebagian suplemen ditemukan dalam jamu. Selain vitamin dan mineral dalam umbi, akar, daun, biji suatu tanaman berkhasiat, ada pula yang terkandung zat antioksidan, atau mungkin antikanker juga. Buah tekokak (sejenis terung-terungan), kaya kandungan antikankernya. Akan tetapi tak cukup hanya mengonsumsi tekokak maka kanker sembuh.

 

Demikian pula zat antikanker dalam pohon sirsak, dalam buah merah (di Papua), sarang semut, atau sejenis itu lainnya. Selama bahan berkhasiat itu masih belum diubah oleh teknologi farmasi menjadi obat, tetap saja sebagai bahan berkhasiat, atau sebatas phytopharmaca belaka.

Orang yang tubuhnya sedang kekurangan satu atau lebih zat gizi akibat menu hariannya tidak lengkap, akan mengeluh macam-macam, termasuk lesu, lemah, pegal,dan merasa kurang bugar. Apabila orang ini mengonsumsi suatu jenis jamu, lalu keluhannya mereda, ini pembuktian terbalik kalau tubuhnya sedang kekurangan zat gizi yang dipasok oleh jamu yang diminumnya. Yang sama terjadi pada konsumen suplemen. Mereka yang menjadi lebih bugar sehabis mengonsumsi suatu suplemen, berarti tubuh sedang kekurangan apa yang ditambahkan suplemen itu kepada tubuhnya.

Share artikel ini:

Artikel Terkait