Ayo, Berjalan Kaki

Berjalan kaki menjadi pilihan paling murah, mudah, dan sederhana untuk menjadi sehat. Tak perlu khusus pergi memilih berolahraga, karena jalan kaki sudah dianggap memadai. Berjalan kaki yang bagaimanakah?

BERJALAN kaki yang dilakukan secara teratur setiap hari. Bukan juga sekadar berjalan leha-leha belaka, melainkan berjalan tergopoh-gopoh, sedikitnya 100 meter per menit, atau 6 Km per jam (brisk walking). Dengan laju secepat itu idealnya ditempuh untuk 40 sampai 45 menit. Targetnya agar denyut nadi aerobic tercapai.

Besaran denyut nadi aerobic optimal ditentukan oleh umur. Cara menghitungnya, {220 – (umur)} X 80 %, itulah nilai denyut nadi tertinggi yang diperkenankan. Setelah denyut nadi yang diperkenankan tercapai, pertahankan berlangsung selama ± 40-45 menit. Untuk mencapai denyut nadi optimal, boleh memilih latihan jasmani jenis apa saja selain berjalan. Namun berjalan kaki dinilai paling ideal, terutama bagi yang sudah "berumur"; mengapa?

Dengan berjalan kaki selain bisa mencapai denyut nadi optimal, pilihan inipun dinilai aman. Bagi yang berusia lanjut, berjalan kaki tidak sampai mencederai persendian, khususnya sendi lutut dibanding harus jogging atau berlari. Hasil raihan aerobic yang diperoleh dari berjalan kaki brisk walking tidak berbeda dengan yang dihasilkan oleh kegiatan jogging (J. Cooper).

Berjalan kaki menambah kuat otot jantung. Darah mengalir lebih deras memasuki seluruh ujung-tepi tubuh. Pembuluh darah kolateral, yang dalam keadaan tidak sedang bergiat menguncup, ikut terbuka selama melakukan latihan fisik, termasuk ketika berjalan kaki. Paru-paru lebih optimal mengembang, membiarkan lebih banyak udara pernapasan masuk. Itu berarti oksigen lebih banyak tertangkap, lalu mengisi sel-sel darah.

Darah yang mengangkut lebih banyak oksigen, akan memberikan kecukupan oksigen bagi seluruh sel tubuh. Sel tubuh yang cukup akan oksigen akan lebih bugar, tak lekas layu, sehingga "mesin" tubuh berputar lebih lancar.

Hampir semua gangguan fungsi tubuh terjadi lantaran aliran darah tak lancar memasuki seluruh sel tubuh. Jangan sampai organ tubuh menderita kekurangan oksigen. Perlu diingat bahwa organ otak, dan jantung sangat sensitif terhadap kekurangan asupan oksigen. Maka kegiatan rutin berjalan kaki akan menjauhkan organ-organ penting dalam tubuh dari kemungkinan sampai kekurangan oksigen.

Dengan berjalan kaki otot-otot anggota gerak juga menjadi terlatih lebih lentur, selain membantu pembuluh darah mengalirkan darah. Dengan berkontraksinya otot-otot anggota gerak, aliran darah menuju ujung tubuh maupun yang kembali balik ke jantung diperlancar oleh berkontraksinya otot-otot selama bergiat. Selain itu tekanan darah akan terhindar menjadi lebih tinggi.

Berjalan kaki juga melenturkan gerak sendi, khususnya sendi da tungkai, dan kaki, selain sendi lengan. Dengan semakin loncernya persendian, kekakuan sendi sebagaimana banyak terjadi seiring dengan bertambahnya usia, tidak perlu dialami. Melakukan latihan fisik termasuk jalan kaki, menggiatkan kerja organ-organ dalam, termasuk sistem pencernaan. Dengan demikian menjadi lebih lancar ke belakang setiap hari. Sebaliknya, yang kurang bergerak, sering mengalami sembelit.

Berjalan kaki juga membantu memperlancar metabolisme kalsium. Percuma cukup mengonsumsi kalsium jika tidak dibarengi dengan berjalan kaki, atau latihan jasmani lain. Oleh karena dengan kegiatan jasmani yang tidak perlu berat (low impact) kecukupan kalsium tubuh bisa terpenuhi jika asupannya memadai.

Jangan pula lupa, selain kalsium dan latihan jasmani, kecukupan cahaya matahari diperlukan juga. Selain itu tanpa disertai dengan kecukupan vitamin D pun, tetap saja metabolisme kalsium tubuh tak bakal berlangsung sempurna.

Dengan bertambahnya usia, keseimbangan tubuh pun semakin menurun. Dengan berjalan kaki, kemampuan menyeimbangkan tubuh dapat lebih terlatih. Itu berarti tidak mudah terjatuh, terpeleset, atau tersungkur.

Berjalan kaki dapat dilakukan kapan saja tersedia waktu yang cocok disesuaikan dengan kegiatan harian. Paling membugarkan kalau dilakukan pagi hari sebelum mulai aktivitas harian. Idealnya dilakukan bersama seluruh anggota keluarga.

Membiasakan keluarga berjalan kaki juga membangun kebugaran semua anggota. Sejak kecil anak sudah dibiasakan melakukan latihan fisik. Ancaman kesehatan terhadap rata-rata anak sekarang lantaran fisik mereka kurang gerak. Mereka lebih banyak duduk untuk belajar, bermain (game), dan nonton televisi. Berjalan kaki pilihan yang tidak merepotkan, dan tidak pula memberatkan, juga bagi anak.

Namun ada hal perlu diperhatikan dalam persiapan berjalan kaki. Mereka yang sudah mengidap suatu penyakit berat, seperti pernah ada penyakit jantung (bawaan, payah jantung, koroner, jantung membengkak), tidak perlu memaksakan diri bila tidak kuat melakukannya dengan penuh. Termasuk jika mengidap penyakit kencing manis, paru-paru basah, atau asma. Lakukan sesuai takaran kemampuan. Patokannya, apabila selama berjalan brisk walking sudah tak mampu berbicara secara normal, dan sudah megap-megap, itu tandanya jantung sudah tak mampu lagi toleransi untuk dilanjutkan. Maka kendurkan, atau langsung menghentikan kegiatan fisiknya.

Jangan lupa. Pilihlah jenis sepatu dengan sol yang empuk. Berjalan kaki dengan alas kaki keras selain tidak menyehatkan, berpotensi merusak persendian, khususnya sendi lutut, dan panggul. Bukan jarang kalau di kemudian hari malah bermasalah pada sendi. Badannya betul sehat, namun sendinya telanjur rusak.

Share artikel ini:

Artikel Terkait