Bekerja dengan Hati

Sejak trilogi novelnya, Jendela-Jendela, Atap dan Pintu terbit pada tahun 2001-2003, nama Fira Basuki seakan tak bisa dilepaskan dari dunia sastra Indonesia. Apalagi wanita kelahiran tahun 1972 ini memang tergolong produktif dalam berkarya. Beberapa novelnya seperti Biru, Rojak, Paris Pandora,hingga serial chicklit Miss B berhasil menarik perhatian penikmat sastra Indonesia.

Selain berkarya sebagai penulis, ia juga memiliki pengalaman cukup beragam di dunia media, mulai sebagai  kontributor majalah, produser radio, hingga kini menjadi pemimpin redaksi sebuah majalah wanita. Tak heran bila kini Fira kerap wira-wiri di berbagai media dan memiliki banyak penggemar. Bagaimana ia merintis kesuksesan yang diraihnya?

Menurut alumnus Pittsburg State University dan Wichita State University ini, ketertarikan pada dunia tulis menulis telah dimulai sejak ia kecil. “Dari kelas dua SD saya sudah bisa bikin puisi, waktu SMP dan SMA rajin ikut lomba menulis dan selalu menang. Karena itu orang tua mendukung saya untuk menggeluti dunia menulis lebih jauh sebagai wartawan dan melanjutkan sekolah journalisme di Amerika,” paparnya.
Ditanya tentang apa yang membuatnya mantap memutuskan menggeluti dunia menulis secara total, ibu dari satu putri ini menyebut minat dan takdir sebagai alasan. “Dari kecil saya selalu senang menulis dan menulis, kalau ada waktu luang selalu menulis. Dan minat terjun total muncul karena bagi saya tidak yang lebih menyenangkan dibandingkan melakukan apa yang kita cintai. Jadi saya ingin jadi penulis sebagai profesi,” ujarnya tentang pilihan hidup yang diambilnya. 

Karena melakukan sesuatu yang dicintainya, Fira tak merasakan kendala berarti saat berkarya. “Saya tidak merasa menemukan kendala karena menikmatinya. Nggak pernah ada istilah tidak ada ide. Mungkin ini sebabnya saya bilang saya terlahir sebagai penulis,” paparnya. Perjalanan menerbitkan karya pertamanya pun diakui mengalir begitu saja. “Ada teman yang membawa karya saya ke penerbit, dan mereka langsung tertarik menerbitkan Jendela-Jendela pada tahun 2001,” kisahnya.

Banyak alasan yang disebut Fira sebagai hal-hal menarik dalam profesinya sebagai penulis. Yang paling menarik adalah apa yang diimajinasikannya bisa diwujudkan dalam tulisan. Sebuah contoh di novel Paris Pandora, saya membuat tokoh naga bernama Nogosari yang bisa bicara,” kisahnya. Selain itu ia juga sangat antusias karena banyak pembaca karyanya yang mengira kisah-kisah di novelnya merupakan kisah nyata. Sedangkan kesempatan menulis biografi, seperti saat menulis biografi Wimar Witoelar, adalah proses dari tidak mengenal seseorang hingga menjadi dekat.

Wanita yang mendapatkan inspirasi tulisan dari pengalaman sehari-hari, imajinasi, mimpi, dan lingkungan sekitarnya ini mengaku nyaris tak menghadapi tantangan berarti dalam berkarya. “Paling yang jadi kendala adalah waktu. Karena juga bekerja sebagai jurnalis, saya selalu kurang waktu untuk nulis novel,” ujarnya sambil melempar tawa. Yang jelas untuk menjaga produktivitas dan kualitas dalam berkarya, Fira berusaha tidak pernah berhenti menulis, banyak membaca dan mengeksplor dengan jalan-jalan hingga nonton film, serta memperkaya diri dengan pengetahuan.

Meski sukses telah digenggamnya, Fira tetap punya hal  besar yang diimpikannya. “Saya ingin seluruh karya saya tersebar di dunia dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa, jadi bisa dinikmati lebih luas!” Dan bagi Anda yang ingin memulai suatu profesi baru, ia melontarkan saran, “Semua harus dari dalam hati. Misalnya menulis harus dimulai dari kecintaan akan menulis, bukan keinginan yang lain-lain, misalnya ingin jadi terkenal. Kalau sudah dimulai dari hati, pasti semua berjalan dan lancar,” ujarnya mantap.

Share artikel ini:

Artikel Terkait