Wushu: Beladiri Ramah Anak

Anda dan si kecil mungkin sudah akrab dengan aksi bela diri dari film dan tayangan televisi. Ketika kami membahas tentang  seni beladiri, tentu Anda bertanya, bagaimana bisa kegiatan itu membawa manfaat bagi anak?

Segala bentuk kekerasan yang dipertontonkan jagoan-jagoan di televisi sebenarnya jauh dari konsep seni beladiri atau biasa disebut martial art. Faktanya, latihan martial art berbasis anti-kekerasan. Seni beladiri yang berawal dari Asia (kebanyakan berasal dari Jepang, China, dan Korea) punya variasi tipe dan gaya, yang semua mengajarkan nilai-nilai moral. Keindahan menekuni seni beladiri tidak hanya mencakup aspek olahraga, melainkan melatih mental dan emosi. Salah satu seni beladiri yang bisa Anda kenalkan kepada si kecil adalah wushu.

Secara harfiah, “wu”dalam bahasa China berarti militer dan “shu” berarti seni. Seiring perkembangan, wushu menjadi salah satu cabang seni beladiri yang terfokus pada kelenturan, kecepatan, jurus, dan penampilan. Melatih gerakan wushu secara rutin membuat tubuh menjadi tangkas, lentur, dan kuat. Selain itu, keseimbangan, stamina, dan refleks, juga dilatih. Koordinasi mata-tangan yang merupakan keahlian penting bagi anak, bisa diasah melalui latihan wushu.

Wushu bisa diajarkan sejak anak berusia 5 tahun, ketika otot anak masih lentur, sudah bisa menerima instruksi, dan mudah menyerap gerakan baru yang dicontohkan pelatih. Pertama kali, si kecil akan memakai sabuk putih dan warna sabuk akan berganti pada ujian kenaikan tingkat setiap tahun. Jika wushu terus ditekuni, anak akan sukses melingkarkan sabuk hitam di pinggang, seperti si bijak Shi Fu, guru Po dalam film kartun Kungfu Panda.

            Memelajari gerakan wushu butuh konsentrasi dan ketenangan. Kendali atas diri sendiri sangat diperlukan demi penghayatan atas setiap gerakan. Di sini anak belajar bahwa beladiri bukan untuk berkelahi tapi justru digunakan untuk menghindari perkelahian dengan cara bersikap tenang. Selain latihan fisik, anak juga mengasah mental dan nilai-nilai moral yang bisa diterapkan dalam keseharian. Semua dilakukan melalui wushu.

Tanpa Pertarungan

Cabang wushu yang paling terkenal dan paling banyak diminati adalah Tao Lu: gerakan perorangan yang menampilkan kecepatan, tenaga, jurus tangan kosong, atau kepiawaian memainkan senjata. “Keindahan gerakan, kuda-kuda, lompatan, hingga kostum, adalah beberapa poin yang dinilai dalam kompetisi Tao Lu,” kata Rizki Rahmat, pelatih wushu di Sasana Inti Bayangan, Jakarta.

            Ada yang menarik dalam cabang Tao Lu yaitu latihan ekspresi wajah. Karena tidak ada lawan tanding, maka pemain wushu perlu berpura-pura mereka sedang menepis pukulan musuh, menangkis tendangan, atau sesekali ber-acting terkena jurus yang dilempar lawan. Semua itu dilatih agar pemain semakin menjiwai setiap gerakan yang dilakukan. “Ada jurus yang dikenal sebagai jurus dewa mabuk. Kalau pemainnya tidak berpura-pura seperti orang mabuk, jurus itu tidak akan enak dilihat. Itu yang membuat wushu seru,” kata Shinta Marenti yang juga pelatih wushu di Sasana Inti Bayangan. Wushu, khususnya Tao Lu, itu ramah karena tidak ada pertarungan. Jadi aman sekali untuk dimainkan siapa saja. Selain itu, gerakan wushu yang cantik juga tampak menarik saat dimainkan oleh anak perempuan.

            Karena tidak ada pertarungan yang melibatkan kontak fisik dengan pemain lain, kemungkinan cedera saat berlatih wushu juga sangat kecil. Hal itu menjadikan wushu sebagai olahraga yang ramah anak. Cedera—seperti kram dan keseleo—hanya bisa terjadi jika pemain kurang melakukan pemanasan. Maka pastikan si kecil mengikuti sesi pemanasan dengan benar sebelum memulai latihan.

 

Variatif dan Seru

Tanpa pertarungan bukan berarti wushu menjadi cabang beladiri yang membosankan. “Justru wushu itu paling variatif dan lengkap. Selain belajar pertahanan diri melalui pukulan dan tendangan, wushu juga mempraktikkan gerakan-gerakan indah yang lentur dan cepat, serta menggunakan berbagai alat. Dan mimik juga dilatih, seperti sedang main film. Alat yang digunakan dalam wushu memang beragam yaitu toya atau tongkat, tombak, pedang, dan golok. Senjata-senjata itu tidak tajam tapi memang perlu latihan khusus untuk menguasainya.

            Tidak jarang seorang anak tertarik mendalami wushu setelah melihat alat yang digunakan pemain. Pedang, misalnya, yang terbuat dari logam tipis dan lentur, mengeluarkan bunyi gemericik saat diayunkan dengan kekuatan penuh. Sementara tombak, akan mengeluarkan bunyi mendesis ketika “membentur” angin saat diputar dengan tangkas. Alat memang menjadi daya tarik wushu dan membuat cabang olahraga itu seru saat dimainkan.

            Nuansa seni menambah alasan ketertarikan seseorang terhadap wushu. Wushu bisa menjadi sebuah atraksi seru dan menarik. “Karena wushu berasal dari China, maka pada perayaan Hari Raya Imlek kami kerap diminta untuk tampil di tempat-tempat publik. Nuansa seni dalam wushu begitu kental sehingga pemain wushu bisa berada satu panggung dengan penyanyi atau penari,” kata Rizki, yang sudah 15 tahun menekuni wushu. Dalam pementasan, alat yang digunakan lebih bervariasi, misalnya kipas yang menjadi “senjata” bagi pemain wushu wanita. Gerakan indah dalam wushu semakin ditonjolkan dalam pementasan bernuansa budaya. “Anak saya melihat temannya ikut wushu. Dia tertarik karena gerakannya yang bagus. Setelah saya cari-cari informasi melalui internet, ternyata wushu memang menarik karena ada unsur seninya. Dan gerakan wushu memang indah,” kata Maya, ibu dari Rafi, 8 tahun, yang menemani putranya berlatih wushu setiap akhir pekan.

            Begitu banyak yang bisa didapat si kecil dari seni beladiri. Fisik yang sehat, emosi yang terkendali, dan kesenangan. Semua bisa dipetik dari wushu, seni beladiri yang ramah anak.

Boks

Manfaat Seni Beladiri

-  Seni beladiri menumbuhkan rasa percaya diri. Anak merasa memiliki keahlian yang tidak dimiliki oleh semua orang.

-  Disiplin, rasa saling menghormati, sportivitas, dan persaudaraan juga dipupuk dalam proses latihan. Interaksi dengan pelatih dan sesama pemain juga mengasah kemampuan anak berkomunikasi dan bersosialisasi.

Martial art menjadi pilihan ideal bagi anak yang kurang menyukai olahraga beregu. Sehingga si “penyendiri” tetap punya berkesempatan untuk melakukan aktivitas yang mengombinasikan latihan fisik dan mental.

Anak berkebutuhan khusus, seperti anak dengan attention deficit disorder (ADD), kesulitan belajar, dan hiperaktif, kerap disarankan untuk mengikuti latihan martial art karena anak bisa memetik manfaat dari teknik latihan yang terstruktur dan memerlukan konsentrasi.

Share artikel ini:

Artikel Terkait