Cacar Air Boleh Mandi?

Cacar air (varicella, chickenpox) adalah penyakit yang sering menjangkiti anak, terutama di peralihan musim. Meski lebih banyak menyerang anak-anak di bawah 15 tahun, namun bukan berarti orangtua bebas dari virus ini, karena Varicella Zoster Virus (VZV) ini bisa menyerang siapa saja, dan menyerang seumur hidup sekali.

Cacar air ditandai dengan lenting-lenting berisi air, yang besarnya amat bervariasi kecil hingga besar. Banyak salah-kaprah tentang perawatan anak dengan cacar air. Beberapa di antaranya:

Mitos: Saat terserang cacar air, anak tak boleh dimandikan.
Fakta:
Anggapan ini keliru! Justru anak perlu mandi, untuk mencegah infeksi kulit, baik infeksi primer maupun sekunder. Infeksi primer terjadi pada kulit yang sebelumnya sehat atau normal, sedangkan infeksi sekunder terjadi pada kulit yang melenting dan pecah.

Jadi, bila penderita cacar air tidak mandi kebersihan tubuhnya tidak terjaga dengan baik, akibatnya kuman mudah masuk. Salah satu tanda infeksi sekunder adalah timbulnya nanah. Pada kondisi seperti ini biasanya penyembuhan akan meninggalkan bekas di kulit yang kurang elok.

Satu catatan penting adalah kehati-hatian saat mandi. Sebaiknya gunakan sabun yang lembut (misal, sabun bayi). Keringkan badan dengan menepukkan handuk secara lembut guna mencegah lenting tidak sampai pecah atau lecet. Ganti handuk bersih setiap kali habis dipakai, sampai anak sembuh.

Kenakan pakaian longgar agar lenting tak tergesek dan pecah. Taburkan bedak antiseptik (atas anjuran/resep dokter), namun bila lenting pecah, hentikan pemakaian bedak karena hanya akan mengotori dan dapat memicu infeksi sekunder.

Mitos:
Jika satu anak di rumah menderita cacar air pasti kakak atau adik atau anggota keluarga yang serumah pasti tertular.
Fakta:
Tidak juga. Tertular atau tidaknya seseorang tergantung dari daya tahan tubuh. Selama daya tahan tubuh terjaga baik, virus tak akan mempan menembus pertahanan tubuh. Sebaliknya jika daya tahan tubuh buruk, maka virus mudah berjangkit. Jadi belum tentu jika satu anggota keluarga terserang cacar air pasti seluruh anggota keluarga dalam satu rumah pasti tertular.

IMUNISASI YUK!
Imunisasi varisela bisa membantu mencegah cacar air. Kalaupun si Kecil terkena infeksi biasanya akan ringan saja gejalanya. Imunisasi diberikan pada anak usia 1 – 10 tahun, untuk anak 15 tahun keatas, imunisasi diberikan 2 kali, dengan jeda waktu pemberian 1 bulan.

Meski cacar air tergolong tidak membahayakan, namun pada anak dengan gizi buruk bisa menimbulkan komplikasi ke paru dan otak. Demikian juga pada orang dewasa yang terserang cacar air, keadaannya bisa lebih berat.

MENEKAN RISIKO PENULARAN

  • Hindari percikan ludah, atau bersentuhan dengan keropeng yang masih basah.
  • Penderita cacar air harus mandi dengan sabun yang lembut.
  • Usahakan agar lenting tidak pecah.
  • Selama tidak ada infeksi, taburi lenting dengan bedak, namun jika lenting pecah menjadi keropeng hentikan bedak, ganti diolesi salep (atas resep/anjuran dokter).
  • Untuk menghindari penularan, pisahkan adik dengan kakak.
  • Sebagai langkah pencegahan lakukan vaksinasi pada anak yang sehat.

HATI-HATI BILA VIRUS “TERBANGUN”
Pada bayi atau anak yang pernah terinfeksi varisela, sesungguhnya virus tidak mati. Pada infeksi pertama, Varisela Zoster Virus (VZV) menyebar melalui aliran darah dan "bersembunyi" di sumsum tulang belakang. Virus akan "tidur" bertahun bahkan hingga puluhan tahun. Suatu saat ketika daya tahan tubuh buruk virus akan muncul kembali dalam bentuk Herpes Zoster (cacar ular). Pada kondisi ini terjadi reaktivasi VZV, virus keluar dari persembunyiannya, dan menyebar mengikuti persarafan kulit yang terkena.

Sumber:
Prof. Dr.dr. Sri Rezeki S. Hadinegoro, SpA(K), Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia

Share artikel ini:

Artikel Terkait