Disiplin Mengikuti Jam Biologis

Semua orang kepingin umurnya panjang dan hidupnya bugar. Salah satu kiatnya bagaimana tertib memperlakukan tubuh. Makin bijak tubuh diperlakukan, makin baik kerja dan fungsinya. Makin terpelihara "mesin" tubuh, makin tidak lekas sakit sebelum waktunya. Tak sedikit orang modern yang mengalami "premature death" hanya karena tidak mendisiplinkan diri sepanjang hidup. Justru sejak awal kehidupan tubuh sudah harus didisiplinkan.

MESIN tubuh manusia hendaknya bekerja sesuai dengan kodratnya. Ilmu kedokteran mempelajarinya, sehingga memahami bagaimana semestinya tubuh diperlakukan. Isyarat untuk itu terbaca, misalkan kapan lambung menjadi kosong, sehingga tahu kapan seharusnya diisi. Hanya bila mematuhi kebutuhan masing-masing organ, kita menjadi bijak menjaga organ tubuh.

Jam biologis
Tubuh kita punya irama sendiri (biorhythm). Ini sesuai dengan kerja mesin tubuh. Ada jadwal kapan tubuh perlu istirahat, dan memerlukan waktu jeda. Kapan tubuh menagih minta makan, perlu minum, dan tidur. Kalau saja kita mendengar apa kemauan tubuh, kita dengan bijak memelihara organ tubuh, akan lebih melanggengkan fungsi dan kerjanya.

Hanya apabila mesin tubuh efisien bekerja, maka lebih awet tidak lekas "aus dan rusak". Kalau makan pada jadwalnya, begitu juga kalau tidur, dan beristirahat, maka tubuh bukan berhenti bertugas. Ada saat kapan makan, ada saat kapan pencernaan beristirahat dari tugas memamah, dan menyerap makanan.

Jam biologis yang mengajak kita kapan harus tidur dan istirahat. Juga kapan melakukan kegiatan-kegiatan lainnya. Lonceng tubuh itulah yang hendaknya kita patuhi agar senantiasa tepat waktu. Bila melakukan segala sesuatu terkait dengan urusan tubuh, harus pada jadwalnya sebagai bagian dari upaya membugarkan badan. Hal ini juga membuat tubuh jadi mampu bertahan hidup lebih panjang.

Orang yang sejak kecil, sedari muda, memaksa tubuhnya dengan bekerja keras tanpa istirahat, kurang tidur, dan jadwal kegiatan hariannya tidak menentu, tubuhnya akan lekas menjadi layu, aus, dan rusak. Belum berumur lanjut sudah loyo. Tak demikian bila sebaliknya.

Jam biologis juga yang berjalan sesuai tahapan hidup manusia yang ditempuh dan berlangsung. Masa kanak-kanak, masa remaja, dan memasuki usia tua. Kapan hormon penanda anak mulai pubertas diproduksi, sehingga anak lelaki dan anak perempuan menjadi nyata berbeda. Irama itulah bagian dari perjalanan biologis manusia.

Pada tahapan harian, jam biologis juga menentukan apakah tubuh diperlakukan secara efisien dan menyehatkan. Ataukah kita malah memeras tenaganya hingga menjadi luar biasa keletihan, menjadi aus, dan lekas rusak.

Bahwa mesin tubuh sepanjang hari berlangsung secara berirama. Hormon seks, misalnya mencapai puncaknya pada pukul 8.00 pagi. Saraf perasa nyeri lebih sensitif pada siang hari. Penyerapan obat lebih optimal pada jam-jam tertentu. Itulah irama biologis harian atau sirkadian.

Membentuk sirkadian
Jam biologis harian atau sirkadian hendaknya dibentuk sejak kecil. Demi mengefisienkan kerja tubuh, fungsi organ-organ tubuh, jam biologis harian seharusnya dibentuk. Tubuh tahu kapan biasa sarapan pagi, kapan tidur siang, saat mulai tidur malam, dan kapan waktunya jeda.

Hanya apabila kegiatan harian terjadwal, dan tertib dipatuhi, maka tubuh diperlakukan secara efisien. Bila itu terbiasa dipatuhi, ketika menjelang jadwal makan, lambung sudah menagih buat diisi. Juga pada jam seharusnya waktu tidur, tubuh mulai merasa mengantuk. Dengan cara demikian kerja mesin tubuh menjadi tertib berdisiplin, dan hendaknya kita senantiasa mengikutinya, tetap patuh pada jadwalnya.

Setiap keluarga punya kebiasaannya sendiri. Jadwal kegiatan harian masing-masing keluarga disusun dan berpola sendiri. Namun yang penting jadwal yang sudah dibentuk itu hendaknya dipatuhi oleh seluruh anggota keluarga. Menyimpang dan ingkar pada jadwal harian dalam hal waktu makan, jeda, beraktvitas, dan tidur, berarti merusak sirkadian keluarga.

Sekali lagi, hanya apabila mematuhi jadwal harian tubuh yang sudah dibiasakan itulah, maka kita lebih sehat memperlakukan tubuh. Makin tertib dan patuh pada jadwal harian tubuh, makin menyehatkan mesin tubuh kita.

Mendengarkan suara tubuh
Mereka yang tidak memperlakukan tubuhnya secara bijak, menjadikan organ tubuhnya tidak efisien bekerja. Waktunya beristirahat masih tetap bergiat. Waktunya pencernaan tidak lagi menggiling makanan, masih juga mengisi perut. Saatnya tidur, masih tetap jaga. Bukan saja tubuh jadi letih, tapi juga dapur tubuh jadi kacau. Organ tubuh tidak pernah mengenal waktu beristirahat.

Kalau irama harian tubuh tidak tertib dilakoni, tubuh mungkin akan menjerit. Jeritan tubuh merupakan isyarat bahwa ada yang tidak beres dengan mesin tubuh kita. Janganlah ungkapan tubuh itu diabaikan. Pengabaian pada suara tubuh, berarti awal petaka penyakit, atau terganggunya fungsi tubuh.

Kalau merasa kantuk, jangan paksakan tetap bergadang. Bawalah tidur. Begitu pula kalau merasa lapar, ajaklah mengisi perut. Demikian pula kalau haus, letih, lesu, dan payah. Hanya bila kita mendengarkan suara tubuh, dan bijak merespons, tubuh akan terbebas dari keausan, dan kerusakan yang tak perlu.

Orang modern bukan saja tidak hirau pada suara tubuhnya sendiri. Mereka juga bersikap melawan ungkapan bahasa tubuhnya sendiri. Masih tetap makan meskipun tidak sedang merasa lapar. Kalau saja tetap memahami, bahwa ketika tidak merasa lapar tidak perlu makan, tidak akan tubuh sampai kelebihan berat. Hanya makan kalau sedang merasa lapar saja menjadi penuntun kita bijak kapan harus mengisi perut, dan kapan tak perlu makan.

Badan yang merasa lesu, letih, dan tak berdaya, merupakan isyarat tubuh sedang memerlukan istirahat. Mungkin sedang mau jatuh sakit. Obat terbaik untuk itu hanya membawanya istirahat, dan tidur. Tubuh yang meminta untuk tidur, jangan sampai dilawan.

Maka mari kita arif dalam mematuhi jadwal harian tubuh, bijak mendengarkan suara tubuh, dan memahami apa yang tubuh kehendaki. Hanya dengan demikian, kita memperlakukan tubuh dengan benar. Kado dari sikap hormat pada tubuh seperti itu, memberi kita peluang bukan saja umur yang lebih panjang, melainkan juga masih tetap sehat sampai tua atau healthy aging.***

* Pengasuh Rubrik Kesehatan di Sejumlah Media, Pengamat Kesehatan, Health Motivator, Penulis 76 Buku Kesehatan

Share artikel ini:

Artikel Terkait