6 Fakta Seputar Vaksin

355f4c888d3a3da12129d46a4c45051cde903f2c.jpeg

Mendengar nama vaksin, mungkin lumayan banyak orang yang tahu tentangnya. Folio dan campak menjadi vaksin yang mungkin dikenal luas di kalangan ibu-ibu. Vaksin jenis ini banyak diberikan pada anak-anak saat imunisasi. Tujuannya tak lain dan tak bukan untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Namun, tahukah Anda bahwa ada hal-hal yang banyak orang salah menduganya tentang vaksin ini?

Biar tidak penasaran, langsung simak fakta seputar vaksin berikut ini ya.

Banyak vaksin mengganggu kekebalan tubuh
Faktanya, vaksin memang tidak sepenuhnya bisa menghambat infeksi yang disebabkan oleh bakteri maupun virus. Dr. Paul Offit, kepala penyakit infeksi di rumah sakit anak Philadelphia, mengatakan kekebalan tubuh masing-masing anak berbeda. Ada yang kuat dan ada yang lemah. Paling tidak dengan melakukan imunisasi daya tahan tubuh anak menjadi lebih kuat dan bisa menghambat pertumbuhan virus dan bakteri dalam tubuh. Bahkan, dalam studinya, Dr. Paul menyatakan usai menjalani 100 kali imunisasi anak masih bisa tumbuh dengan sehat.

Anak tetap sehat tanpa imunisasi
Faktanya, tak ada jaminan pasti, si kecil bisa tumbuh sehat tanpa gangguan penyakit sama sekali. Sebaliknya, menurut Profesor Thomas Saari, MD, pakar ahli pediatri di University of Wisconsin Medical School Madison, menyampaikan tingkat kekebalan tubuh si kecil lebih tinggi daripada anak yang tak pernah diimunisasi.

Sudah tak banyak penyakit menular berbahaya, tak perlu vaksin
Faktanya, sekali lagi tak ada yang dapat menjamin penyakit hilang total. Dr. Thomas, menyatakan walau imunisasi sudah lebih banyak diterapkan, namun hal itu tak bisa membendung wabah penyakit yang kapan saja bisa terjadi. Vaksin tidak bersifat membunuh namun menghambat, sehingga jika proses imunisasi ini terputus beragam penyakit tersebut bisa saja akan menyerang kembali.

Vaksin menyebabkan autisme
Faktanya, tak ada bukti kuat yang bisa mendukung sangkaan itu. Dr. Paul menambahkan sudah ada 14 studi yang mengkaji tentang dampak vaksin dengan autis, tetapi tak pernah ada yang berhasil membuktikannya. Pembenaran serupa juga disampaikan oleh Kathryn Edwards, MD, pemerhati dan penggerak imunisasi Amerika, jika memang ada pengaruhnya, maka akan tampak paling lambat setahun usai proses imunisasi pertama.

Anak berisiko tertular virus dari vaksin
Faktanya, kasus kemunculan jenis penyakit baru akibat vaksin masih belum terbukti secara ilmiah ada. Vaksin memang dibuat dari antigen yang berupa galur virus atau bakteri yang sudah dilemahkan sebelumnya. Namun, hal ini tak sampai menimbulkan infeksi dalam tubuh, lantaran sudah melewati penelitian yang panjang. Hanya saja, untuk menyesuaikan dengan imunitas alami tubuh, antigen ini akan menimbulkan efek demam pasca imunisasi. Begitu yang disampaikan oleh Dr. Kathryn.

Vaksin mengandung pengawet berbahaya
Faktanya, pro dan kontra tentang vaksin tetap tak pernah membuat proses imunisasi terhenti. Hal yang membuat kontra terhadap vaksin ini karena adanya senyawa etil merkuri yang dapat mempengaruhi perkembangan otak anak dalam jumlah besar. Anggapan ini perlahan memudar setelah dibuktikan bahwa yang membahayakan bagi tubuh adalah metil merkuri bukan etil merkuri. Demikian yang disampaikan oleh Dr. Paul Offit yang juga direktur Vaccine Education Center di rumah sakit anak Philadelphia.

Semoga bermanfaat ya, Bu.