Efek Komunikasi Kita Dengan Pasangan

Meski setiap hari kita berkomunikasi dengan pasangan, tapi efeknya tidak selalu mempengaruhi jasmani dan rohani kita menjadi semakin sehat. Ini karena efek itu lebih banyak ditentukan oleh kualitas. Sebagai acuan, kualitas  itu dapat kita kelompokkan ke dalam tiga kategori besar di bawah ini:

  1. Komunikasi yang tidak sehat: Cirinya diwarnai persaingan, penghakiman atau permusuhan, baik secara batin atau fisik, saling melihat kelemahan, atau menuntut kesempurnaan.
  2. Komunikasi yang hambar atau acuh. Cirinya diwarnai rasa kurang peduli, tidak merasa butuh, tidak menganggap penting. 
  3. Komunikasi yang sehat dan harmonis. Cirinya antara lain: terbuka untuk membicarakan banyak hal, termasuk problem atau merealisasikan keinginan, saling mendengarkan, terjadinya tukar pendapat dan perasaan, serta rasa peduli.

Banyak kajian psikologi yang menyimpulkan bahwa penyebab yang paling sering atas terjadinya problem rumah tangga adalah komunikasi yang kurang baik, sehingga harapan untuk menjadikan “Rumahku Surgaku” menjadi pupus.

Padahal, kalau melihat hasil riset lain, seperti yang dikumpulkan Philip L. Rice, pakar psikologi dari Illionis University (1990), ternyata kualitas hubungan dengan pasangan, punya sumbangan terbesar terhadap kebahagian dan kepuasan hidup secara umum, melebihi kesuksesan karier atau pengakuan sosial.

Hampir tak seorang pun bermimpi punya kualitas komunikasi yang tidak sehat atau yang hambar. Tapi, kenyataan bisa berkata lain. Supaya ini tidak berlarut-larut, masih banyak hal yang bisa kita lakukan, yang tentunya tidak semudah membalik tangan. Ini antara lain:

  1. Mulai kita mengingat yang positif dari pasangan (mensyukuri keadaan)
  2. Mulai kita belajar menomersatukan tanggung jawab sebagai ayah-ibu, suami-istri, dan baru yang terakhir diri sendiri.
  3. Mulai kita melihat rejeki dan masalah adalah milik keluarga, bukan rejekiku atau masalahmu
  4. Mulai kita mentradisikan saling berdiskusi antara anggota keluarga yang bisa menghangatkan, mencairkan, atau mendekatkan hubungan, dari pembicaraan yang ringan sampai ke yang serius  
  5. Mulai kita melibatkan keimanan supaya tidak mudah frustasi berbuat baik hanya karena reaksi pasangan. Iman akan meyakinkan kita bahwa kebaikan itu pasti akan membuahkan kebaikan.

Kualitas komunikasi tidak semata ditentukan oleh kuantitasnya, tekniknya, atau triknya, meski itu penting. Justru yang paling mendasar adalah apa isi definisi dalam pikiran kita mengenai pasangan kita. Semakin negatif kita membangun definisi mengenai pasangan kita, akan punya pengaruh yang semakin negatif terhadap kualitas komunikasi kita. Semoga bermanfaat.

 

* lifeskill facilitator, penulis dan learning counselor

Share artikel ini:

Artikel Terkait