Kiat Bekerja di Kantor Selagi Hamil

Ternyata ada aturan kerja untuk ibu hamil. Tak perlu terlalu berpantang asal tahu batasannya. Apa saja?

Bekerja tak jarang menuntut aktivitas fisik bagi ibu hamil hingga bisa jadi masalah. Naik turun tangga, merapikan arsip di rak yang tinggi, berhadapan dengan komputer berjam-jam pun ternyata ada aturannya. Bisa dimaklumi, terjadi banyak perubahan pada ibu hamil, sendi lebih lentur, berat badan meningkat, dan pusat gravitasi tubuh berubah. Risiko jatuh atau kram jadi lebih tinggi.

Perubahan dinamika cairan dapat membuat ibu hamil mudah pusing, belum lagi kelelahan karena kehamilan, sehingga menurunkan toleransi aktivitas ibu. Konon, bekerja dalam lingkungan panas dan lembab juga bisa meningkatkan suhu tubuh ibu yang berpengaruh pada janin. Penelitian menunjukkan ibu hamil tua yang berolahraga selama 20 menit hingga denyut jantungnya 140 kali permenit mengeluh kontraksi rahim, tetapi ternyata tak mempengaruhi detak jantung janin.

Bekerja selama hamil
Olahraga atau bekerja tak perlu jadi pantangan selama sesuai dengan kekuatan fisik dan kehamilan sehat. Pekerjaan tertentu memang bisa meningkatkan risiko bayi lahir prematur atau aborsi spontan, misalnya berdiri terlalu lama atau bekerja terlalu berat. Memanjat memakai alat, kursi, tangga, terutama tanpa pegangan tangan atau sandaran tubuh juga bisa menyebabkan ibu jatuh atau terluka karena posisi badan tidak seimbang. Sebuah survei melaporkan 60 % ibu hamil merasa tak nyaman dengan kondisi kerjanya. Sebagian besar mengeluhkan tak nyaman karena postur tubuh yang tidak sesuai, jam kerja yang panjang, adanya shift kerja, suasana kerja berisik, adanya getaran, atau bekerja di depan komputer lebih dari empat jam.

Memang belum ada ketentuan baku yang mengatur ibu hamil bekerja. Di beberapa negara, Misalnya Amerika, anggota militer hamil tak boleh mengikuti latihan berat, berdiri saat upacara, latihan di lapangan apabila ia mual, lelah, atau mudah pusing. Saat trimester terakhir, mereka diijinkan istirahat mengangkat kaki di kursi selama 20 menit tiap 4 jam dengan jam kerja perminggu tak melebihi 40 jam. Juga tak ditugaskan untuk melakukan perjalanan lebih dari 24 jam.

Di Jepang, Japan institute of workers¡¯ evolution (1997) telah memiliki rekomendasi ibu hamil yang bekerja. Salah satunya ibu hamil dengan kaki bengkak akibat kerja hingga mempengaruhi kesehatan ibu atau janin diperkenankan memodifikasi jam kerja, misalnya mengurangi jam kerja atau jam masuk yang lebih fleksibel.

Menciptakan tempat kerja yang nyaman dan bersahabat untuk ibu hamil selain menguntungkan untuk si ibu juga untuk perusahaan.

Rekomendasi American Medical Association on Job Physical Demands selama kehamilan

Jenis Pekerjaan Kerja Repetitif
Maks.
Kerja Intermiten Usia Kehamilan
(Minggu)
Berdiri > 4 Jam/Shift   24
    > 30 mnt/jam 32
    < 30 mnt/jam 40
       
Membungkuk/melengkungkan badan > 10 kali/Jam   20
    2-10 kali/jam 28
    < 2 kali/jam 40
       
Naik Tangga >= 4 kali/8jam   28
    < 4 kali/jam 40
       
Mengankat Benda > 23 kg   20
  11 - 23 kg   24
  < 11 kg   40
    > 23 kg 30
    11 - 23 kg 40
    < 11kg 40


* repetitif: terus menerus dan berulang
* intermiten: parsial, diselingi dengan aktifitas lain

Kapan pertimbangan waktu untuk ambil cuti atau memodifikasi kerja saat hamil?

 

  • Jika pekerjaan membutuhkan berdiri dalam jangka lama, dianjurkan mengambil cuti paling cepat usia 24 minggu atau memodifikasi kerja. Kapan tepatnya tergantung dari kondisi, berapa jam harus berdiri, berapa lama bisa istirahat dan sesuai kondisi kesehatan.
  • Membungkukkan atau melengkungkan badan di bawah lutut dapat menjadi masalah. Jika ini menjadi bagian dari pekerjaan, pertimbangkan cuti atau modifikasi kerja paling cepat usia 20 minggu kehamilan.
  • Jika naik turun tangga menjadi bagian kerja, disarankan cuti paling cepat pada usia kehamilan 20-28 minggu tergantung kondisi kesehatan.
  • Jika mengangkat benda berat adalah bagian pekerjaan Anda, pertimbangkan untuk ambil cuti secepatnya pada kehamilan 20 minggu

Faktor risiko lain adalah suasana panas berlebihan dan kerja berat. Apabila pekerjaan mengharuskan berhadapan dengan zat kimia, gas, debu, asap, radiasi, dan penyakit infeksi, diskusikan dengan dokter kapan sebaiknya mengambil cuti. Pertimbangkanlah berapa lama "tahan" bekerja, stres dalam pekerjaan, dan kemampuan untuk menangani tanggung jawab lain di rumah.

 

Tips:
Kerja oke, hamil oke

  • Bicarakan pada dokter tentang pekerjaan Anda. Tanyakan apa yang boleh dan tak boleh dilakukan dan efeknya pada kehamilan
  • Seringlah berganti-ganti posisi. Jika posisi duduk, senderkan kaki lebih tinggi dari biasanya. Berdirilah tiap dua jam selama 15 menit dan lakukan peregangan. Jika Anda banyak berdiri, istirahatkan kaki dengan cara berbaring atau meluruskannya tiap rehat kopi atau makan siang.
  • Cukupi kebutuhan gizi dan energi untuk "berdua" (anda dan bayi), Pilih camilan sehat seperti yogurt dengan biskuit, buah, keju, atau crackers.
  • Perbanyak minum air. Kehamilan menuntut cairan lebih. Hindari kopi, teh, atau soda.
  • Waspadai tanda dan gejala bila terjadi masalah kehamilan Anda (misalnya sering terjadi kontraksi) hingga Anda bisa menilai kapan aktivitas harus dibatasi
  • Jika pernah ada masalah kehamilan (misalnya perdarahan), mungkin perlu dilakukan modifikasi kerja. Pembatasan aktifitas setelah usia kehamilan 24 minggu sering dibutuhkan pada ibu hamil kembar.

Referensi

  • Nesbitt T. Ergonomic Exposures. In: Frazier LM, Hage ML. Reproductive Hazards of the workplace. Ch 19. John Wiley & Son, Inc. USA. 1998. P431-5
  • Japan Institute of Workers’ Evolution. Laws and guidelines: Guidelines Concerning Measures to be Taken by Employers in Order that Pregnant and Postpartum Women Workers May Follow Guidance Based on Health Guidance or Medical Examinations. Ministry of Labour Notice No. 105 Sept 25 1997.
  • University of Michigan health system. Working during pregnancy. 2005.
  • Dabrowska M, W Hanke, Wlodarczyk R, Wlodarczyk K, Sobala. Working condition of pregnant women. Departures from regulation on occupations especially noxious or hazardous to women. Med Pr. 2003;54(1):33-43

 

Share artikel ini:

Artikel Terkait