©shutterstock

Mabuk Kepayang, Perhatikan Konsumsinya!

Indonesia dikenal akan kekayaan rempah yang mempunyai banyak manfaat baik untuk kesehatan maupun memperkaya citarasa kulinernya. Salah satu rempah yang umum digunakan oleh masyarakat adalah Keluwek, Keluak atau Kepayang. Selain menjadi bumbu dapur, rempah ini juga punya banyak manfaat sekaligus kekurangan.

Pohon dan buah ini punya banyak nama seperti Kepayang (Melayu dan Jawa), Kluwek (Jawa), Picung (Sunda), Pucung (Betawi), Lunglai atau Kalawak (Banjar), dan Panarassan (toraja). Dalam bahasa Inggris, juga dikenal sebagai false durian karena buahnya yang berbau tajam mirip buah durian atau football fruit karena bentuknya yang mirip bola American Football. Sedangkan untuk nama latinnya, kepayang disebut Pangium edule.

Kandungan biji kluwek atau kepayang cukup lengkap, yaitu vitamin C, zat besi, betakaroten, asam hidnokarpat, asam khaulmograt, asam glorat, dan tannin. Berbagai kandungan zat tersebut menjadikan kepayang sebagai tanaman kaya manfaat. Kayunya cukup kuat untuk dijadikan perabotan dan bahan korek api, serta menjadi salah satu pohon pelindung di daerah aliran sungai untuk mencegah erosi maupun longsor. Daunnya dapat diolah menjadi obat penyakit cacing, sedangkan bijinya digunakan sebagai antiseptik, penghilang kutu, bumbu dapur, dan bahan pengawet. Untuk 50 kg tangkapan ikan, lumurkan campuran 1 kg biji kluwek yang telah dicacah dengan 1 kg garam, kemudian simpan dalam ember plastik tertutup. Asam sianida pada biji kluwak dapat mengawetkan ikan selama 6 hari. Selain rawon, biji kepayang juga digunakan sebagai bumbu dapur untuk pembuatan brongkos dan sup konro.

Bijinya dalam keadaan mentah sangat beracun karena mengandung asam sianida dalam konsentrasi tinggi. Jika dimakan dalam jumlah berlebihan menyebabkan pusing atau mabuk. Oleh masyarakat tradisional, racun pada biji ini dapat dipakai untuk berburu, dengan mengoleskannya di mata panah. Untuk menghilangkan kandungan asam sianida, buah kluwek atau kepayang yang telah matang dan jatuh dari pohon akan dikumpulkan dalam 1 karung dan dibiarkan basah oleh air hujan atau direndam dalam air selama 10-14 hari.  Kulit dan sabutnya lebih mudah dikupas dan juga dapat menghilangkan asam sianida yang terdapat pada bijinya.

Untuk memilih kluwek yang aman untuk diolah, perhatikan tanda-tanda seperti batoknya tidak berjamur, bila dikocok akan terasa berat, daging kluwek berwarna hitam pekat, dan hindari membeli yang rasanya pahit. Tidak perlu khawatir lagi menggunakan kluwek atau kepayang dalam masakan Anda, perhatikan tanda-tandanya dan gunakan sesuai kebutuhan ya.

Share artikel ini:

Artikel Terkait