Menjaga Makanan Sehat Saat Libur

Kebutuhan tubuh akan makanan tidak berubah karena musim atau aktivitas. Begitu pula ketika kita sedang libur. Namun selama liburan seringkali pola kegiatan kita berubah, sehingga apa yang dikonsumsi menjadi ikut berubah. Hal yang sama terjadi apabila melakukan perjalanan ke luar negeri. Bukan saja berubah jadwal makannya, jenis menu pun belum tentu sama dengan yang biasa dikonsumsi di rumah.

Tubuh kita, siapa pun, berapa pun umur, dan jenis pekerjaannya, membutuhkan sejumlah nutrien atau zat gizi. Kalau dihitung lebih dari 40 jenis zat gizi yang kita butuhkan dan harus selalu lengkap agar mesin tubuh berputar lancar dan normal.

Di antara ke 40 jenis zat gizi itu, sebagian bersifat esensial, artinya tubuh tidak bisa memproduksinya sendiri, sehingga harus didapatkan dari menu makanan yang dikonsumsi setiap hari. Apabila kekurangan zat gizi esensial ini, baik berupa asam amino pembentuk protein, asam lemak, atau mineral, akan mengganggu fungsi organ-organ tubuh.

Menu di luar rumah
Tentu saja menu yang tersedia di luar rumah tidak selalu bisa sama dengan jenis menu harian yang ada dirumah. Selain tidak sama jenis menunya, cita rasanya pun pasti berbeda. Pada kondisi demikian, asupan kalori maupun keaneka-ragaman zat gizi akan beresiko tidak dapat mencukupi kebutuhan tubuh karena makan hanya pada waktu tertentu dan terbatas, terutama selama berwisata.

Kita memaklumi bahwa menu di luar rumah belum tentu menyehatkan dibandingkan dengan menu buatan di rumah sendiri. Selain bahan bakunya belum tentu segar karena disimpan lama, cara mengolahnya pun umumnya berlebihan, baik dalam hal suhu panas dan lama memasaknya, maupun bumbu yang dipakai. Ditambah lagi porsi minyak goreng, tambahan gula, penyedap, dan garam dapur yang digunakan, seperti yang banyak terdapat pada menu junk food dan fast food. Sebaiknya menu di luar rumah bukan merupakan menu pilihan keluarga.

Ada beberapa zat kimiawi berbahaya yang biasa dipakai oleh industri makanan. Sebagian zat kimiawi tersebut tidak diperkenankan dikonsumsi oleh manusia. Sebagai contoh, pewarna tekstil (rhodamine B, methylene yellow), dan formalin (pengawet mayat) yang sering dipakai dalam pembuatan tahu, mie, dan pengawet ikan.

Seringkali dalam keadaan darurat, kita mengonsumsi jenis menu di atas, namun jika terlalu sering dapat menjadi salah satu penyebab timbulnya masalah kesehatan antara lain kegemukan, kolesterol tinggi, diabetes dan “kekurangan gizi” tertentu seperti anemia.

Seseorang dapat beresiko terkena penyakit dan kegemukan jika menu hariannya tidak seimbang untuk jangka waktu lama. Sebaliknya, resiko ‘kekurangan gizi’ dapat terjadi apabila menu hariannya sudah kehilangan sebagian kandungan gizinya, biasanya disebabkan oleh salahnya proses pengolahan, penyimpanan bahan baku, serta penggunaan bahan kimia berbahaya seperti pestisida. Oleh karena itu sebaiknya tidak mengupas atau memotong sayur & buah sebelum mencuci dan mengguyurnya dibawah air mengalir. Hal ini penting dilakukan untuk memperkecil resiko masuknya pestisida dalam sayur/buah, karena kulit/lapisan luarnya membantu melindungi masuknya cemaran berbahaya.

Kesehatan ada di dapur, bukan di restoran
Tentu saja hal ini tidak mudah diupayakan apabila sedang berada di luar negeri. Sebaiknya tetap memilih jenis makanan yang lebih alami, dan bukan olahan. Jika ada bahan makanan yang terbuat dari gandum utuh (whole grain), pilihlah itu. Lebih memilih sereal daripada roti, karena sereal lebih alami, termasuk kacang-kacangan dan umbi-umbian. Membawa penanak nasi (rice cooker) menjadi satu cara untuk dapat memenuhi kebutuhan nasi, atau dengan merebus kacang, pisang, atau ubi.

Untuk dapat tetap hidup sehat memang memerlukan pengorbanan dan sedikit repot. Tetap teguh memilih jenis makanan yang memihak pada pola dan gaya hidup sehat. Kekeliruan dapat saja terjadi, lantaran tidak tepat memilih pola dan gaya hidup. Selama ada umbi-umbian rebus, sebaiknya menolak donat.

Maka selama perjalanan atau liburan ke luar kota atau ke luar negeri, perlu diupayakan bagaimana caranya agar keluarga masih tetap memperoleh jenis menu yang biasa atau paling tidak mendekati yang dimakan di rumah. Terlebih jika perjalanan itu, berminggu-minggu bahkan berbulan - bulan.

Untuk bisa mendapatkan menu harian seperti di rumah sendiri, dapat dilakukan misalnya dengan membawa rice cooker, bumbu-bumbu instant dan juga makanan yang tahan lama seperti telur asin, abon, gepukan (empal), dendeng, ikan teri atau goreng kentang bawang. Pilih merk yang sudah terdaftar di Badan POM atau lebih baik lagi jika dapat membuatnya sendiri. Untuk buah dan sayur mayur dapat dibeli di tempat tujuan wisata, sehingga dapat memperoleh buah-buahan dan sayur mayur dalam kondisi yang masih segar.

Pertimbangkan aturan dan budaya setempat jika hendak berlibur ke luar negeri, apakah boleh membawa daging, unggas, telur bahkan buah dan sayur segar. Namun beberapa ada yang masih memperbolehkan membawa makanan apabila masih dalam kemasan pabrik (resmi) dan tertutup. 

Selain itu jangan lupa memperhatikan masalah pencernaan, sembelit sering kali dialami selama perjalanan wisata yang biasanya disebabkan oleh kekurangan makanan berserat dan air minum, karena itu perlu tambahan serat (fiber), atau minum yoghurt, dan bila perlu mengonsumsi suplemen multivitamin.***

* Pengasuh Rubrik Kesehatan di Sejumlah Media, Pengamat Kesehatan, Health Motivator, Penulis 76 Buku Kesehatan

Share artikel ini:

Artikel Terkait