Resistensi antibiotik, berbahayakah?

Ketika obat ajaib bernama penisilin digunakan selama Perang Dunia II, seluruh dunia bersukacita. Inilah solusi untuk luka yang terinfeksi. Tetapi 4 tahun setelah obat dewa itu diproduksi massal, ternyata muncul masalah baru. Penisilin tak lagi mampu mengatasi semua luka terinfeksi. Muncullah masalah besar bernama resistensi obat yaitu kuman dalam tubuh tak mempan lagi dengan obat tertentu.

Apa itu resistensi obat?
Resistensi obat adalah keadaan di mana kuman tidak dapat lagi dibunuh dengan antibiotik. Pada saat antibiotik diberikan, sejumlah kuman akan mati. Tapi kemudian terjadi mutasi pada gen kuman sehingga ia dapat bertahan dari serangan antibiotik tersebut. Kuman yang tidak bisa bertahan dari serangan antibiotik akan mati, tapi kuman yang mengalami mutasi akan bertahan dan hidup. Kuman ini lalu membelah dengan cepat dan terbentuklah jutaan koloni kuman yang mampu melawan antibiotik tersebut. Bila nanti kumpulan kuman ini menginfeksi individu lain, maka antibiotik tersebut tak akan mampu mengatasi infeksi tersebut.

Apakah resistensi obat itu masalah besar?
Ya. Resistensi obat menyebabkan semakin sedikit pilihan obat yang dapat dipakai untuk mengobati infeksi. Semakin sering antibiotik digunakan, semakin cepat resistensi timbul. Infeksi yang tadinya dapat ditangani dengan mudah, namun karena antibiotik yang biasa tidak lagi bisa mengatasinya, maka infeksi menjadi sulit ditangani. Contohnya, beberapa tahun setelah penggunaan penisilin secara massal, kuman Staphylococcus aureus merupakan salah satu yang mengalami resisten. Bakteri ini merupakan bagian dari mikroflora yang hidup di kulit manusia. Sekarang, sebagian besar Staphylococcus aureus resisten terhadap banyak antibiotik dan infeksinya menjadi sulit ditangani.

Bagaimana jika antibiotik saya tidak bekerja?
Jika infeksi Anda tidak membaik dengan antibiotik, ada kemungkinan infeksi tersebut bukan disebabkan oleh bakteri. Infeksi virus, jamur, atau parasit tentu membutuhkan pengobatan yang berbeda. Namun jika dokter yakin bahwa penyakit tersebut disebabkan oleh infeksi, maka ia akan memberikan (keturunan) antibiotik lain yang merupakan lini kedua.

Setiap antibiotik yang diberikan oleh dokter harus diminum sampai habis. Bila Anda diberi obat selama 7 hari, namun pada hari ketiga sudah merasa lebih baik, Anda tetap perlu menghabiskan obat tersebut. Bila Anda menghentikannya, akan ada sejumlah kuman yang belum terbunuh yang akan menjadi resisten.

Jadi tidak semua infeksi memerlukan antibiotik?
Tidak. Beberapa infeksi seperti selesma atau common cold, nyeri tenggorok sebagian besar disebabkan oleh virus. Penyakit ini akan sembuh sendiri dan dikalahkan oleh sistem imun tubuh. Penyembuhan akan memerlukan waktu beberapa hari dan selama fase itu, kita hanya perlu beristirahat dan memberi kesempatan pada sistem imun kita untuk melawan infeksi tersebut. Berkonsultasilah dengan dokter sebelum Anda mengonsumsi antibiotik.

Bagaimana mencegah resistensi itu?
Resistensi obat akan terus berjalan seiring dengan penggunaan antibiotik, namun lajunya dapat kita perlambat.

  • Minumlah antibiotik hanya bila Anda memerlukannya dan bila diberi oleh dokter.
  • Minumlah antibiotik sampai habis sesuai petunjuk dokter. Jangan menghentikannya di tengah-tengah hanya karena Anda merasa sudah baikan.
  • Janganlah minum antibiotik orang lain hanya karena Anda merasa penyakit Anda sama dengan orang tersebut.
  • Janganlah membeli antibiotik sendiri untuk flu dan common cold, dan nyeri tenggorok. Penyakit ini biasanya disebabkan oleh virus.
  • Cucilah tangan untuk menghindari penularan penyakit infeksi.

Share artikel ini:

Artikel Terkait