Jalan Cepat Bikin Sehat

Ada banyak cara untuk menjadi sehat. Satu yang tidak boleh luput menjadi pilihan adalah   jalan cepat. Untuk menjadi sehat, tak perlu memilih olah raga sulit apalagi yang membutuhkan biaya tinggi. Sebuah pilihan yang murah, mudah, dan cepat dapat kita lakukan. Modalnya cuma niat untuk sehat.

YANG menggagas jalan cepat menyehatkan itu Copper, penemu Aerobiks. Bahwa hanya dengan jalan tergopoh-gopoh, dia menyebutnya brisk walking, kebugaran tubuh dapat kita miliki. Berbeda dengan jalan santai. Jalan santai hanya melenturkan persendian dan otot, tidak melatih ketahanan jantung, dan paru-paru.

 

Bukan cari keringat

Melakukan jalan cepat yang benar tidaklah sulit. Tak perlu ada cara khusus untuk melakukannya. Cukup dengan berupaya melangkahkan tungkai selaju kita mampu. Syukur kalau bisa mencapai kelajuan sekitar 6 km/jam, atau 100 Meter per menit, lalu hitung berapa denyut jantung.

Dengan melakukan upaya optimal jalan sekencang kita bisa, zona aerobik umumnya bisa tercapai. Apabila denyut jantung per menitnya sudah meraih sejumlah 60 persen dari 220 dikurangi umur kita, itulah zona terendah yang sudah teraih. Ambil contoh, yang berumur 40 tahun, sudah mencapai zona aerobik bila denyut jantungnya sudah meraih 60/100 x (220-40) atau 118 denyut/menit. Pertahankan zona aerobik itu selama berkegiatan fisik. Lakukan 6 hari seminggu, sekitar 45-50 menit seharinya.

Betul, berolah raga memang tak hanya dengan jalan cepat. Apa pun pilihan kegiatan olah raganya, yang penting zona aerobik-nya teraih. Seperti berenang, bersepeda, atau pilihan lainnya yang sesuai dengan minat kita.

Perlu kita pahami bahwa berkeringat bukanlah parameter bahwa latihan fisik tersebut dinilai menyehatkan, melankan apakah zona aerobiknya tercapai. Jantung berdebar, napas tersengal, dan bicara terbata-bata itulah patokan kalau latihan fisik kita mungkin sudah memasuki zona aerobik.

Jenis olah raga ini perlu menjadi catatan bagi yang bermasalah dengan jantung, dan atau paru-paru. Waspada juga pengidap darah tinggi, atau diabetes tak tekontrol. Perhatikan apabila memiliki penyakit menahun lain. Begitu merasakan nyeri dada, sesak napas, atau keduanya, maka langsung hentikan berkegiatan jalan cepat saat itu juga.

 

Tak perlu jogging

Copper juga yang mengatakan tak perlu jogging kalau jalan cepat sudah membuahkan aerobik. Aerobik sudah teraih cukup dengan jalan cepat, tak perlu memilih jogging apalagi berlari. Sedang jogging atau berlari menambah beban pikulan bagi sendi lutut. Maka tak perlu memilih jogging atau berlari kalau dengan pilihan itu lutut tercederai.

Setelah umur berkepala empat, kondisi persendian lutut makin menipis pada bagian tulang rawan sendinya, sementara minyak sendi sudah berkurang. Maka bobot tubuh yang harus dipikul oleh sendi lutut bisa mencederai permukaan sendi selama jogging, atau berlari. Kerusakan persendian lutut akibat masih melompat, meloncat, berlari, dan jogging, akan berlanjut menjadi encok sendi lutut (osteoarthritis).

Demikian pula walau masih belia, apabila memiliki masalah tulang punggung dan pinggang sebaiknya tidak memilih jalan cepat, apalagi jogging dan berlari. Ada alternatif pilihan lain yaitu berenang atau bersepeda.

Namun, pada jenis olah raga renang dan bersepeda, tubuh tidak mengalami tekanan tapak (weight bearing) yang dibutuhkan untuk melancarkan metabolisme kalsium. Setelah asupan kalsium yang cukup dan vitamin D yang memadai, tubuh  membutuhkan sinar matahari pagi dan weight bearing yang dapat kita capai melalui olahraga jalan cepat, untuk membatu kelancaran metabolisme kalsium dalam tubuh.  Yuk, mulai biasakan berolah raga jalan cepat !***

Share artikel ini:

Artikel Terkait