Kiat Mengkomunikasikan Perbedaan

Dari pengalaman sehari-hari, ternyata antara kita dan pasangan itu tidak saja berbeda dalam hal Pendekatan saat mendidik anak. Perbedaan juga terjadi dalam hal yang Prindsip, atau yang kita anggap sebagai prinsip. Supaya perbedaan itu tidak membebani anak, apa saja kiat yang bisa kita lakukan?

Jika perbedaan itu terkait dengan pendekatan (cara dan gaya), misalnya ibunya tegas tapi ayahnya lebih bersikap permisif (membolehkan), ini bisa dipandang positif, asalkan disadari kegunaannya. Anak akan merasakan perbedaan dan menjadi lebih kaya akan pengalaman. Inilah sinergi namanya: menyatunya dua perbedaan untuk satu tujuan. Kalau ayah dan ibunya sama-sama permisif, mungkin hanya enak bagi anak, tetapi tidak baik buat dia nanti.

Hanya, yang perlu kita lakukan adalah mengkomunikasikan perbedaan itu dengan bahasa yang memberi pengertian positif pada anak. Misalnya si ibu mengatakan bahwa ayahnya itu penyabar atau ayahnya mengatakan bahwa ibunya itu disiplin.

Bagaimana kalau perbedaan itu menyangkut prinsip atau dianggap prinsip? Misalnya, ayah ingin memasukkan sekolah berbasis agama, sementara si ibu tidak begitu. Bagi keduanya, ini sama-sama prinsip.  Sikap seperti apa yang bisa kita tunjukkan? Yang paling aman adalah membuka dialog dulu untuk  menimbang bobot kebaikannya bagi kepentingan dan kebutuhan anak serta nilai-nilai keluarga.

Mana yang lebih berpihak ke anak itulah yang mesti kita pilih. Atau juga menemukan alternatif ketiga yang bisa mengakomodasi kebutuhan anak dan prinsip ayahnya atau ibunya. Syarat untuk bisa menemukan alternatif ketiga ini adalah tujuannya harus jelas.  Apa tujuannya? Selama tujuannya sama, cara bisa berbeda ‘kan?

Untuk mengantisipasi perbedaan prinsip ini terjadi,  akan lebih bagus kalau dari awal sudah kita sepakati ruang lingkup tanggung jawab berdasarkan kompetensi. Kalau bapaknya yang lebih kompeten soal pendidikan, ibunya perlu mendukung. Begitu juga sebaliknya. Semua anak membutuhkan orangtua yang lebih mengurusi (care), bukan yang lebih banyak mengatur dengan kepentingannya (to dominate).

Dari semua itu, yang paling penting bukan bagaimana kita menyikapi perbedaan dengan pasangan. Bagi anak, yang paling penting adalah bagaimana hubungan kita dengan dia. Walaupun kita bisa harmonis mengatasi perbedaan di antara kita, tapi kalau hubungan kita dengan anak diwarnai ketidakharmonisan, maka tujuan belum tercapai secara optimal. Semoga ini selalu mengingatkan kita.

Share artikel ini:

Artikel Terkait