Lebih Jauh Mengenal Rahasia Pelukan

26c72bdf57a57cd0edc8d5846a6e480292654dbd.jpeg

Kalau kita amati, ternyata pelukan adalah praktek yang diajarkan oleh naluri semua

manusia. Pelukan bukan tradisi yang terkait dengan suatu bangsa, suku, atau kelompok tertentu.

Semua manusia diajari oleh nalurinya untuk melakukan pelukan ketika ingin menyampaikan sesuatu yang tidak sanggup ditampung oleh kata-kata. Anak kecil suka dipeluk ibunya dan semua ibu memiliki naluri untuk ingin sering-sering memeluk si anak. Bahkan hewan pun demikian. Orang dewasa yang saling terharu atau saling kangen, juga hampir pasti akan saling memeluk.

Sebetulnya, apa rahasia yang bisa dibongkar dari pelukan ini? Para ilmuan telah melakukan riset ilmiah untuk menjelaskan apa saja rahasia di balik pelukan.

Kalau melihat laporan hasil studi para ahli, ternyata selain pelukan itu dilakukan sebagai dorongan naluri untuk mengungkapkan kedekatan dan kasih sayang, ia juga sangat terkait dengan sejumlah hal penting pada manusia. Kelompok ilmuan dari Harvard University1 menyimpulkan bahwa pelukan itu penting bagi kesehatan dan perkembangan bayi, sepenting makanan dan minuman. Bahkan metode kangaroo care yang memanfaatkan sentuhan kulit Ibu dan bayinya dalam posisi dipeluk dapat membantu perkembangan bayi yang lahir prematur. Luar biasa bukan?

Riset lain yang pernah dilaporkan NewYork Times2, menyimpulkan bahwa pelukan pada bayi / anak-anak dapat mengembangkan kemampuan mengelola stress. Logisnya, jika kemampuannya  berkembang bagus, maka sikap dan perilakunya juga bagus.

 

Pelajar yang mendapatkan pelukan kasih sayang (supportive touch) dari gurunya, ternyata lebih bisa bekerjasama di kelas. Secara umum, para ilmuan menemukan ada hubungan yang sangat kuat antara pelukan dengan perkembangan emosi, psikologis dan ketahanan fisiknya.

 

Sebaliknya, apabila seorang anak kekurangan sentuhan dari orangtunya, akan memberikan efek negatif dalam proses perkembangannya. Laporan studi dari Universitas Alabama3 memberikan gambaran bahwa kurangnya sentuhan fisik orangtua dapat berpotensi menciptakan problem komunikasi, mudah depresi, mudah mengalami ‘eating disorder’, agresi, dan bahkan praktek melukai diri sendiri

 

Semua sentuhan dan kontak fisik antara bayi dan orangtuanya sangat penting bagi perkembangan. Dengan hanya menimang, mengelus, menggulingkan, dan menepuk bayi prematur selama 15 menit, empat kali sehari, itu akan sangat membantu kemampuan bayi dalam mengkoordinasi gerakan dan berarti membantu pula kemampuan belajarnya. Demikian kesimpulan Ruth Rice, dari Universitas Texas4.

 

Tak terkecuali bagi orang dewasa, misalnya bagi pasutri atau teamwork. Pada setiap praktek pelukan yang dilakukan akan menambah hormon kebahagiaan (oxytocin)5 . Ini bisa dibuktikan melalui munculnya rasa kedekatan dan ikatan emosi yang lebih kuat lagi. Ini juga sekaligus dapat mengurangi stress. Bahkan ilmuwan dari Universitas Berkeley6 menganalisis ada hubungan yang kuat antara kinerja team  dengan sentuhan fisik yang mereka lakukan. Tim basket yang bagus ternyata lebih ‘toucher’ di antara mereka.

 

Luar biasa bukan rahasianya?

 

Semoga bisa kita praktekkan di rumah.

 

Sumber bacaan:

 

1)       Of Hugs and Hormones, Lack of Touch Puts Kids Out of Touch, William J. Cromie, Harvard University Gazette, June 11, 1998

 

2)       The Experience of Touch: Research Points to a Critical Role, DANIEL GOLEMAN, www.nytimes.com / February 02, 1988

 

3)       Development and Validity Testing of a Measure of Touch Deprivation, lihat di: www.uab.edu/Communicationstudies/humancommunication/12_05_Carter_Wrench.

 

4)       Revolusi Belajar, Learning Revolution, Gordon Dryden, et.all, Kaifa Mizan, 2000

 

5)       How hugs can aid women's hearts / Health / 8 August 200 / bbc.co.uk /

 

6)       Evidence That Little Touches Do Mean So Much, BENEDICT CAREY / February 22, 2010 / http://www.nytimes.com/