Liberica Coffee

Sepertinya memang tujuan dari resto, tepatnya café memberikan nama Liberica Coffee, bukan resto juga café. Karena dari bentuk atau tampilan lebih mirip café dengan meja kecil dan beberapa set sofa, tamu juga harus memesan minuman dan membayar terlebih dahulu sebelum duduk. Tapi melihat menu hidangan seperti Lontong cap Gomeh, Lasagna sampai Tongseng, menempatkan Liberica ke dalam kategori restoran. Hal ini malah menjadi keunikan tersendiri pada pagi menjelang jam makan siang.

Berlokasi dilantai empat  Pacific Place, sangat strategis, apalagi musim hujan masih pada puncaknya. Aroma kopi seakan memanggil untuk dinikmati, secara dingin juga panas. Saya memesan dua hidangan untuk menemani secangkir kopi tubruk, tiramisu sebagai penutup yang juga hidangan khas Liberica. Hidangan pertama yang saya coba adalah Belgium Beef Stew, mirip semur dengan saus yang kental. Porsi hidangan didominasi potongan daging sapi berukuran sedang dan kentang, dengan beberapa wortel mini yang direbus. Saus a la Belgia menggunakan beer sebagai bahan hidangan, terasa pas tidak terlalu gurih ataupun manis. Hanya saja penggunaan piring kurang cocok karena tidak memberi tempat cukup untuk mengiris daging dengan mudah.

Makanan kedua adalah Laksa, kali ini penyajian menempatkannya didalam mangkok yang baik dan porsi yang ideal sebagai pilihan hidangan makan siang. Kuah Laksa terasa tidak terlalu kuat dengan santan yang lembut.  Dengan potongan daging ayam ditambah telur rebus, seakan mengusir suasana dingin akibat hujan. Ini adalah Laksa versi Malaysia tanpa udang. Sedikit mengambil waktu agar makanan menempati posisi baik dalam perut, kopi tubruk jadi selingan.

Liberica hanya menggunakan kopi asal Indonesia, termasuk salah satu andalan juga kopi termahal didunia: Kopi Luwak. Kopi tubruk tanpa tambahan gula, memberi sensasi pahit yang pas; kuncinya adalah bersabar agar bubuk kopi turun sehingga semua rasa kopi dapat dinikmati secara lengkap. Untuk Kopi Luwak, disajikan dengan metode siphon yang dikerjakan oleh seorang barista handal lengkap dengan timer untuk memberi hasil maksimal dari pencampuran air mendidih dan kopi. Dalam hitungan menit, proses pembuatan Kopi Luwak selesai, siap dinikmati tanpa ampas. Rasanya sulit diceritakan, tapi keunggulan kopi ini adalah, dari aroma yang tercium dan citarasa prima: halus, tidak terlalu kental dan sensasi yang menyenangkan cepat memenuhi rongga mulut dengan maksimal. Hanya saja karena Kopi Luwak cukup langka, harganya otomatis juga tinggi (Rp. 150.000). Tapi tidak ada salahnya mencoba salah satu keunikan khas dari negeri sendiri, untuk menjawab rasa penasaran Anda.

Ternyata Liberica juga memiliki beer yang diproduksi di Bali dan khusus tersedia ditempat ini. Dua jenis beer dengan rasa yang berbeda, dark wheat dan wheat (gandum); jenis pertama memberi rasa yang cukup kuat tapi tidak terlalu pahit dibanding wheat. Sebagai hidangan penutup sepiring tiramisu berhias taburan bubuk coklat yang memberi impresi sendok dan garpu, jadi nilai tambah; semoga rasanya juga seperti yang diharapkan. Tiramisu dengan tambahan minuman Baileys yaitu liquor rasa kopi, memang lezat. Tiap sendok memberi rasa khas keju mascarpone yang lembut dipadu rasa manis beraksen kopi, jadi penutup sesi makan siang yang baik.

Liberica sendiri belum lama beroperasi dan dengan menu andalan lain seperti hidangan Eropa & Asia, plus beberapa jenis anggur, akan jadi tempat yang menjawab kebutuhan lebih dari segelas atau secangkir kopi. Apakah Liberica yang berbunyi mirip dengan kebebasan (liberty) jadi ekspresi tepat untuk para tamu menentukan pilihan yang sesuai dengan keinginannya. Semoga benar.

 

 

Restaurant remarks:

Food/makanan             :         4/5

Value/harga makanan  :         2/5

Ambience/suasana      :         4/5

Service/layanan           :         4/5

Share artikel ini:

Artikel Terkait