vote

Makan Tiga Kali Porsi Berbeda, Mengapa?

Kodrat tubuh manusia butuh tiga kali makan dalam sehari.

  • Rate Artikel ini

Kodrat tubuh manusia butuh tiga kali makan dalam sehari. Lambung selesai mengosongkan diri dalam 3-4 jam, lalu menjadi kosong kembali setelah setiap 6 jam. Lambung yang sudah kosong perlu diisi kembali agar derajat keasaman yang diproduksinya tidak sampai merusak dinding lambungnya sendiri. Namun tidak sekadar jadwal tiga kali makan belaka, terlebih perlu berbeda porsinya. Mengapa?

KEBANYAKAN di antara kita mengabaikan sarapan, lebih lantaran tidak membiasakannya sejak awal. Sedangkan, jika kebiasaan tersebut dibentuk secara terlambat, karena bagi yang tidak terbiasa, sarapan dapat membuat perut terasa tidak nyaman. Maka, akan sangat rumit untuk membuat anak mengerti arti penting sarapan. Sehingga, nantinya kebiasaan buruk tersebut dapat berdampak vital bagi kesehatan anak seperti pada terganggunya pencernaan anak.

 

 

“Menu pangeran”

Lebih dari hanya sekedar mengisi perut, sarapan dibutuhkan agar tampil prima. Sehingga,penting diperhatikan menu sarapan, dan seberapa besar porsi idealnya. Melihat kegunaan sarapan bagi tubuh, sarapan perlu disusun sesuai kebutuhan tubuh.

Ibarat mobil hendak bepergian jauh, memerlukan cukup bensin, oli, dan minyak rem. Demikian pula dengan tubuh manusia, butuh karbohidrat sebagai bahan bakar untuk bergiat, selain lemak, dan protein juga, dalam takaran yang seimbang.

Kalau ketiga bahan utama dalam menu itu sebagai bahan bakar bagi mesin tubuh, olinya kita harus peroleh dari buah, sayur mayur, aneka kacang-kacangan, serta umbi-umbian, sehingga seluruh kebutuhan zat gizi tubuh terpenuhi. Jumlah zat gizi yang tubuh butuhkan sekitar 45 jenis. Sebagian dari jumlah tersebut harus diperoleh dari menu sarapan. Untuk itu sarapan perlu 4 sampai 5 macam. Tak cukup satu macam.

Betapa penting kualitas menu sarapan, sehingga sarapan dijuluki sebagai “menu pangeran” yang serba komplet dan memadai porsinya. Tiada lain agar mesin tubuh mampu berputar optimal selama jam berkarya.

Satu hal selayaknya kita tiru dari gaya hidup orang Amerika, yakni American Breakfast yangterdiri atas menu yang lengkap bervariasi. Demikian prestasi kerja yang mereka petik. Anak sekolah yang tidak mendahului hari berkaryanya dengan sarapan, bagaimana berharap optimal menangkap pelajaran. Begitu juga akan rendah kinerja orang bekerja kalau mengkonsumsi sarapan seadanya.

 

 

“Menu Raja” dan “Menu Pengemis”

Yang tubuh butuhkan untuk berkarya waktu siang hari tidak sebesar kebutuhan saat pagi hari, maka menu makan siang boleh tidak selengkap sarapan. Kita menjulukinya sebagai “menu raja”. Boleh lebih sedikit, dan tak perlu selengkap sarapan.

Demikian pula halnya menu malam hari, tidak diperlukan untuk berkarya, karena tubuh berada dalam kondisi istirahat. Kelebihan asupan menu malam hari justru menambah berat badan. Itu maka malam hari cukup sebagai “menu pengemis”, atau menu orang susah.

Yang acap terjadi justru kebalikannya. Kita lebih sering dan cenderung pesta makan malam. Kebiasaan tidak menyehatkan ini yang mengantarkan orang sekarang kelebihan berat badan.


Namun malam hari bukan berarti tidak perlu makan. Jadwal makan malam tetap perlu ada. Tubuh membutuhkan karbohidrat untuk metabolisme agar jantung tetap berdegup, pernapasan berlangsung, serta fungsi otonom organ tubuh lainnya. Kekurangan karbohidrat sepanjang tidur malam juga tidak menyehatkan. Terlebih bagi yang sudah mengidap gangguan lambung tentu kantung nasi mengalami kekosongan lebih dari 8 jam selama tidur malam, dan itu tidak menyehatkan. ***