Mau Pilih Menjadi Pekerja atau Pengusaha?

Jujur saja, pertanyaan di atas sebetulnya agak naif. Kenapa? Pada prakteknya kita tidak bisa menentukan pilihan itu hanya berdasarkan keinginan semata. Lebih-lebih keinginan mulut (asbun/ asal ngomong), atau fantasi dan ilusi.

Pilihan itu hanya bisa dijawab dengan keinginan yang akurat. Maksudnya, keinginan itu sudah kita pertimbangkan alasannya, alatnya, sumber dayanya, sasarannya, kelayakannya, dan seterusnya.

Kalau hanya berdasarkan keinginan yang asbun, pasti kita akan memilih yang enak-enak saja, berdasarkan pandangan yang dangkal akan kenyataan. Misalnya, kita pasti akan memilih jadi pengusaha yang kaya raya, terhormat, dan masuk surga nantinya.

Padahal dalam kenyataannya, mau menjadi pengusaha atau pekerja, masing-masing punya plus-minus tersendiri, yang semuanya tinggal kita sesuaikan berdasarkan keadaan kita, baik internal atau eksternal.

Menjadi pekerja memang punya keterikatan, sementara menjadi pengusaha itu punya kebebasan. Tetapi jangan lupa, semakin besar kebebasan yang kita peroleh, akan semakin besar pula risiko yang harus kita tanggung.

Enaknya jadi pegawai, kalau perusahaan bangkrut, kita tinggal mengajukan surat lamaran. Tapi kalau pengusaha, tidak bisa begitu. Harus ada tanggungan hutang plus modal juga melayang.

Meski punya kebebasan, tapi menjadi pengusaha itu tidak punya kepastian income, terutama di awal-awal. Ini beda dengan pegawai. Di samping status sosial, kepastian income juga langsung didapatkan.

Intinya, baik pegawai atau pengusaha, keduanya harus menjalani takdir universal yang sama, yaitu: "Siapa yang bekerja lebih banyak, dengan modal yang lebih banyak, dan risiko yang lebih tinggi, maka hasilnya berpotensi lebih banyak, di samping juga ada potensi kerugian yang lebih besar"

Yang perlu kita jauhi adalah ikut-ikutan membangun pandangan yang mengkastakan seseorang berdasarkan pilihan profesinya. Misalnya, menjadi pengusaha itu lebih mulia dari pekerja. Atau sebaliknya. Ini bertentangan dengan kenyataan. Mulia dan tidaknya kita bukan soal status profesi, tetapi soal kualitas kita .

Atau juga kita punya pandangan yang dangkal. Misalnya, kita memilih jadi pengusaha karena sudah pasti pengusaha itu akan lebih kaya dari pegawai. Sekilas memang benar, tetapi prakteknya tidak begitu.

Kalau dikaitkan dengan profesi, kaya dan tidak kayanya seseorang terkait dengan keahlian, cara mendapatkan, dan izin Tuhan. Bukan soal pindah profesi atau kerjaan.

Misalnya saat ini kita dapat pesangon. Kalau kita kerja lagi, anak kita di rumah sedang membutuhkan kehadiran kita. Atas kebutuhan ini, kita memulai jadi pengusaha.

Dengan kata lain, mau pilih pengusaha atau pekerja, itu hak kita. Tapi, sebaiknya, pilihan itu perlu kita dasarkan pada keinginan yang akurat, keadaan kita (internal dan eksternal) atau berdasarkan kebutuhan perkembangan kita.

Semoga bermanfaat.

Share artikel ini:

Artikel Terkait