Membedakan Kebutuhan dan Keinginan Dalam Perencanaan

Mestinya, baik dalam perencanaan keuangan atau hal lainnya, kita harus membedakan mana yang kebutuhan dan mana yang keinginan. Ini agar hidup kita selamat dari kekurangan atau goncangan akibat mis-manajemen.

Katakanlah misalnya kita terlalu mengumbar keinginan ketika belanja. Apa yang terjadi? Seberapapun kita punya, pasti akan kekurangan. Jika ini terus berlanjut, akan ada saat dimana kita goncang karena krisis.

Dasar untuk mengetahui kebutuhan adalah fakta. Fakta adalah kenyataan yang sudah kita ketahui, misalnya kebutuhan belanja di rumah, kebutuhan sekolah anak-anak, atau kebutuhan transportasi.

Dalam konsep manajemennya, kebutuhan ini masih bisa dibedakan lagi menjadi dua. Ada kebutuhan penting dan mendesak, seperti biaya sekolah anak. Ada lagi kebutuhan yang penting tapi tidak mendesak, misalnya pengembangan karier.

Kebutuhan yang kedua ini biasa juga kita sebut keinginan. Meski kita harus memprioritaskan kebutuhan, tapi idealnya, kita juga perlu memenuhi keinginan. Tujuannya adalah agar hidup kita dinamis, selalu ada kemajuan dan perkembangan.

Coba kita bayangkan seandainya pikiran kita ini isinya hanya ada kebutuhan semata, apa yang terjadi? Pasti lama-lama kita seperti orang yang jiwanya terpendam ke dalam kenyataan. Padahal, mestinya, kita ini berjalan di atas kenyataan.

Hanya saja, keinginan ini memang bermacam-macam. Ada yang bentuknya aspirasi dan motivasi. Tapi, ada juga yang bentuknya ilusi dan fantasi (khayalan yang kurang berdasar). Malah ada yang hawa nafsu (kebablasan, tak tahu diri, dst).

Nah, seoptimal mungkin kita perlu menghindari keinginan yang ilusi dan fantasi, lebih-lebih hawa nafsu melainkan fokus kepada keinginan yang aspiratif atau motivasi.

Keinginan aspirasi dan motivasi ini bisa kita sebut sebagai kebutuhan yang penting tetapi tidak mendesak untuk hari ini, namun berguna sebagai proses perbaikan dan penyempurnaan, berdasarkan kapasitas kita.

Katakanlah misalnya kita merencanakan renovasi rumah, menyekolahkan anak ke luar negeri, mengambil program pengembangan spiritual, atau ingin mengambil kuliah lagi, dan lain-lain. Keinginan seperti ini akan menggerakkan kemajuan. Namun kembali lagi, dasar untuk mengetahui keinginan yang memotivasi dan menginspirasi adalah fakta. Fakta di sini adalah fakta tentang diri kita, kapasitas kita, nilai-nilai yang kita anut, tujuan kita, dan seterusnya.

Begitu kita menginginkan sesuatu karena iri akan orang lain, karena marah, atau karena “supaya kelihatan keren”, dan sejenisnya, maka di sini kita perlu hati-hati. Jangan-jangan itu ilusi kita, fantasi, atau hawa nafsu.

Memang, seperti kata orang, keinginan itu bisa menjadi sumber kemajuan dan bisa juga menjadi sumber penderitaan. Kuncinya adalah kontrol diri dan pengetahuan tentang diri sendiri.

Semoga bermanfaat.

Share artikel ini:

Artikel Terkait