Memilih Jalan Untuk Menyebarkan Virus Positif

Berhenti Bekerja dan Menjadi Ibu Rumah Tangga

Berhenti bekerja sudah menjadi keputusan Ligwina sebelum melahirkan anak pertamanya pada tahun 2002. Saat sedang menjalani aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga, Ligwina sempat mengutak-atik data keuangan keluarga dan mendapatkan sesuatu yang mengagetkan, “Saya menghitung, meski tidak berhenti menabung dengan nominal yang sudah ditetapkan, anak saya tetap bisa putus sekolah suatu hari nanti.”

Melihat kondisinya sendiri membuat Ligwina menyadari bahwa harus ada yang diubah. Ingin merasakan adanya perubahan, artinya harus mau berhadapan dengan proses belajarnya, “Saya tidak pernah menganggap remeh hal kecil seperti perencanaan keuangan. Contohnya, kalau kita bisa mengelola penghasilan kita saja, hasilnya pasti akan terlihat nanti.”

Ligwina mulai memikirkan kembali tentang ilmu keuangan yang sudah dipelajarinya saat menempuh pendidikan S1 di Curtin University, Perth, Australia. “Setiap orang tentu ingin membuat kehidupannya lebih baik lagi. Menjadi perencana keuangan adalah hal yang bisa saya lakukan karena memang sesudai dengan bidang saya. Dan saya ingin supaya orang lain juga mendapat manfaat yang sama.”

Dengan keyakinan akan jalan yang dipilihnya, sampai sekarang ia tidak pernah berhenti untuk semakin mendalami ilmu edukasi finansial. “Jalan yang saya tempuh sekarang ini pun bukan hal remeh yang didapatkan dengan otodidak. Ada ilmu khusus yang harus saya pelajari,” ujarnya.

Virus Positif Harus Disebarkan

Melalui bukunya ‘Untuk Indonesia Yang Kuat 100 Langkah Untuk Tidak Miskin’ Ligwina berkaca pada dirinya sendiri yang merupakan bagian dari golongan menengah Indonesia. Bisa hidup enak, makan enak, mampu untuk liburan, namun selalu dihantui dengan pikiran, ‘kalau besok lusa saya kehilangan pekerjaan, saya pasti jatuh miskin’. “Jika kaum mayoritas ini benar-benar sadar akan kondisinya, tentu akan banyak sekali keluarga-keluarga di Indonesia yang terbantu.”

Dengan menyebarkan virus mengelola keuangan ini, Ligwina yakin keluarga Indonesia sanggup punya rumah sendiri, mempunyai dana darurat, bisa menyekolahkan anak, siap liburan tanpa berhutang, juga menyiapkan pensiun, dan siap membantu orang sekitarnya. “Saya merasakan perubahan keuangan yang besar sejak menyadari betapa pentingnya memiliki rencana keuangan. Tahun 2001, dengan pekerjaan yang mapan dan jumlah gaji yang tidak sedikit, saya dan suami tidak mempunyai tabungan. Sekarang, perjuangan selama bertahun-tahun mulai terasa dan investasi bulanan itu sudah menjadi suatu kebiasaan,” ujar Ligwina.

Bahkan untuk ketiga anaknya, Ligwina dan Dondi juga selalu menunjukkan perlunya bekerja keras sebelum bisa membeli sesuatu. “Bahkan mereka sudah bisa berkomentar ‘We're not rich, but we're not poor. We are in the middle!’,” ceritanya.

Seorang Istri, Ibu, dan Panutan Masyarakat

Ligwina sadar betul akan perannya sebagai seorang istri. Dimana perempuan mendapat tanggung jawab besar untuk mengelola uang keluarga. “Saya miss bossy. Suami saya pun bukan orang yang suka memikirkan hal detail. Saya yang mengurus semua pemasukan dan pengeluaran. Setiap rumah tangga tentu mempunyai sistem masing-masing, namun itulah yang berlaku di rumah tangga saya dan Mas Dondi,” jelas Ligwina.

Pengaturan semacam ini mungkin biasa dilakukan oleh banyak keluarga lainnya, namun yang tidak biasa adalah keterbukaan diantara Ligwina dan suaminya, “Kami terbuka sampai ke status kepemilikan harta dan hutang, sampai siapa yang akan menjadi wali dari anak-anak dan pembagian warisan jika salah satu atau kami berdua meninggal dunia.”

“Saya seorang CEO di kantor, narasumber di media, pembicara di seminar, punya lebih dari 100.000 followers di Twitter. Tapi di rumah, semua pekerjaan dan posisi itu saya tinggalkan di 'tempat'-nya masing-masing. Sampai di rumah saya seorang istri dari Dondi Hananto, ibu dari Azra, Dena dan Demi, tegas Ligwina.

Dukungan Berharga dari Suami

“Saya bisa seperti sekarang karena saya mempunyai suami yang tidak mudah terintimidasi dengan keadaan istrinya yang aktif dan ambisius ini,” aku Ligwina. Niatan Ligwina untuk menjadi perencana keuangan independen pun terlaksana berkat dukungan suami.

Dondi Hananto diakui Ligwina sebagai orang yang sangat santai dan sama sekali tidak merasa terancam, terutama dengan segala pencapaiannya saat ini. “Buat Mas Dondi, saya ini bukan Ligwina Hananto. Saya ‘hanya’ perempuan kecil cerewet yang sudah dikenalnya sejak umur 17 tahun.”

My Life is About Learning

Saya selalu menjadi sponge yang siap menyerap ilmu baru, belajar hal baru lagi, dari semua orang yang saya temui setiap hari. Saya tidak pernah memposisikan diri sebagai expert. Dengan cara ini, saya merasa ada sesuatu yang baru setiap hari.

“Keluarga ini bukan hanya tentang saya dan Mas Dondi, kami punya Azra (11), Dena (8) dan Demi (1) yang selalu kami tanamkan nilai iman Islam, kemandirian dan freewill. Nilai-nilai tersebut tentu tidak bisa kami paksakan pada anak-anak, yang bisa saya lakukan adalah menunjukkan contoh yang baik pada mereka. Saat anak-anak melihat contoh dan ternyata kegiatan ini asyik buat mereka, tentu mereka akan melakukannya dengan sepenuh hati.”

Khusus untuk Dena dan Demi Ligwina mempunyai pesan, “Tahu apa yang lebih penting dari wajah cantik? Hati yang cantik!"

Share artikel ini:

Artikel Terkait