Memposisikan Tubuh Yang Tepat Demi Kesehatan

Sebagian besar gangguan persendian dan otot sering terjadi karena kita tidak memposisikan tubuh dengan tepat. Sikap tubuh saat duduk, berdiri, melakukan suatu pekerjaan, mengangkat barang berat, berkendaraan, menyandang tas maupun tidur yang tidak tepat akan berdampak buruk terhadap kesehatan.

KITA tidak pernah diajarkan bagaimana cara yang tepat dan benar memposisikan tubuh kita. Anak gadis yang baru berangkat dewasa cenderung membungkukkan punggungnya lantaran rasa risih dengan payudaranya yang baru membesar. Kesengajaan tidak membusungkan dada untuk waktu lama tentu tidak menyehatkan perkembangan tulang punggung. Begitu juga bila terlalu membungkuk saat duduk dan menulis.

Banyak orang yang terbiasa duduk miring saat menyetir atau duduk di depan komputer dengan posisi lengan tidak sejajar dengan tinggi meja, atau menyapu yang gagangnya sangat pendek sehingga harus membungkuk. Begitu juga saat menyetrika yang mejanya terlalu rendah, atau cara mengangkat barang berat dari atas lantai dengan posisi membungkuk. Semua itu sikap tubuh yang tidak menyehatkan kalau dilakukan terus-menerus.

Ergonomics
Secara keilmuan, bagaimana tubuh diposisikan dalam setiap aktivitas harian, bukan saja menjaga kesehatan persendian, tulang-belulang, serta otot belaka, melainkan menjadikan tubuh tidak lekas lelah. Endurance atau ketahanan fisik selama beraktivitas bisa optimal jika sikap dan posisi tubuh diletakkan dengan benar secara medik. Ilmu itu dikenal sebagai ergonomics.

Maka perusahaan furnitur, serta peralatan rumah tangga yang profesional akan merancang segala keperluan aktivitas rumah tangga maupun kantor yang tetap mematuhi kaidah ergonomics. Bukan semata eloknya desain, melainkan apakah rancangannya sudah sesuai dengan kesehatan tubuh. Bukan sekadar bagusnya sebuah kursi, atau meja kerja, melainkan juga apakah rancangannya sudah tepat secara ilmu ergonomics.

Sudahkah kita perhatikan hal tersbut? Meja, kursi, dan segala peralatan bekerja yang dipilih tak sekadar ada dan bagus saja, tapi harus dilihat apakah sudah sesuai dengan kaidah ergonomics.

Keseimbangan bobot
Lekuk-lekuk tulang belakang manusia dirancang sedemikian rupa sehingga bukan saja membuatnya mampu memikul bobot tubuh, melainkan juga menahan beban berat yang dipikulnya dalam posisi berdiri tegak. Termasuk manakala harus mengangkat atau memikul barang berat. Namun bila tidak tepat memposisikan barang berat pada tubuh, bisa saja mengganggu bukan saja otot dan persendian yang menerimanya, melainkan juga bisa merusak struktur tubuh.

Bertahun-tahun memikul beban berat secara tidak seimbang kiri dan kanan, misalnya, bisa saja mengubah struktur tulang belakang menjadi miring ke salah satu sisi. Kondisi scoliosis didapat mungkin saja terjadi karena membebani tubuh pada suatu posisi yang tidak tepat.

Tas berat yang disandang di salah satu pundak untuk waktu lama dan berulang  juga bisa berisiko mengubah struktur tulang pundak, selain beban tambahan bagi otot-otot sekitar leher dan pundak sendiri. Berlangsungnya ketidakseimbangan bobot yang dipikul tubuh selalu di pihak yang tidak menyehatkan. Sama halnya kebiasaan duduk miring selama mengendarai mobil.

Keunggulan tas punggung
Cara menyandang tas berat di punggung masih lebih menyehatkan ketimbang menenteng, menjinjing, atau menaruhnya di salah satu sisi pundak. Selain masih menjadikan bobot tas seimbang antara sisi kiri dan kanan, lengkung tulang belakang (lordosis dan kyposis) masih bisa toleran dengan hadirnya beban tambahan. Risiko terjadinya scoliosis atau kemiringan struktur tulang belakang ke sisi kiri atau kanan masih dapat dicegah.

Lebih dari itu, konon, tas punggung (back pack) lahir dari kepedulian orang Jepang terhadap kesehatan anak sekolah. Dengan memilih memikul tas sekolah di punggung, selain lebih menyehatkan dibanding cara lain, selama memikul tasnya kedua tangan anak masih tetap bisa bebas memegang buku untuk dibaca. Dengan begitu, selama perjalanan berdiri di atas kereta api atau di bus, kedua tangannya masih memungkinkan untuk memegang buku yang dibacanya.

Membawa tas berat, termasuk tas sekolah dengan menjinjingnya, berarti bobotnya dibebankan hanya ke salah satu sisi tubuh saja. Kemiringan tubuh sewaktu menjinjing itulah yang dinilai tidak menyehatkan. Terlebih bagi pertumbuhan tulang-belulang anak pada usia pertumbuhan.

Menyandang tas dan koper berat sewaktu bepergian dengan pesawat terbang, menjadi momen tidak menyehatkan ketika harus mengangkatnya sendiri dari terminal ke pesawat. Kejadian serangan saraf terjepit (HNP, hernia nucleous pulposus) muncul pada saat ini. Nyeri punggung atau pinggang sehabis pulang berpesawat, hampir pasti ini penyebabnya. Beban menjinjing tas berat lebih berat ketimbang dengan cara memanggulnya di punggung.***

 

Share artikel ini:

Artikel Terkait