Mendorong Anak Supaya Menjadi Ekspresif Dan Asertif

Sebagian besar anak-anak memiliki model komunikasi yang agresif atau pasif. Jika kemauannya tidak dituruti, dia langsung mengekspresikan ungkapan, sikap atau tindakan yang agresif, misalnya membanting barang-barang atau mengucapkan kata-kata yang tidak baik.

Atau juga sebaliknya. Dia menempuh cara-cara yang pasif jika menghadapi kekuatan otoritas yang lebih kuat, misalnya ngambek, ogah-ogahan, atau lainnya, karena sang ayah tidak menyetujui permintaannya. Sampai kapan model komunikasi demikian akan mereda?

Kalau kita hanya menyerahkanya ke waktu atau umur, mungkin sampai dia masuk kuliah pun masih belum mereda secara signifikan. Waktu memang kita butuhkan, tetapi tidak bisa dipakai ukuran. Yang paling bisa dipakai ukuran adalah pendidikan, dari mulai rumah, sekolah, atau lingkungan sosial.

Untuk anak yang masih duduk di bangku SD, peranan keluarga masih sangat besar dalam mengarahkan cara hidupnya, termasuk cara bagaimana mengkomunikasikan keinginan, pendapat, atau bersikap. Diarahkannya kemana?

Acuan yang perlu kita jadikan standar adalah bagaimana dia tidak menjadi terlalu / selalu pasif atau terlalu / selalu agresif dengan mengarahkannya menjadi ekspresif dan asertif. Ekspresif artinya dia merasa aman dan nyaman mengekspresikan inisiatifnya secara kreatif sebagai anak-anak.

Sedangkan asertif maksudnya adalah tegas (punya alasan yang kuat untuk  menyatakan dirinya) dan sopan atau tetap menghargai dan memahami orang lain. Baik ekspresif dan asertif, keduanya bukan bawaan dari anak, tetapi hasil dari pendidikan.

Cara mendidik yang paling bisa diharapkan untuk mengarahkan mereka ke ekspresif dan asertif adalah dengan mengedepankan cara-cara yang mendorong, mengeksplorasikan, dan memberi koreksi konstruktif (koreksi yang mendorong), seperti kesopanan atau tatakrama. 

Kalau selama ini kita lebih sering melarang duluan, maka kita bisa menggantinya dengan menanyakan lebih dulu apa alasannya, mendiskusikan  konsekuensi, baru kemudian memberi masukan yang mendorong dia untuk menjajal idenya dengan cara yang lebih baik atau lebih sopan.

Ini pasti tidak bisa diberlakukan untuk semua keadaan. Tapi, setidak-tidaknya jangan sampai kita selalu menggunakan larangan dan perintah, seperti saat di TK, sehingga dia tidak percaya diri dengan dirinya, mudah menyalahkan pihak lain atau menghindari tanggung jawab.

Intinya, kita perlu terus mengoreksi apakah pengasuhan kita itu sudah seimbang antara mendorong anak untuk mengaktifkan Kekuatan Penggerak dan Kekuatan Penahan sehingga dia tidak minder atau terlalu percaya diri, mirip seperti menjalankan kendaraan. Semoga bermanfaat.

 

 

* lifeskill facilitator, penulis dan learning counselor

Share artikel ini:

Artikel Terkait