Mengapa Masakan Rumah Lebih Baik Bagi Kita?

Berbeda dengan zaman nenek kita dahulu, tantangan keluarga muda sekarang cenderung memilih yang serba praktis dalam menata hidup keseharian. Demikian pula halnya dalam hal memilih menu harian. Terbatasnya waktu, padatnya kegiatan, menjadikan banyak ibu rumah tangga terpaksa memilih tidak mengolah sendiri menu di meja makan rumahnya. Terlebih di kota-kota besar. Memilih menu siap saji, atau jajanan, atau menu restoran menjadi sukar terelakkan. Tanpa disadari pilihan itu tidak berpihak pada anjuran pihak penganjur kesehatan.

BETUL, bahwa yang serba menyehatkan itu sebetulnya ada di dapur, dan bukan di restoran. Sebagian besar sudah menyadari akan hal itu, sebagian mungkin masih belum menginsafi bahwa rutin mengonsumsi menu restoran menjadi awal dari mapaetaka kesehatan keluarga.

 

Kesehatan kita apa yang kita konsumsi

Sejatinya tubuh kita, atau lebih tepat lagi, kondisi kesehatan kita sekarang ini mencerminkan apa yang kita konsumsi. Bahkan sejak usia kanak-kanak. Kegemukan sejak kecil, terbentuk karena yang kita konsumsi selalu melebihi apa yang tubuh butuhkan. Atau kekurangan gizi lantaran menu harian selalu tidak lengkap keanekaragamannya. Makan cuma dengan satu menu atau monodiet, misalnya.

Kondisi tubuh mereka yang kurang asupan sayur-mayur dan bebuahan berisiko kekurangan vitamin selain mineral. Tergantung seberapa berat defisiensi yang sudah terjadi pada tubuh, gejala defisiensinya apakah sudah mengejewantah atau masih tersembunyi. Kurang darah lantaran zat besi tak memadai pasokannya ke dalam tubuh, misalnya.

Termasuk pula pola makan harian kita apakah cenderung diolah sendiri di dapur rumah, ataukah lebih sering mengonsumsi hidangan menu restoran. Kecenderungan menu restoran, atau lebih rutin makan di luar rumah, termasuk di warung nasi, menyimpan bahaya laten, selain tubuh harus menanggung beberapa risiko kesehatan. Menu di luar rumah cenderung salah olah selain rata-rata pilihan bahan sendiri sudah tidak segar, maka cenderung kehilangan sejumlah zat gizinya.

 

Kurang higienis

Semua tahu aspek kebersihan, penataan ruang dapur, kebersihan perorangan, cara mengolah, sampai dengan penyajian menu rata-rata restoran, apalagi warung makan cenderung kurang memenuhi syarat higienisitas. Bagaimana bahan olahan makanan disiangi, dibasuh, sebelum diolah. Seberapa dekat dapur dengan kamar mandi atau kakus? Bagaimana piring dan gelas dicuci, serta seberapa steril tangan orang yang meyajikan? Itu semua yang menjadi sumber penyebab terbesar kenapa angka diare kita masih belum kunjung turun.

Terlebih menu yang disajikan tanpa pemanasan, seperti gado-gado, ketoprak, rujak, asinan, salad, dan sejenisnya. Sejorok-joroknya penanganan menu olahan yang dimasak, bibit penyakit akan mati oleh proses pemanasan. Maka menu sop, soto, tumisan, yang diolah secara dikukus, atau rebusan, masih lebih aman ketimbang yang tak dimasak dan serba dipegang tangan penyajinya.

 

Penyakit metabolik

Nasib tubuh kita ditentukan pula oleh apa yang rutin kita konsumsi. Termasuk bila tubuh kita berisiko menderita penyakit metabolik. Meskipun tidak membawa bakat kencing manis, darah tinggi, atau jantung koroner, hanya karena pola makan dan pilihan menunya tidak menyehatkan, penyakit metabolik itupun menjadi bagian dari penderitaan tubuh.

Orang dengan turunan kencing manis atau darah tinggi bisa sama sehatnya dengan orang yang tanpa mewarisi turunan penyakit itu. Sebaliknya, akibat tidak tepat memilih menu, orang tanpa warisan penyakit metabolik menjadi sama berisiko terkena penyakit yang bikin umur lebih pendek dari yang seharusnya terjadi, jika pilihan menu hariannya salah.

Usia serangan jantung koroner, stroke, kini menimpa usia yang lebih muda. Bahkan sebelum usia 40. Penyebabnya antara lain, apa yang rutin mereka makan bukan pilihan yang menyehatkan. Mereka umumnya pelanggan tetap restoran.

Kita tahu menu restoran dan warung makan cenderung boros lemak (minyak goreng), selain boros garam dapur, dan serba berbumbu, serba ditambahkan zat tambahan makanan (food additive). Bila menu sejenis itu, menu sekerabat menu siap saji itu, rutin dikonsumsi, maka beban kerusakan, atau gangguan yang timbul dari efek jelek dalam menu itu, mau tak mau harus dipikul oleh tubuh. Termasuk bahaya kanker selain kelebihan berat badan.

Kasus darah tinggi orang sekarang lebih lantaran garam dapur yang mereka konsumsi jauh melebihi kebutuhan tubuh. Diperkirakan lebih tiga kali lipat. Bahwa bukan kebanyakan makan daging maka orang jadi darah tinggi, melainkan kelebihan konsumsi garam dapur, belum sepenuhnya diinsafi. Dan kita semua tahu, menu di luar rumah cenderung lebih asin, termasuk makanan kalengan.

 

Zat kimiawi tak aman

Itu kalau zat tambahan dalam makanan bersifat yang layak dikonsumsi. Bagaimana kalau melihat kenyataan di lapangan sekarang, masih beredar kecap, saus tomat, kerupuk yang memakai bahan kimia berbahaya. Zat warna, pengawet, penggaring, yang bukan untuk di konsumsi manusia.

Boraks, formalin, pemanis buatan tak aman, mengisi kebanyakan menu di luar rumah selain pada jenis jajanan. Kimiawi untuk bikin renyah, zat lilin supaya mie tak lengket, proses pemanasan berlebihan, proses pengawetan ikan, pengawet kalengan yang kita konsumsi,belum tentu semuanya aman bagi tubuh kita.Kita meperolehnya di luar dapur rumah kita.

Maka memilih mengolah menu sendiri di dapur rumah dinilai paling bijak dalam merawat kesehatan tubuh kita. Selain pilihan bahan baku untuk menu yang akan kita olah lebih berkualitas, lebih segar, juga diolah secara lebih higienis, tanpa harus boros minyak, garam, atau menambahkan zat tambahan makanan yang membahayakan kesehatan.

Lain dari itu, menu olahan sendiri tentu sesuai dengan selera lidah semua anggota keluarga. Dari aspek ekonomi, mengolah dan menyajikan sendiri menu harian di rumah, bisa mengirit anggaran dapur. Kalau begitu mengapa tidak mengupayakannya sebelum tubuh kita telanjur menyimpan “bom waktu” seribu penyakit kelak di depan nanti.***

Share artikel ini:

Artikel Terkait