Menghadapi Stereotype Yang Tidak Sehat di Tempat Kerja

Apa ada jenis pekerjaan atau jabatan yang akan lebih sukses dikerjakan oleh perempuan atau laki-laki karena jenis kelaminnya? Jawabannya pasti tidak ada yang hitam-putih. Bisa ada dan bisa juga tidak. Ini tergantung pada beberapa faktor. Secara umum, kalau melihat konsep kompetensi, seperti yang ditulis Spencer (1993), memang ada beberapa profesi, pekerjaan, atau jabatan yang tingkat kesuksesannya bergantung pada jenis kelamin.

Tapi jenis kelamin di situ bukan satu-satunya. Dan lagi, bukan jenis kelamin yang disebutkan di sana, melainkan trait atau bawaan dari lahir. Bawaan di sini bisa berasal dari jenis kelamin (kodrat), faktor jenetik atau keunikan individu (bakat, kecerdasan, dst). Ambil contoh misalnya jabatan customer service atau marketing. Berdasarkan tuntutan kompetensinya, misalnya harus empatik, charming, tidak agresif, persuasif, dan lain-lain, maka perempuan dinilai lebih banyak peluangnya di sana.

Namun ini tidak berarti laki-laki tidak bisa. Atau juga perempuan akan dijamin pasti lebih bagus dibanding laki-laki untuk jabatan ini. Secara mayoritas memang ya, hanya saja tidak bisa dijeneralisasikan. Ini karena faktor jender hanya berperan kecil dari sekian faktor. Selain faktor bawaan itu, faktor-faktor yang penting bagi kesukesan seseorang dalam memainkan peranan di kantor adalah:

Pertama, motivasi. Semakin bagus motivasi kita, berarti semakin bagus kemampuan kita dalam berperan. Ini karena motivasi terkait dengan inisiatif, perhatian terhadap pekerjaan, dan kemampuan mengelola tekanan pekerjaan.

Kedua, konsep-diri atau kemampuan kita dalam menciptakan opini-opini positif tentang diri kita, keunggulan kita, keunikan kita, kemampuan kita, dan seterusnya. Semakin positif konsep-diri yang kita bangun, maka akan semakin kuat motivasi kita, semakin bagus self-feeling kita dan akan semakin bagus kepercayaan-diri kita.

Ketiga, menambah pengetahuan dan informasi. Secocok apapun peranan itu dengan gender kita, namun kalau ilmu dan informasi kita tidak bertambah, maka kinerja kita rendah.

Keempat, keahlian, baik itu yang soft atau yang hard. Keahlian terkait dengan sejauhmana kita mampu menggunakan pengetahuan, pengalaman, dan informasi untuk menangani pekerjaan. Semakin bagus keahlian kita, berarti semakin bagus peluang kita untuk memainkan peranan di tempat kerja.

Kelima, etika. Etika yang dimaksudkan di sini adalah sejauhmana perilaku kita cocok dengan nilai-nilai norma yang sifatnya sudah tidak bisa diperdebatkan lagi, menurut apapun. Misalnya kejujuran atau tanggung jawab. Di mana pun kita berada, pasti dua hal itu benar dan baik.

Karena faktor jender hanya memberikan kontribusi sedikit, maka kita perlu melakukan perlawanan terhadap berbagai stereotype yang kurang sehat. Misalnya dikatakan perempuan lemah dalam kepemimpinan atau lemah dalam matematika, sehingga tidak cocok untuk menjadi manajer operasional atau direktur atau general manajer.

Hanya saja, bentuk perlawanan yang bagus adalah perlawanan ke dalam, bukan ke luar. Maksudnya, kita melawan keyakinan di dalam diri yang dibentuk dari stereotype lingkungan yang kurang sehat. Kalau kita ledakkan perlawanan itu ke luar, kerapkali ini malah kurang bagus buat kita, orang lain, dan keadaan.

Walhasil, perbedaan antara perempuan dan laki-laki hanya ada pada kodratnya, bukan derajatnya. Perbedaan derajat ditentukan oleh kemampuan seseorang dalam mengembangkan diri.
Semoga bermanfaat.

Share artikel ini:

Artikel Terkait