Menikmati Pekerjaan

Jika ada pekerjaan yang statusnya "mau-tidak-mau-harus" kita kerjakan, memang sikap yang paling benar adalah menikmatinya. Katakanlah seperti sekarang ini. Di saat pekerjaan di rumah sedang menumpuk jelang hari raya, asisten kita juga pulang kampung untuk merayakan Lebaran. Jika kita tidak bisa menerima kenyataan ini dengan nikmat atau legowo, maka pekerjaan itu secara otomatis menjelma menjadi beban di jiwa dan juga di fisik, bukan begitu?

Jiwa kita terbebani bukan oleh pekerjaan, tetapi oleh respon kita terhadap pekerjaan itu. Lebih-lebih jika sudah merembet ke emosi yang tidak terkontrol. Beban kita pasti akan bertambah lagi.

Kenyataan inilah yang disiasati oleh orang seperti Edison. Walaupun orang lain melihatnya beraktivitas dari pagi sampai malam, tapi Edison sendiri merasa itu bukan kerja. Itu adalah bereksperimentasi atau bermain, yang pengertiannya adalah dinikmati.

Nah, kita pun pasti bisa menerapkannya seperti itu.

Selain perlu menyiapkan sikap yang konstruktif terhadap kenyataan yang berubah, kita juga perlu membangun kesadaran kerjasama dengan pasangan dan putra-putri kita dalam menangani pekerjaan rumah, seperti mencuci, merapikan tempat tidur, mengepel lantai, dan lain-lain.

Kalau dilihat dari sisi positifnya, ini sangat bagus. Buat anak, keadaan ini akan melatih kemandirian. Anak-anak harus berlatih mandiri bukan soal karena kita kekurangan atau berlebih, tetapi karena memang kemandirian adalah kebutuhannya untuk menghadapi masa depan.

Selain itu, bagi orang dewasa yang sehari-hari kurang melakukan aktivitas fisik, ini juga bagus. Kerja akan menciptakan pembakaran pada tubuh sehingga lemak tidak sampai menumpuk.

Buat kita sendiri, manajemen waktu menjadi penting. Jangan sampai kita mendadak menjadi orang yang sibuknya luar biasa sehingga bingung sendiri atau tenaganya terkuras berlebihan. Lebih-lebih sampai jatuh sakit. Wah, jangan sampai deh...

Manajemen waktu dapat kita buat berdasarkan acuan sederhana di bawah ini:

  • Tentukan pekerjaan yang PENTING DAN MENDESAK. Prioritaskan yang ini, misalnya mencuci.
  • Tentukan pekerjaan yang PENTING TAPI TIDAK MENDESAK. Kerjakan di waktu agak santai, seperti belanja persiapan Lebaran.
  • Tentukan pekerjaan yang TIDAK PENTING TAPI MENDESAK. Kita jalani tapi dengan jadwal yang kita batasi, misalnya mengangkat telepon atau menjawab bbm/ sms yang mendesak.
  • Tentukan pekerjaan yang TIDAK PENTING DAN TIDAK MENDESAK, misalnya mengganti perabotan yang masih layak digunakan, dst.

Jika semua itu kita jalani tanpa beban di jiwa, pastilah ada kelegaan, kepuasaan dan kebahagian. Kata Margaret Thatcher, kepuasan batin itu datangnya ketika kita telah menyempurnakan apa yang ingin kita kerjakan. Bukan sebaliknya.

Semoga bermanfaat.

Share artikel ini:

Artikel Terkait