Olahraga Minim Cedera

Apa pun jenis olahraga, tentu ada resiko tercedera. Makin kompetitif suatu olahraga, makin besar resiko tercedera. Pilihan yang lebih aman adalah olahraga low impact dan berolahraga lebih sebagai kegiatan menyehatkan.

Jadi tergantung untuk apakah kita berolahraga. Bila sekadar untuk menyehatkan badan belaka, tentu tidak perlu sampai harus mengkhawatirkannya. Termasuk bila jenis olahraga yang dipilih bukan yang berat (high impact). Berjalan kaki dan tidak melompat-lompat, bukan loncat-loncat, tergolong pilihan yang lebih aman.

Accident proneness

Ada orang-orang tertentu yang cenderung rentan celaka. Sekadar berjalan kaki saja pun cenderung mudah terantuk, terpeleset, atau terbentur sesuatu. Termasuk bila sedang mengendarai kendaraan, mengoperasikan alat mesin, atau bertugas sebagai operator alat berat. Orang yang berkecenderungan demikian acap kita temukan. Mereka tergolong accident proneness.

Tidak jelas mengapa ada orang dengan kecenderungan demikian. Kemungkinan selain kurang alert, tidak handle with care dengan dirinya sendiri, bisa jadi lantaran sistem keseimbangan tubuhnya kurang sempurna terbentuk. Hanya bila keseimbangan tubuh yang terbentuk tidak tegar, beresiko mudah sekali terjatuh.

Mereka dengan bawaan accident proneness, lebih gampang tercederai selama berolahraga, atau beraktivitas fisik. Tidak sedang berolahraga pun rentan tercedera, apalagi melakukan aktivitas berolahraga. Lebih-lebih bila olahraganya kompetitif.

Orang yang memiliki accident proneness harus menjauhi wilayah-wilayah, atau keadaan-keadaan yang beresiko tinggi bakal terjadinya kecelakaan. Lantai licin, tempat-tempat yang banyak rintangan, undakan, dan alat-alat yang mencelakakan perlu diwaspadai. Kelompok orang dengan bawaan demikian perlu ekstra hati-hati memasuki, atau berada di wilayah yang beresiko tinggi mencelakakan.

Terlatih safety first

Sejak kecil anak perlu dibiasakan mengenali kondisi-kondisi berbahaya, dan wilayah yang beresiko mencelakakan. Termasuk terlatih menyeberang jalan, sikap dan perilaku selama berada di jalan raya, keterampilan dan berhadapan dengan benda tajam, runcing, dan pecah belah.

Kita belum sepenuhnya memberi perhatian terhadap kondisi atau wilayah yang beresiko mencelakakan seperti sumur tanpa bibir, kolam renang di rumah tanpa pengaman, lantai basah dan licin, beling di halaman sekolah, paku bekas di kebun.

Bila sejak kecil anak terlatih menguasai semua wilayah dan kondisi yang beresiko tinggi mencelakakan diri, maka lebih kecil bahaya kecelakaan yang kemungkinan ditimbulkan oleh keteledoran, kelalaian, atau ketidakterampilan. Cara memegang dan memakai pisau, menggunakan gunting, memartil paku, adalah bagian dari keterlatihan sejak kecil. Makin lengkap keterlatihan anak, makin kecil resiko tubuhnya bakal tercederai.

Namun sekali lagi, wilayah dan kondisi lingkungan di kita umumnya belum seluruhnya terbilang aman dan terbebas dari resiko mencederai. Halaman sekolah, kawat berduri, beling dan paku bekas berceceran, selain tanaman berduri di tempat bermain.

Tak cukup keterlatihan terhadap barang dan benda yang beresiko mencederai diri semata, kewaspadaan, kehati-hatian, kesigapan perlu diberikan lebih pada lingkungan yang belum seluruhnya aman. Termasuk resiko dan bahaya digigit anjing liar di sekitar.

Berjalan kaki

Bagi kesehatan, jalan kaki dan jogging tergolong yang paling ringan resiko cederanya. Selama sepatu yang dipilih tergolong cukup empuk alasnya, sosok jalan yang ditempuh terbebas dari rintangan dan segala yang mencelakakan, pilihan jalan kaki dan jogging tergolong aman.

Bagi usia yang masih muda, jogging boleh dipilih dengan catatan mencapai zona aerobik. Lain dari itu, anak-anak yang sejak kecil terlatih berlari, akan terbentuk keseimbangan tubuh yang tegar, tak rentan terjatuh. Maka biasakan pula anak banyak berlari-lari di wilayah yang aman.

Berlari, atau permainan dengan berlari, selalu menyesatkan. Bukan saja bagi perkembangan paru-paru, jantung, dan otot, serta persendian, terlebih bagi terbentuknya keseimbangan tubuh yang kokoh dan tegar. Ini yang kelak menjadi bekal, anak menjadi tak rentan terjatuh, terpeleset, atau terkilir.

Bagi yang sudah lebih berusia paruh baya, berjalan kaki lebih kecil resiko mencederai, khususnya terhadap persendian lutut, dan pinggang. Kita tahu makin bertambah tua, ruang sendi, minyak sendi, dan rawan sendi makin menipis dan berkurang. Maka benturan antar persendian harus dicegah kalau tak ingin sendi meradang.

Olahraga atau aktkvitas fisik yang berat, termasuk angkat berat, berlari, melompat-lompat atau meloncat-loncat, tergolong membebani persendian, lalu mencederainya. Maka jogging dan berlari pada kelompok paruh baya, idealnya tidak lagi sebuah pilihan. Cukup berjalan kaki saja.

Berjalan kaki tergopoh-gopoh relatif tanpa resiko tercederai selama sosok jalan yang dilalui aman. Artinya badan jalan cukup rata, tanpa rintangan membahayakan, tidak licin, tanpa kerikil, atau lubang, atau undakan yang mencelakakan.***

* Pengasuh Rubrik Kesehatan di Sejumlah Media, Pengamat Kesehatan, Health Motivator, Penulis 76 Buku Kesehatan

Share artikel ini:

Artikel Terkait