vote

Anakku Kenyang Makan Kue

Satu kekeliruan yang tidak menyehatkan bagi anak, ketika porsi jajan dan kudapan lebih besar dari menu makan harian.

  • Rate Artikel ini
Satu kekeliruan yang tidak menyehatkan bagi anak, ketika porsi jajan dan kudapan lebih besar dari menu makan harian. Asupan kalori selain tiga kali makan lebih banyak. Rata-rata kue mengandung terigu, mentega, susu, telur, dan gula. Jenis kudapan ini tinggi kalori, dan tinggi lemak. Itu sebabnyaa mengapa anak sekarang susah makan.

MEMBIARKAN anak dengan pola kebiasaan makan jajanan kue, sama dengan menyodorkan bukan menu seimbang. Selain kalori yang masuk melebihi kebutuhan tubuh, proporsi lemak juga lebih dari yang diperlukan. Kelebihan asupan kalori dan lemak yang menekan selera makan anak. Anak jadi malas makan, dan menolak makan ketika tiba waktu makan.

Sebaiknya anak tidak mengkonsumsi apa pun menjelang jam makan. Apalagi jenis kudapan yang manis-manis. Karena asupan yang manis-manis di dekat waktu makan akan menekan rasa laparnya. Anak merasa masih kenyang pada jam seharusnya ia makan.

Masalah makan anak sekarang muncul lantaran pola makan tidak dibuat tertib. Pertama, soal bagaimana menciptakan selera pada lidah anak. Anak tidak dibiasakan untuk menyukai jenis makanan apa saja.

Tubuh manusia diisyaratkan untuk bisa menerima jenis makanan tidak terbatas hanya daging atau tumbuhan belaka. Mengamati susunan gigi-geligi, enzim pencernaan, dan kebutuhan akan empat puluh jenis zat gizi, manusia tergolong pemakan segala. Maka memperkenalkan anak dengan jenis makanan baru, ketika anak mulai duduk di meja makan rumah.

Kedua, tidak dibentuk jam makan pada tubuh. Kita tahu, otak memiliki jam biologis yang dapat disetel kapan waktunya makan (cyrcadian rhythm). Hanya karena jam makan yang tidak tentu, maka jam biologis tidak berdentang saat waktunya harus makan. Jam makan yang tidak tertib, membuat beban kerja pencernaan tidak se-efisien jika jam makan yang lebih tentu.

Boros gula kaya lemak
Bukan saja rata-rata menu harian anak sekarang kelebihan porsi lemaknya, kudapan dan selingan makannya pun cenderung kelebihan gula dan lemak. Memilih kue contohnya. Dominasi kue, berarti anak sudah menerima kalori lebih besar dari mentega, telur, susu, dan gula yang dikandungnya. Jika menu harian yang tiga kali juga didominasi oleh yang serba digoreng, daging bergajih, telur, maka total gizi yang anak terima sudah sangat berlebihan. Kelebihan itu yang menerangkan mengapa anak sekarang cenderung lebih berat dari bobot badan idealnya. Sekali lagi, anak sehat itu tidak gemuk, tapi juga tidak kurus.

Batasi gula dan terigu
Sesungguhnya musuh lama tubuh manusia itu gula dan terigu. Karena dalam proses pembuatan gula maupun terigu memasukkan unsur kimiawi ke dalamnya. Unsur kimiawi itu yang tidak menyehatkan sehingga air tebu dan gandum sejatinya lebih menyehatkan ketimbang gula putih atau terigu. Kue terbuat dari gula dan terigu juga.

Semakin ketat membatasi pemakaian gula dan terigu, kini dianggap lebih menyehatkan. Konsep kembali ke alam, sebagaimana gerakan konsumen memilih yang serba organic, tetap mendahulukan yang serba alami. Maka gula merah lebih menyehatkan daripada gula putih, karena gula merah tidak mengandung unsur kimiawi seperti gula putih. Gandum utuh (whole grain) lebih menyehatkan daripada terigu, karena masih polos dari cemaran bahan kimiawi. Roti gandum kini dicari melebihi roti putih.

Gula menekan selera makan
Tubuh kita memiliki mekanisme regulasi dalam hal makan. Ketika tubuh membutuhkan kalori, rasa lapar akan dihidupkan. Rasa lapar itu yang mendorong orang mencari makanan. Dengan cara demikian secara otomatis mengajak orang untuk makan.

Rasa lapar muncul karena kadar gula (glucose) dalam darah turun di bawah normal. Itu terjadi setelah beberapa jam tubuh tidak dimasuki makanan.

Gula dipakai tubuh untuk diubah menjadi tenaga bergerak, selain tenaga memutar ”mesin” dan ”dapur” tubuh untuk metabolisme. Jantung berdegup, gerakan paru-paru, usus mencerna, dan kerja sistem organ tubuh lainnya.

Sebaliknya, rasa kenyang terasa apabila kadar gula dalam darah di atas normal. Dan itu terjadi setelah tubuh dimasuki makanan. Semakin tergolong jenis bersifat gula, semakin lekas rasa kenyang itu terasa. Mengkonsumsi gula lebih lekas menjadi kenyang dibanding mengkonsumsi nasi.

Anak yang pola makannya non-stop, sering tidak pernah merasakan munculnya rasa lapar. Kadar gula dalam darahnya tidak pernah turun di bawah normal. Termasuk anak yang diberi selingan makan kue. Sudah disebut, selain tinggi kalori, kue juga tinggi kandungan gulanya.

Boleh dibilang, anak sekarang cenderung terganggu sistem regulasi makannya oleh hilangnya rasa lapar itu. Anak tidak tahu kapan seharusnya perlu makan, dan kapan sudah cukup makan. Makan pada anak yang rasa laparnya terganggu, lebih sebagai dorongan emosi belaka. Selalu terdorong untuk makan setiap kali melihat, atau ditawari makanan.

Kalau seperti itu jenis menu, dan cara makan salahnya, kelebihan berat badan yang terjadi disertai dengan komposisi nutrisi yang tidak lengkap zat gizinya. Badan gemuk namun ”kurang gizi”.

Sebagian orang yang gemuk itu, ternyata kekurangan vitamin C, vitamin A, dan kalsium. Itu lantaran pilihan menunya cenderung boros gula, dan kaya lemak yang berasal dari bahan makanan yang sudah diolah, dan diproses sebelumnya.

Maka sikap bijak terhadap memilihkan anak menu menentukan akan bagaimana nasib tubuh anak. Orangtua jangan mengajarkan anak menerima bukan menu sehatnya termasuk atur jajanan dan waktu makannya agar nafsu makannya tak bermasalah.