vote

Bagaimana Menggunakan Kekuatan Kata-Kata?

Anda percaya bahwa kata-kata positif dapat memberikan dampak perbuatan yang positif?

  • Rate Artikel ini

Anda percaya bahwa kata-kata positif dapat memberikan dampak perbuatan yang positif? Melalui kekuatan kata-kata, Anda bisa membuat si Kecil menyukai sayuran dan makanan bergizi lainnya.

Kata-kata yang keluar dari mulut kita jelas sangat perkasa. Kekuatannya dapat mempengaruhi suasana hati, sikap, bahkan perilaku anak. Karenanya, semua orangtua perlu belajar bagaimana menggunakan kekuatan kata-kata itu seefektif mungkin agar tujuan parenting dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan.

Salah satu tujuan parenting yang sangat mendasar adalah menghindarkan anak dari sejumlah perilaku yang berakibat buruk pada dirinya baik jangka pendek maupun jangka panjang. Untuk mencegahnya, hal yang dapat dilakukan adalah dengan membantu mengeluarkan potensi si kecil melalui penyadaran dan pembentukan kebiasaan. Salah satu yang sangat penting adalah menyadarkan anak-anak akan kebutuhan terhadap sayuran dan membentuk kebiasaan mereka untuk menyukai sayuran dan berbagai makanan bergizi lainnya.

Secara garis besar, ada sedikitnya 4 cara penggunaan kata-kata dalam parenting, yaitu:

§  Agresif: kita memaksa atau mengancam, baik secara soft atau hard (lunak dan kasar)

§  Submisif: kita lebih banyak membiarkan atau menyerahkan pilihan pada anak

§  Manipulatif: kita melakukan manipulasi

§  Asertif: kita mengarahkan denga baik dan tegas

Dalam prakteknya, untuk penyiasatan atau metode, semua cara di atas terkadang dibutuhkan. Yang terpenting di sini adalah kadarnya dan menyesuaikannya dengan kondisi waktu yang tepat. Misalnya ada seorang ibu yang memasukkan sayuran ke dalam makanan si kecil secara manipulatif. Ada juga yang memberikan saran secara agresif agar anak mau makan sayuran.

Ketika kadarnya tidak berlebihan dan kita tidak melakukannya dalam kondisi marah, tentu hal demikian masih wajar. Sebab, pendidikan sendiri bagi sebagian kalangan diartikan sebagai pemaksaan terhadap pembiasaan dan disiplin. Pendidikan dan paksaan dalam prakteknya sulit dipisahkan.

Yang boleh kita gunakan sebanyak mungkin adalah cara asertif. Dalam arti bahwa kita berusaha memberikan alasan yang kuat dan penjelasan yang lengkap dengan bahasa yang tegas lalu didukung dengan penegakan disiplin dan contoh. Ini yang paling bagus tapi dipastikan akan butuh waktu lebih lama.

Kita perlu belajar menggunakan kata-kata secara kuat tanpa harus kasar, menggunakannya secara bijak tanpa harus lemah, menggunakannya secara “pede” tanpa harus pakai gertakan atau amarah dan belajar menggunakannya secara halus tanpa harus seperti mengemis.

Sebaliknya, cara asertif dapat kita lakukan dengan memulai dari memberi pemahaman mengenai manfaat sayuran atau bahayanya orang yang kurang mengkonsumsi sayuran, memberikan support dan stimulan (misalnya pada saat makan bersama), menegakkan disiplin dan kebiasaan, dan memberi contoh yang baik.

Semoga bisa kita jalankan.