PENTINGNYA BODY IMAGE POSITIF

Menjelang masa pubertas (masa pematangan organ-organ seksual), seorang anak mengalami perubahan “besar-besaran”. Perubahan ini diikuti pula dengan terbentuknya self-image yang mengarah pada positive body image pada diri anak.

Begitu memasuki masa remaja, seorang anak punya kesadaran untuk tampil prima di mata teman sebayanya. Hanya saja, tak selalu mudah untuk menerima semua bagian dari diri kita, bukan? Begitu pula anak, terutama jika tak ada yang pernah memuji penampilannya. Karena itu, anak pra-remaja mudah sekali terjebak dalam self-image negatif.

SIAPA YANG BERPENGARUH? 

·         TEMAN SEBAYA. Si pra-remaja gampang terpengaruh oleh teman sebayanya semata-mata agar dirinya diterima.

·         MEDIA & DUNIA LUAR. Masa pra-remaja dan remaja awal adalah masa ketika proses pengidolaan dimulai. Seorang anak jadi lebih memerhatikan penampilan dan tingkah laku tokoh yang diidolakan, baik yang ia temui langsung atau yang muncul di media massa.

·         KELUARGA DAN SEKOLAH. Ketidakpuasan terhadap tubuh sendiri atau lelah menjaga penampilan sering menjadi alasan tersembunyi mengapa orangtua suka mengritik penampilan anaknya: “Kenapa sih rambutmu dibiarkan panjang tidak karuan?”, “Tuh, makanya jangan makan melulu supaya bajumu enggak lekas kekecilan.” Kritik semacam itu bisa membentuk citra tubuh negatif pada anak-anak yang akhirnya memengaruhi konsep diri mereka, terlebih jika si anak sensitif terhadap komentar orang lain.

Di sekolah, kritikan dan cemoohan seputar fisik mungkin dilontarkan oleh teman-teman anak dalam bentuk ledekan.  

JIKA BODY IMAGE NEGATIF

Apa akibatnya kalau anak memiliki body image negatif? Ia akan merasa rendah diri dan malu. Perasaan minder akan memunculkan risiko gangguan psikis (mental health concerns), seperti konsep diri rendah (negatif), depresi, gangguan makan (melewati waktu makan karena takut gemuk, bulimia (makan berlebihan lalu dimuntahkan), makan berlebihan karena kelaparan akibat diet yang ketat, dan berat badan turun naik. 

APA YANG DAPAT DILAKUKAN? 

·         Berbincang soal body image. Tujuannya adalah membuat si pra-remaja nyaman dengan bentuk tubuhnya dan mengarahkannya pada pola makan sehat.

·         Berbincang soal majalah atau tontonan. Cermatilah apa yang dibaca dan ditonton oleh anak-anak kita. Ajak anak untuk mau membicarakan dengan santai apa yang dibaca dan ditontonnya. Berikan gambaran bahwa berat badan ideal, apa pun bentuk tubuhnya, jauh lebih sehat daripada tubuh kurus atau gemuk. Untuk mencapainya, ia tinggal menerapkan pola makan seimbang, tanpa harus kelaparan ataupun merasa takut gemuk.

·         Diskusi tentang self-image.  Tujuannya membuat anak paham bahwa bentuk tubuh yang sehat itu bermacam-macam. Ada yang lebar di bahu dan dada, di pinggul dan paha, atau lurus dari atas sampai bawah. Tanyakan, mana bagian tubuhnya yang paling disukai anak. Lalu katakan bagian mana yang paling Anda sukai darinya.

·         Gunakan bahasa positif. Sedapat mungkin, hindari kata “kurus” atau “gemuk”. Caranya fokuslah pada pola makan seimbang dan kegiatan yang melibatkan gerakan tubuh secara aktif.  Hentikan panggilan “sayang” yang sebetulnya mengikis citra positif anak, seperti, “Ndut,” “Mbul,” “Cungkring,” “Bongsor,” dan sebagainya. Pujilah pencapaian anak sekecil apa pun itu. Dengan begitu, anak tak melulu berfokus pada penampilan fisiknya dan lebih percaya diri.

·         Berikan contoh nyata. Apa pun yang kita lakukan, Tujuannya bukan supaya tubuh terlihat menarik, tetapi supaya kita senantiasa sehat. Ajak anak berolahraga bersama dan makan makanan sehat dengan cara menyenangkan. Jika anak menolak, tak perlu memaksa, tetapi teruslah memberi contoh.

KAPAN HARUS BERKONSULTASI?

Mencapai dan mempertahankan body image yang sehat bukanlah hal mudah bagi anak meskipun ia sudah hampir remaja. Mengapa? Karena ini terkait dengan situasi mentalnya, bukan hanya fisiknya. Jika anak kita menghadapi masalah yang rumit dikarenakan body image-nya yang negatif, pertimbangkan untuk membawanya ke psikolog keluarga atau dokter yang mendalami nutrisi dan psikologi anak.

Masa pra-remaja memang masa-masa ‘transisi’ bagi anak, baik secara fisik maupun psikologis. Karenanya orangtua harus senantiasa mendampingi anak agar masa transisi ini bisa dilalui dengan baik dan mendukung pembentukan karakter anak sampai ia dewasa kelak.

Share artikel ini:

Artikel Terkait