Porsi Tepat Berolahraga

Berolahraga diyakini sebagai salah satu syarat utama hidup sehat dan panjang umur. Berolahraga seperti apa, dan bagaimana, serta berapa lama yang dinilai ideal untuk mencapai tujuan menyehatkan. Semuanya akan kita bahas disini.

Teknologi dan otomatisasi mesin membuatkuantitas dan kualitas gerak manusia menjadi semakin minim.Terlebih gaya hidup orang masa kini dimana kita lebih banyak duduk daripada bergerak. Sehingga tanpa disadari,pola makan yang tidak sehat serta tidak diimbangi oleh olahraga dan tingkat stress yang tinggi menjadi penyebab terbesar semua penyakit orang modern sekarang.

 

 

Tiada hari tanpa berlari

Dahulu, beberapa dasawarsa lalu, anak-anak berolahraga dengan lebih banyak berlari. Permainan dan kegiatan berolahraga tradisional seperti bermain perang-perangan ala “Jenderal Kancil”, kasti, petak-umpet, didominasi oleh kegiatan berlari.

Kegiatan berlari pada usia kanak-kanak dinilai penting dan perlu guna membentuk jantung yang kuat serta tulang otot yang kokoh. Kita menyebutnya sebagai “cardio friendly”.

 

Namun sayangnya, kemajuan teknologi membuat pola bermain anak pun berubah secara total. Sekarang anak-anak kita kurang sekali berlari. Akibatnya, tingkat obesitas yang diderita anak Indonesia terus membengkak.

Berlari sejak kecil merupakan modal awal menuju tubuh yang sehat. Secara alami berlari sendiri sudah menyehatkan. Jantung berdegup kencang dan cepat, otot-otot meregang, persendian tambah lentur, kesemuanya dibutuhkan untuk bertumbuh, selain menambah kokoh secara fisik. Sementara kurikulum olahraga makin tersingkir dengan porsi yang amat kecil. Selain itu, belum semua sekolah memiliki lapangan khusus olahraga guna memberi ruang kepada anak untuk berlari-lari.

 

Brisk walking

Banyak pilihan jenis berolahraga, tapi satu yang direkomendasikan oleh Copper, perintis Aerobics, yaitu berjalan kaki. Bahwa berjalan kaki sebuah bentuk berolahraga paling ideal, memadai, dan teruji khasiatnya. Bukan sekadar berjalan kaki, melainkan berjalan kaki tergopoh-gopoh. Copper menyebutnya sebagai brisk walking, atau endurance walking, atau aerobic walking.

Berjalan kaki brisk walking dilukiskan sebagai berjalan kaki secepat selaju kita bisa. Untuk orang normal, brisk walking dapat dicapai hingga 6 Km/jam atau 100 meter/menit, dilakukan setiap hari sekurang-kurangnya 40 menit/hari, satu hari jeda untuk pemulihan fisik.

 

Bukan sekadar berkeringat

Patokannya, berjalan kaki tergopoh-gopoh sudah mencapai aerobik ketika degup jantung per menitnya sudah mencapai  sekitar 65% dari 220 – umur, berarti zona aerobik sudah tercapai. Ini berlaku untuk jenis olahraga apapun. Kita dapat menghitung sendiri berapa zona aerobik untuk umur kita masing-masing. Contohnya untuk anak berumur 10 tahun, zona aerobik sudah tercapai apabila degup jantungnya mencapai 142 degup/menit.

Banyak pilihan untuk berolahraga. Namun, pilihan brisk walking selain mudah, murah, dan sederhana, bisa dilakukan oleh siapa pun, dan bagi segala umur, dengan hasil yang teruji kemaslahatannya. Satu hal yang perlu dicatat adalah bahwa nilai aerobik dalam berolahraga apa pun, berkeringat bukan patokan. Bukan ditentukan oleh apakah sudah berkeringat atau belum, sebagaimana dikira orang, melainkan apakah zona aerobik sudah tercapai.***

Share artikel ini:

Artikel Terkait