Puasa Ketika Hamil

Kondisi tubuh ketika hamil tentu tak sama dengan ketika tidak sedang hamil. Maka perlu perhatian khusus bila menjalani puasa, demi kepentingan ibu sendiri selain kepentingan anak yang tengah dikandungnya. Apa sajakah yang perlu diperhatikan bila ibu hamil berpuasa, kita bicarakan di sini.

KEHAMILAN mengubah kerja mesin tubuh. Selain kebutuhan nutrisi bertambah, ada beban lain terutama pada jantung. Beberapa keluhan yang menyertai kehamilan turut berpengaruh terhadap kondisi berpuasa. Mual dan muntah selama kehamilan muda, misalnya, membebani lambung.

Tak boleh kekurangan nutrisi

Walaupun ibu sedang berpuasa, namun anak yang tengah dikandung jangan sampai tidak lengkap mendapat, atau kekurangan makanan. Buat anak, makanan vital agar optimal bertumbuh, selain sempurna terbentuk organ-organ tubuhnya.

 

Kekurangan zat gizi tertentu berisiko melahirkan anak dengan kecacatan. Sebut saja bila kekurangan asam folat.

 

Agar tak sampai kekurangan makanan, tentu porsi makan harus memadai. Tak cukup untuk kecukupan tubuh ibu, sekurang-kurangnya perlu tambahan sepertiga porsi, tak perlu dua kali, untuk kecukupan anak bertumbuh. Selama berpuasa, kecukupan itu diperoleh dari sahur dan asupan setelah berbuka puasa.

 

Kecukupan asupan porsi saja belum lengkap bila keanekaragaman menu tak memenuhi kebutuhan tubuh ibu dan anak yang dikandung. Selain perlu cukup porsinya, lengkap terpenuhi pula semua zat gizi yang 45 macam itu. Terlebih pentingnya memadai dan lengkap asupan menu proteinnya.Lain dari itu terpenuhi pula kecukupan asupan cairan tubuh.

 

Kendati cukup asupan nutrisi memadai bagi ibu hamil, bisa terganggu bila ibu mengalami muntah-muntah. Keluhan ini acap terjadi dalam trimester pertama kehamilan. Kita menyebutnya morning sickness. Bila tak cukup asupan makanan dan minuman yang diakibatkannya, ini indikasi ibu hamil tidak diperkenankan berpuasa.

 

Pada kehamilan trimester pertama organ-organ tubuh anak mulai terbentuk. Kekurangan nutrien vital, sebut saja kekurangan asam folat, selain bikin anemia, berisiko terjadi kecacatan tabung saraf (neural tube defect), yakni tulang belakang tak menutup, atau batok kepala tak terbentuk sempurna. Sumber beragam jenis asam amino pun sebaiknya berasal dari protein unggul, seperti dari telur.

 

Lanjut pada kehamilan trimester kedua, kebutuhan nutrisi meningkat untuk menyempurnakan pembentukan semua organ tubuh, khususnya kebutuhan protein dan lemak selain tambahan sejumlah vitamin dan mineral. Bila kekurangan pasokan nutrisi terjadi pada masa ini, pembentukan organ berisiko tak sempurna. Itu maka sejatinya idealnya ibu hamil paling aman berpuasa pada usia kehamilan 4-6 bulan.

 

Kapan tidak boleh puasa

 

Sudah disebut, bila mual dan muntah berlebihan, sehingga asupan makanan dan minuman minimal, puasa tidak diperkenankan. Semua ibu hamil dengan penyakit diabetik, hipertensi, gangguan ginjal, bermasalah dengan jantung serta perdarahan rahim, tidak diperbolehkan berpuasa. Demikian pula apabila volume cairan ketuban diperkirakan di bawah normal (oligohydramnion), termasuk bila ibu hamil tergolong anemia.

 

Ibu hamil dengan kondisi tersebut di atas akan diperberat oleh kegiatan berpuasa. Selain terganggu aliran darah anak, anak yang dikandung pun berisiko mengalami penurunan gula darah (hypoglycaemia), kondisi yang tentu akan menghambat laju pertumbuhannya.

 

Begitu juga halnya ibu yang diperkirakan kekurangan cairan tubuh (dehidrasi) oleh sebab apa pun, selain akibat muntah-muntah hebat, sebaiknya tidak berpuasa dulu. Sekurang-kurangnya 2 liter air minum terpasok selama kehamilan. Batasi asupan gula dan garam, dan atasi segera kondisi kehilangan cairan dengan menambahkan cairan elektrolit (isotonic).

 

Ibu yang sedang terancam kekurangan cairan, kita melihat gejala awalnya nyeri kepala, urine lebih berwarna kuning pekat, tidak berkeringat, kulit, bibir, dan lidah  kering, pergerakan anak di kandungan melemah, dan terjadi kontraksi rahim yang belum waktunya.

 

Jadi, bagi Ibu hamil yang ingin tetap menjalankan ibadah puasa, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter dulu untuk memastikan apakah kondisi tubuh Ibu memungkinkan untuk berpuasa. Selain itu selalu pastikan asupan nutrisi Ibu saat berbuka dan sahur selalu mencukupi kebutuhan Ibu dan juga anak yang dikandung.***

 

 

 

 

 

 

 

 

Share artikel ini:

Artikel Terkait