Saatnya Mengajarkan Hemat Air

Bila menyimak penjelasan para ahli tentang persediaan air, waduuuh, memang penghematan sudah harus segera dilakukan oleh siapapun dan mulai sekarang juga.

Berdasarkan penelitian, dari keseluruhan jumlah air yang ada di bumi, hanya ada air tawarnya sebanyak 3%. Sisanya yang 97% adalah air laut. Kita tentu tidak bisa mandi dan minum dengan air laut.  Dari jumlah yang sedikit itu, konon hanya ada 0. 62% yang layak dikosumsi.

Artinya, jumlah air di bumi ini sebetulnya sangat sedikit dan terbatas dibanding dengan jumlah penggunaan air oleh manusia yang semakin meningkat. Mau tidak mau, suatu saat nanti air bersih akan menjadi barang yang sulit ditemukan atau menjadi benda mahal

Untuk mengantisipasi hal itu atau agar gambaran buruk itu tidak  menjadi kenyataan dengan cepat, maka solusi yang bisa kita lakukan kini adalah melakukan penghematan dan mengajarkan perilaku hemat kepada anak-anak.

Mengajarkan perilaku hemat menjadi sangat penting untuk anak-anak. Kenapa? Alasannya bukan semata terkait dengan air sebagai sumberdaya yang terbatas, tetapi juga menyangkut pendidikan cara berpikir dan tradisi.

Ketika kita berhasil mengajarkan anak-anak agar menghemat air, maka yang akan dihemat oleh anak kita bukan semata air. Dia akan belajar menghemat berbagai penggunaan, misalnya uang, barang-barang, bahkan termasuk keputusan dan tindakan.

Itulah maksud dari pendidikan cara berpikir dan tradisi.  Hemat tentu berbeda dengan pelit.

Hemat adalah menggunakan sesuatu sesuai ukurannya yang wajar, sesuai kebutuhan, sesuai kemampuan, atau sesuai keadaan.   

Dengan kata lain, untuk setiap kebaikan yang kita ajarkan, kita pun perlu mengajarkan batasannya. Sebab, kebaikan apapun yang melebihi batas, pasti jelek. Misalnya hemat menjadi pelit, kerdil, atau terlalu hitung-hitungan.

Mengajarkan anak menghemat air dapat dimulai dari  mengarahkan perilakunya saat menggunakan air secara berlebihan, misalnya saat mandi, gosok gigi, atau main air. Supaya anak-anak cepat mengerti, kita pun perlu cepat meresponi perilaku yang tidak hemat.

Agar pemahaman anak-anak lebih utuh dan luas, kita bisa mengkaitkan penjelasan kita dengan, misalnya ketebatasan air, perilaku yang baik dalam menggunakan nikmat, pengaruh perilaku kita terhadap kehidupan secara umum dan seterusnya.

Asalkan penjelasan kita “tidak terlalu serius” dan berbau menyerang anak, hampir bisa dipastikan anak-anak akan bisa menerima, entah sekarang atau nanti. Tentu yang tidak kalah pentingnya di sini adalah contoh dari orang dewasa, terutama kita dulu.

Share artikel ini:

Artikel Terkait