Tes Kesehatan yang Wajib Untuk Ibu

Ada beberapa tes kesehatan yang wajib dilakukan oleh seorang Ibu. Tergantung usia, dan faktor risiko yang dibawanya, jumlah dan jenis pemeriksaan yang wajib dilakukan tidak sama antara Ibu satu dengan Ibu lainnya. Misal yang punya riwayat keluarga dari ayah, ibu sampai moyangnya menderita kanker, tentu berbeda kewaspadaannya dalam melakukan tes dibanding yang tidak ada. Tes kesehatan apa saja itu?

RATA-RATA orang Indonesia, pria maupun wanita, berisiko mengalami keropos tulang (osteoporosis) karena berhenti atau jarang minum susu semenjak balita. Oleh karena sumber kalsium terpadat diperoleh dari susu, maka tidak lagi minum susu sejak kanan-kanak, kemungkinan tubuh kekurangan kalsium lebih besar dibanding yang terus minum susu sampai kapanpun ada usia.

Tubuh mendapat zat-zat gizi dari menu harian, khususnya yang kaya kandungan kalsium seperti produk susu dan ikan laut yang dimakan dengan tulangnya seperti teri. Jika tidak lagi minum susu sulit rasanya mengejar kecukupan kalsium; karena ± 240 mg kalsium dari segelas susu setara dengan kalsium dari 11/4 kilo ikan atau 21/2 atau 5 kilo nasi, cepat atau lambat, terancam keropos.

Maka pemeriksaan kepadatan tulang (bone-densitometry) wajib untuk wanita yang secara kodrati (menstruasi, hamil, nifas, menyusui) lebih beresiko kehilangan nutrisi. Mengapa? Sekira hasilnya sudah menunjukkan osteopenia (mineral tulang rendah) dengan kata lain menuju tulang keropos dapat dilakukan terapi untuk mencegah agar kekeroposan tidak berlanjut. Apa bahayanya jika tidak diterapi? Sewaktu-waktu bisa patah tulang yang tak terduga atau pathological fracture. Artinya, yang pada orang yang tidak osteoporosis tidak harus patah tulang bila terjatuh, atau cedera, namun pada yang osteoporosis berakhir dengan patah tulang.

Kecukupan kalsium tubuh bagi Ibu sekaligus untuk mempertahankan keutuhan geligi, terlebih bila masih ingin hamil. Kehamilan dengan kekurangan kalsium tubuh, akan menggerogoti gigi-geligi, bahkan rambut selain tulang.

Pemeriksaan haemoglobin (Hb) tak kurang pentingnya. Karena dampak anemia (kurang darah) kekurangan Hb meluas bukan saja pada kinerja Ibu mengurus keluarga, mengasuh dan membesarkan anak-anaknya. Ibu yang Hb-nya rendah rentan sakit, serta bila hamil dan melahirkan, berisiko menimbulkan aneka masalah.

Tes lendir-rahim (Paps smear) untuk mendeteksi kemungkinan adanya kanker leher rahim wajib dilakukan rutin paling kurang setahun sekali. Terlebih bagi wanita yang mewarisi bakat dari ibunya, atau saudara kandung yang sudah terkena. Harus segera langsung memeriksakan diri ke dokter bila muncul perdarahan lewat vagina sehabis melakukan hubungan seks (post coital bleeding), atau ada keputihan yang tak kunjung sembuh, dan rasa tidak enak terus di perut bawah.

Apabila Ibu mengalami keguguran berulang, dan menginginkan hamil kembali, perlu pemeriksaan darah khusus untuk itu (ACA, golongan darah rhesus-ABO), selain pemeriksaan darah TORCH (toxoplasma, rubella atau campak jerman, cytomegalovirus, dan herpes). Tujuannya untuk memastikan bukan itu penyebab keguguran yang berulang.

Pemeriksaan payudara sendiri (sarari) lakukanlah secara rutin setiap kali mandi. Bila meraba ada benjolan yang mencurigakan, sebaiknya langsung memeriksakan ke dokter. Terlebih perlu waspada jika punya bakat dari keluarga yang kena kanker payudara.

Untuk Ibu yang lama minum pil KB juga perlu memeriksakan fungsi hati selain pemeriksaan darah rutin. Ibu yang dipasang spiral, perlu rutin berkala memeriksakannya, terlebih jika sudah mulai ada keluhan tidak enak di perut bawah, atau muncul gejala perdarahan di luar haid.

Ibu muda (20 tahun kebawah), Ibu usia matang (35 tahun keatas) dan ibu yang ada riwayat keracunan kehamilan (toxaemia gravidarum) antara lain dengan 3 gejala:

  • bengkak (udema) pada tungkai kaki
  • tekanan darah tinggi,
  • hasil pemeriksaan urin positif terdapat albumin

Menjelang rencana hamil perlu kontrol betul tekanan darah tidak boleh meninggi. Pemeriksaan rutin protein (albumin) dan lemak darah (lipid) dilakukan terlebih bila pernah darah tinggi. Perlu juga pemeriksaan darah untuk kalium, natrium, selain memeriksa fungsi ginjal.

Ibu yang anaknya ada kelainan bawaan misal: lahir cacat, kelainan darah, sebaiknya melakukan konseling genetik. Tujuannya untuk memastikan bahwa kecacatan anak bukan karena adanya gen lemah dari orang-tua. Kasus thalasemia misalnya, lahir bila salah satu atau kedua orang tuanya mama membawa gen thalassemia.

Ibu yang mengidap diabetes, asma, TBC, gangguan jantung, masalah ginjal, hepatitis B atau C, HIV, TORCH positif, harus memeriksakan dulu status penyakitnya jika berencana hamil kembali. Kehamilan sehat layak diberlangsungkan dari hasil pemeriksaan berbagai hal dan dokter telah menilai aman bagi Ibu untuk hamil.

Share artikel ini:

Artikel Terkait