Tetap Berolahraga Saat Puasa

Tubuh bugar saat puasa, harus donk….karena disaat puasa sebaiknya tidak ada aktivitas jasmani yang berkurang dari jadwal harian. Tetap melakukan aktivitas sebagaimana dilakukan sebelum berpuasa. Hanya porsi dan jenis kegiatannya perlu disesuaikan dengan waktu dan kemampuan fisik masing-masing individu. Jika jenis pekerjaan atau kegiatan memerlukan kerja otot lebih banyak dibanding pikiran, tentu perlu disesuaikan dengan ketahanan fisik masihkah dapat menyesuaikankan, ataukah tidak. Termasuk dalam hal kegiatan berolahraga. Bagaimana melakukannya agar tetap menyehatkan?

TIDAK ada halangan berolahraga selama berpuasa, selama kondisi fisik masih dapat menyesuaikannya dengan kegiatan rutin. Tentu tubuh harus dalam keadaan sehat, tak sedang mengidap suatu penyakit yang tergolong penyakit tidak dianjurkan berolahraga dulu. Jenis olahraga yang menguras banyak tenaga, bagi yang tidak sedang berpuasa pun sudah terasa membebani, terlebih saat berpuasa. Apa batasan kapan kegiatan berolahraga perlu dihentikan demi tidak mengganggu kesehatan?

Letih berlebihan, peluh banyak terkuras, dan tubuh sampai terancam kekurangan cairan (dehidrasi). Rasa badan tak bertenaga; haus yang luar biasa; tangan dan kaki gemetar; mungkin mata berkunang-kunang, dan mengantuk yang berlebihan. Itu suatu tanda, bahwa tenaga atau energi yang terkuras sudah berlebihan.

Jadi, apa pun jenis olahraganya, patokannya sama. Jangan sampai muncul keluhan dan gejala seperti tersebut di atas. Begitu merasakannya, kurangi porsi olahraga, atau mengganti jenis olahraga yang lebih ringan dan pilih di ruangan tertutup (indoor), misalnya Main pingpong lebih enteng dibanding volley. Pilihlah olahraga yang tidak terlampau menguras tenaga, dan keringat yang keluar tidak sampai berlebihan.

Prinsip olahraga yang menyehatkan itu selain gerak (kinetik), aerobic juga perlu tercapai. Otot yang bergerak melancarkan aliran darah, dan melenturkan otot-otot. Jantung lebih aktif bergiat, dan zat asam (oksigen) lebih banyak tertangkap.

Sesungguhnya tak perlu memilih olahraga khusus bila hanya dengan jalan kaki, aerobic bisa tercapai. Caranya jalan kaki cepat ("brisk walking"), layaknya jalan tergopoh-gopoh sekitar 100 meter/menit atau laju 6 Km/jam, ditempuh dalam 40-50 menit setiaphari, sudah cukup memadai. Dengan berjalan kaki biasanya tidak sampai menguras keringat banyak seperti sehabis main volley, badminton, atau tennis. Namun pilihan berjalan kaki cepat memberikan nilai aerobic yang kurang lebih sama dengan pilihan lain. (J.Cooper).

Ketahanan jasmani dalam melakukan aktivitas fisik seseorang (endurance) selama berpuasa, juga dipengaruhi oleh kebugaran fisik sebelum berpuasa. Dua yang penting di sini, yakni cadangan gula, dan keseimbangan cairan tubuh.

Hal lain yang ikut menentukan ketahanan jasmani selama melakukan aktivitas fisik saat berpuasa, ditentukan juga oleh jenis dan porsi menu yang dipilih selama sahur. Pilihan jenis menu sumber karbohidrat dari tepung seperti nasi, mie atu roti dan ubi akan lebih memberikan kekuatan bertahan dibanding jika mengonsumsi gula pasir seperti yang diperoleh dari sirop, cokelat, limun, atau es krim.

Waktu aman berolahraga, sebaiknya selagi udara masih segar, dan kadar gula dalam tubuh belum turun sampai titik terendah, misalnya pagi hari. Namun saat gula darah turun di tengah hari, normalnya terjadi mekanisme tubuh akan "memanggil sinyal" agar tubuh memproses cadangan gula dari hati (glikogenolisis) atau membuat gula-darah-baru dengan merontokkan cadangan lemak tubuh (glukoneogenisis). Maka di sore hari gula darah (umumnya) telah normal kembali dengan tanda tidak merasa oyong dan lemah, brisk-walking di sore hari sekira 40-50 menit menjelang maghrib bisa saja dilakukan sesuai kemampuan tubuh. Pilihlah tempat jalan-kaki yang minim polusi dan dekat dengan tempat berbuka, hitung-hitung sekalian ngabuburit menunggu bedug tiba, begitu sebagian energi dan cairan terkuras, dapat segera tergantikan saat berbuka, tentu saja tidak dengan cara "balas-dendam".

Dari hari ke hari akan terasa sendiri, sekaligus terukur, seberapa besar aktivitas jasmani bisa ditoleransi dalam kondisi berpuasa. Selama belum muncul keluhan dan gejala sebagaimana diungkap di atas, berarti porsi dan jenis olahraganya masih bisa diterima tubuh. Kita perlu menakar ulang aktivitasnya apabila sudah sampai menimbulkan keluhan, gejala, atau mungkin memunculkan komplikasi. Bagi yang bermasalah kesehatan, amannya konsultasi dahulu dengan dokter tentang takaran aktivitas jasmani saat berpuasa maupun tidak.

Share artikel ini:

Artikel Terkait