Tips Berpikir Positif

Rahasia di balik kebiasaan berpikir positif sudah banyak diungkap oleh berbagai temuan dan ajaran. Berpikir positif akan membantu kekebalan tubuh sehingga tidak mudah terkena penyakit.

Berpikir positif punya efek rasa yang membuat orang bisa relatif lebih bahagia sehingga mempengaruhi kebugaran jiwa dan raganya. Ini akan membuat orang ringan untuk berbuat baik.

Sebaliknya, dengan berpikir negatif, akan membuat perasaan kita menanggung beban negatif. Hal ini memicu stres. Kekebalan kita akan terkikis oleh stres yang kita biarkan.

Dimanapun kita menemukan orang yang derajat hidupnya di atas rata-rata lingkungannya. Hampir bisa dipastikan orang itu punya pikiran yang lebih positif dibanding rata-rata orang di sana.

Semua ajaran di dunia ini, mau itu agama atau kearifan, membuat satu kesimpulan bahwa berpikir positif itu adalah sebab atau alat untuk mengundang nikmat, dalam berbagai bentuk yang tidak bisa dijabarkan satu persatu.

Kalau kita ingin mendapatkan nikmat yang banyak, caranya adalah dengan berpikir positif sebanyak mungkin, bukan dibalik, dalam arti menunggu datangnya nikmat dulu, baru berpikir positif.

Nah, satu hal yang paling mendasar terkait dengan anjuran berpikir positif ini adalah: untuk menghasilkan pikiran yang positif, satu-satunya cara adalah memperjuangkannya—mengusahakan secara sadar melalui latihan dan pembiasaan).

Ini beda dengan pikiran negatif. Kita biarkan saja pikiran kita, lama-lama akan terisi sendiri oleh kenegatifan. Sudah begitu, kenyataan di sekeliling kita pun lebih mendukung untuk berpikir negatif.

Intinya, kita baru bisa berpikir positif setelah kita menciptakannya. Untuk menciptakan itu bisa dilakukan dengan antara lain:

  • Menciptakan opini, pemahaman, atau pemaknaan yang menyehatkan dan yang membahagiakan, mulai terhadap diri, lingkungan, alam dan Tuhan. Apa yang kita pikirkan pasti akan mempengaruhi apa yang kita rasakan.
  • Melawan datangnya muatan pikiran yang menyakitkan atau yang mengesalkan, antara lain dengan beraktifitas positif yang ringan, berdialog, atau aktifitas lain yang membuat kita tidak kebablasan terbebani kenegatifan.
  • Mengolah pikiran negatif itu untuk mengantisipasi atau kita olah menjadi aksi positif, misalnya mengubah kekecewaan menjadi motivasi untuk berkembang.

Semoga bermanfaat!

Share artikel ini:

Artikel Terkait