Berkarya di Pekerjaan yang Didominasi oleh Pria

Bila dulu profesi yang digeluti wanita relatif terbatas, maka kini tidak lagi. Kesempatan untuk memasuki banyak bidang terbuka lebar, juga dalam bidang-bidang yang didominasi oleh pria. Salah satunya adalah Pretty Mayang Arum, yang berprofesi sebagai environmental engineer. “Dulu karena idealisme saja, melihat kondisi Jakarta yang banjir dan ingin melakukan sesuatu untuk memperbaiki kondisi tersebut,” ujarnya sembari tertawa saat ditanya tentang ketertarikannya menekuni bidang tersebut.

Usai menamatkan pendidikan di jurusan teknik lingkungan Institut Teknologi Bandung, Pretty menemukan bahwa bidang industri justru lebih menarik karena kental akan unsur rekayasan dan manajemen lingkungan. Selama empat tahun terakhir, Pretty telah bekerja di bidang Health, Safety & Environment (HSE) pada industri manufacturing dan construction-fabrication. Saat ini ia sedang menempuh pendidikan selama kurang lebih satu tahun, dan awal tahun 2009 akan kembali bertugas di lapangan sebagai HSE officer di sebuah perusahaan minyak & gas.

Diakui Pretty, saat ini masih relatif sedikit perempuan yang menggeluti bidang kerjanya. “Dari satu angkatan, mungkin hanya sekitar 20% saja,” ujarnya. Padahal menurutnya, profesi ini terbilang menyenangkan untuk digeluti. “Yang menyenangkan, kita tidak hanya melakukan tugas di belakang meja, namun juga bisa memperlajari proses dan dekat dengan alam. Kita bisa melakukan penelitian, desain, hingga operational lapangan, jadi cenderung tidak jenuh. Selain itu, kita juga terekspos dengan berbagai pihak, karena kita bekerja sama dengan banyak pihak,” paparnya.

Meski bekerja di lingkungan yang mayoritas laki-laki, Pretty justru melihat sisi feminin wanita menjadi nilai tambah tersendiri. “Saya justru bisa bersikap lebih persuasif di antara sikap tegas rekan kerja pria. Jika ingin menyelesaikan suatu masalah, saya menempatkan diri sebagai wanita dengan sikap feminin, misalnya dengan cara lebih ‘halus’ seperti lewat gurauan.

Namun begitu, Pretty juga mengakui adanya beberapa kendala bekerja di bidang yang mayoritas digeluti laki-laki. “Secara fisik harus diakui perempuan lebih terbatas dibanding laki-laki untuk melakukan aktivitas fisik yang berat, misalnya harus memanjat bangunan tinggi dengan tangga vertikal,” kisahnya. Menjadi minoritas dalam lingkungan pria diakuinya kerap membuatnya dicandai para rekan kerja. “Kalau mood sedang baik, paling saya menanggapi dengan bercanda juga atau berusaha membelokkan topik pembicaraan. Tapi kalau sudah keterlaluan, saya tunjukkan bahwa saya marah,” ujarnya.

Kendala lain yang menurutnya juga kerap dialami oleh perempuan adalah dipandang sebelah mata oleh rekan kerja. “Karena itu saya berusaha mengembangkan keahlian dengan konsentrasi di bidang lingkungan. Dengan memiliki keahlian tersebut tidak ada perlakuan berbeda karena perempuan atau laki-laki, namun berdasarkan keahlian,” ujarnya.

Bagi para perempuan yang ingin memasuki dan survive di bidang kerjanya ini, Pretty berpendapat bahwa yang terpenting adalah rasa percaya pada kemampuan yang dimiliki. “Perempuan harus percaya bahwa kita tetap mampu bersikap tough, namun tetap memiliki karakter dasar perempuan (keibuan) dalam dunia kerja yang mayoritas laki-laki. Pada dasarnya potensi kita tidak kalah dengan laki-laki, sepanjang kita percaya bahwa kita bisa melakukannya. Justru kita manfaatkan sisi feminin untuk memperlancar kerja sama, untuk mencapai kepentingan perusahaan,” tegasnya.

Share artikel ini:

Artikel Terkait