Bersikap Persuasif

Tak perlu menjadi Romy Rafael atau David Copperfield untuk membuat orang lain melakukan apa yang Anda inginkan. Ada cara lebih mudah untuk melakukannya. Kuncinya ada pada teknik bicara dan sikap tubuh Anda. Mudah kok dipelajari.

Sebenarnya secara alami, setiap orang sudah memiliki kemampuan untuk membuat orang melakukan apa yang dia inginkan. Lihat saja bayi, akan menangis untuk memberitahu ibunya bahwa dia lapar agar segera diberi makan, atau menangis karena popoknya sudah penuh agar si ibu segera menggantinya. Anak kecil akan ngambek bergulingan di lantai dan menangis keras ketika ibunya menolak membelikan mainan.

Tentu dunia orang dewasa tidak sesederhana itu. Tapi tetap saja, baik bayi, anak kecil maupun orang dewasa punya modal ampuh untuk membuat orang melakukan apa yang dia mau, yaitu gerak tubuh dan suara.

  1. Kendalikan Suara
    Untuk pengendalian suara, perhatikan hal-hal di bawah ini:
    * Artikulasi, agar artikulasi jelas, harus ada cukup udara untuk paru-paru, pita suara tidak rusak, mulut dan lidah bekerja serasi. Pastikan mulut tidak kekurangan cairan, karena akan menganggu gerak mulut dan lidah.
    * Pronunciation, atau cara pengucapan kata-kata harus jelas.
    * Pitch, atau tinggi rendah suara harus diatur, jangan sampai terdengar monoton.
    * Kecepatan bicara, adalah faktor penting. Jangan bicara terlalu cepat sehingga tidak jelas dan selip lidah, atau terlalu lambat seolah Anda menggurui seperti bicara dengan anak kecil. Menurut para ahli, bicara 140-160 kata per menit cukup ideal. Telinga dan otak manusia mampu menolah 400 kata per menit. Jadi jika bicara Anda melambat pikiran pendengar melayang ke mana-mana alias tidak menyimak pembicaraan.
    * Pause, atau jeda dalam pengucapan kata-kata. Jika Anda ingin pendengar meresapi satu kata penting atau kata kunci, cobalah jeda satu detik sebelum dan dua detik setelah pengucapan kata itu.
    * Volume, jaga volume suara sesuai suasana. Jangan bicara terlalu keras karena justru tidak efektif, namun bila pelan namun jelas lawan bicara justru akan berkonsentrasi pada ucapan Anda. Namun jangan pula terlalu pelan sampai tak terdengar.
  2. Percaya Diri
    Untuk meyakinkan lawan bicara, yakinkan dia dulu bahwa kita cukup punya kredibilitas. Kemasan harus menarik dulu sebelum orang tertarik pada isinya, ya kan? Yakinkan diri dulu pada ide atau konsep yang akan disampaikan, baru bisa meyakinkan orang lain. Tampillah percara diri dan rasional. Gunakan kata-kata positif "akan" dan "harus" daripada "mungkin" dan "bisa jadi". Postur tubuh juga mencerminkan kepercayaan diri, berdirilah dengan tubuh tegak meski tidak harus seperti tentara.
  3. Perbanyak Informasi
    Perbanyak amunisi informasi tentang apa yang akan disampaikan. Orang akan lebih teryakinkan oleh orang yang berpengetahuan luas melebihi dirinya. Gunakan kata-kata sederhana yang mudah dimengerti daripada kata-kata bersayap. Atau bila memang tidak tahu, jujurlah bilang tidak tahu ketimbang bicara berputar-putar untuk menutupi kekurangan.
  4. Tunjukkan Emosi
    Jangan sungkan menunjukkan sedikit emosi atau perasaan dalam pembicaraan, meski jangan pula terlalu berlebihan sehingga terkesan dramatis. Tanpa emosi, ucapan atau kata-kata akan terdengar dingin tak ubahnya diucapkan robot. Bila berlebihan pun kesannya berakting. Mengalir saja. Secara naluriah, tangan dan kepala ikut bergerak-gerak mengikuti alunan suara dan emosi, jangan tahan gerakan ini.
  5. Tatap Mata
    Selama bicara, tatap mata lawan bicara. Ini akan membuat dia merasa dihargai. Konon mata adalah jendela hati. Bagaimana reaksinya mendengar kata-kata Anda, bisa dilihat dari matanya, sehingga Anda dapat mereka-reka langkah selanjutnya. Lawan bicara juga bisa melihat kesungguhan Anda dari mata.
  6. Gerak Tubuh
    Dalam berbicara one on one, sikap tubuh tertentu bisa mempermudah pembicaraan atau justru merusaknya. Bila selama pembicaraan bertolak pinggang, mengesankan orang tersebut agresif. Bila menyembunyikan tangan di belakang tubuh, kesannya menyembunyikan sesuatu. Dan bila melipat tangan di dada, kesannya seolah berhati-hati dan siap mengawasi. Yang aman memang melepas tangan di samping tubuh dan rileks, lawan bicara pun akan merasa nyaman.

(PT. Nestlé Indonesia bekerja sama dengan Majalah Chic)

Share artikel ini:

Artikel Terkait