Beginilah Beda Cara Berpikir Laki-laki dan Perempuan

Ibu pasti pernah berselisih paham dengan pasangan masing-masing. Terkadang, pemicu perselisihan adalah perkara sepele. Menyebalkan, tentu saja.

Tapi Ibu harus bersabar. Jangan sampai hubungan yang dibina berujung perpisahan.

Hampir tak ada pasangan yang ingin hubungannya berantakan. Maka, setiap pasangan harus menyadari hal dasar, bahwa laki-laki dan perempuan berbeda. Tak cuma berbeda soal penampilan fisik, namun juga cara berpikir.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa otak laki-laki dan perempuan memang berbeda. Tak cuma soal berat dan volume, namun lebih kompleks dari itu. Salah satu contohnya adalah salah satu bagian otak yang dinamakancorpus callosum, yaitu bagian yang menghubungkan otak kiri dan kanan manusia. Pada perempuan, corpus callosum jauh lebih besar dan lebih tebal.

Sebaliknya, ada bagian lain yang lebih besar dimiliki oleh laki-laki, yaitu bagian limbic system yang bernamaamygdala. Namun, jarak saraf yang terkait emosi pada otak laki-laki lebih sedikit ketimbang perempuan. Walhasil, kemampuan daya ingat terhadap peristiwa yang sarat dengan muatan emosional lebih kuat pada otak perempuan dibandingkan pada laki-laki.

Baca Juga : Memahami Bahasa Cinta Si Kecil
 

Demikian juga aliran darah pada otak perempuan sekitar 15% lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki. Saat memproses emosi, lebih banyak area fisik otak (cortical area) perempuan yang aktif daripada laki-laki.

Perempuan dan bicara
Otak perempuan pun memiliki pusat-pusat bicara yang lebih banyak ketimbang laki-laki. Walhasil, perempuan sangat "hobi" berbicara.

Bila perempuan dalam keadaan tertekan, misalnya, perempuan suka berbicara kepada laki-laki (suami). Sikap ini menunjukkan penghargaan dan kepercayaan mereka.

Sebaliknya dalam situasi yang sama, laki-laki cenderung lebih banyak berdiam diri dan menyendiri. Bahkan, jika pasangan mulai bertanya (yang dimaknai sebagai kepedulian), lelaki justru merasakannya sebagai gangguan.

Wow, kompleks dan bertentangan, ya? Tapi pertentangan seharusnya tidak menjadi pemicu perselisihan, kan? Justru perbedaan itu menjadi jalinan untuk kian memperkuat hubungan.

Share artikel ini:

Artikel Terkait