Let’s Do Something for Others!

Perempuan diberi kemampuan multi tasking. Manfaatkan kelebihan ini untuk membantu orang lain. Tak perlu takut kendala waktu atau tenaga. Asal punya niat dan komitmen, Anda pasti bisa melakukannya!

Konon perempuan adalah makhluk multi tasking, alias mampu memikirkan dan melakukan banyak hal secara bersamaan. Pantas saja kalau kemudian Anda jadi piawai mempelajari laporan keuangan sembari menemani anak bermain dan mendengarkan talk show di televisi. Selain memanfaatkannya untuk diri sendiri dan keluarga, "kelebihan" ini sebenarnya juga bisa Anda manfaatkan untuk membantu orang lain di sekitar Anda.

Alasan kesibukan bekerja dan mengurus keluarga tampaknya tak perlu menjadi halangan. Beberapa wanita buktinya mampu melakukannya, dengan caranya masing-masing. Salah satu contohnya adalah Ratna Megawangi, Ph.D., istri dari Menteri Negara BUMN, Dr. Sofyan A. Djalil, SH, MA, MALD. Di luar kesibukan mengurus keluarga dan mendampingi suami dalam kegiatan-kegiatan resmi, perempuan kelahiran tahun 1958 ini juga berprofesi menjadi dosen dan dikenal sebagai penulis buku andal. Di antara berbagai aktivitas itu, ia pun punya kepedulian pada kualitas pendidikan bangsa, dan menjadi salah satu pendiri Indonesia Heritage Foundation yang mengelola sekolah-sekolah berkarakter di seluruh Indonesia!

Jangan takut tak punya cukup waktu untuk berbuat sesuatu untuk orang lain. Asal memiliki komitmen Anda akan mampu membagi perhatian untuk kepentingan sesama, misalnya memanfaatkan kemajuan teknologi, hingga memilih bentuk kegiatan yang dapat Anda lakukan dari rumah. Bukan hanya orang lain yang akan terbantu oleh upaya Anda lho, Anda pun akan mendapatkan beberapa "keuntungan"! Beberapa penelitian menunjukkan bahwa dengan menjadi relawan, seorang individu akan mendapatkan kepuasan hidup yang lebih tinggi dan meningkatkan rasa percaya diri.

Dengan memanfaatkan teknologi komunikasi, Revina Pane yang bekerja penuh waktu di sebuah perusahaan perminyakan masih dapat aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Sebenarnya secara pribadi ia bersama keluarga telah sering berbagi kasih ke panti asuhan atau anak yatim, namun ia menjadi lebih aktif setelah bergabung dengan milis sebuah majalah wanita. “Anggota milis sering mengadakan acara pertemuan. Lama-lama terpikir kenapa tidak melakukan aksi sosial saja. Kegiatan pertama adalah kunjungan ke rumah sakit mengunjugi anak-anak sakit dari keluarga kurang mampu, dalam rangka hari ibu internasional. Setelah dipikir, rasanya kalau setahun sekali kok kurang, maka kami melanjutkannya dengan menggagas donor darah,” kisahnya.

Meski bekerja, ia tak mengalami kesulitan membagi waktu. “Sekarang kan teknologi sudah canggih, bisa memanfaatkan e-mail dan handphone. Menggalang dana hingga mengumpulkan barang yang akan disumbangkan bisa dilakukan via e-mail. Pertemuan dengan panitia baru dilakukan saat menjelang acara saja,” paparnya tentang kiat membagi waktu. Hingga kini ia memang memilih tidak bergabung dengan lembaga atau yayasan tertentu karena pertimbangan waktu. “Saya takut tidak bisa menjaga komitmen karena saya masih bekerja penuh waktu,” ujarnya memberi alasan. Bagi wanita yang setahun belakangan lebih fokus membantu penderita kanker anak ini, membantu orang yang membutuhkan membuatnya merasa senang dan bahagia. “Mudah-mudahan ini menjadi ibadah yang bisa menjadi tabungan buat nanti,” ujarnya singkat.

Lain lagi dengan pilihan yang diambil Miranti Wahyuningtyas Pudjowibowo Tarunokusumo, yang biasa dipanggil Nina. Saat mengantar ibunya yang seorang survivor kanker untuk check-up di sebuah rumah sakit kanker di Jakarta, ia mendapatkan informasi tentang kegiatan di bangsal anak. “Entah kenapa sejak awal melihat mereka, saya langsung merasa terikat. Meski awalnya saya ditarik untuk menjadi relawan untuk pasien dewasa, saya merasa di bangsal anak ada attachment yang berbeda,” kisahnya.

Diawali dengan keterlibatan sebagai relawan lepas, Nina kemudian terlibat lebih dalam dengan Yayasan Pita Kuning yang bergerak di bidang kanker anak. Kebetulan sejak sang ibu sakit ia memilih untuk berhenti bekerja, dan beraktivitas mengajar bahasa Inggris di sore hari dan akhir pekan. “Selama setahun terakhir saya memang lebih banyak mengurus penggalangan dana. Tapi juga mendamping anak-anak saat akan menjalani tindakan, menemani mereka main dan ngobrol, atau mengajari bahasa Inggris,” ujarnya tentang kegiatan yang dilakoninya.

Keterlibatan Nina memang tidak main-main. Ia datang tiap hari Senin hingga Jumat, dari pukul delapan hingga pukul dua siang. “Karena untuk pengobatan kan harus mengeluarkan uang setiap hari. Juga harus menghubungi para donatur untuk anak-anak yang memerlukannya,” paparnya. Bagi Nina, berinteraksi dengan anak-anak penderita kanker telah membuka hatinya. “Dalam usia yang masih muda dan kadang dalam kondisi ekonomi terbatas, mereka diberi cobaan yang luar biasa. Saya jadi berpikir bahwa kita harus mensyukuri hidup. Kerap kali kita tidak bisa mensyukuri apa yang kita punya. Sering ngeluh kurang ini dan itu, padahal dikaruniai anak yang sehat,” ujarnya.

Apa pun itu, banyak yang bisa Anda lakukan untuk orang lain. Banyak orang yang telah membuktikan mereka bisa, kenapa tidak mulai sekarang? Misalnya ikut berpartisipasi dalam pogram 1000 Buku Untuk Tunanetra yang digagas Yayasan Mitra Netra. Hanya dengan kemampuan mengetik dengan program MS Word, Anda dapat mengetik ulang buku yang ada dalam daftar mereka atau yang Anda pilih sendiri, yang kemudian akan dikonversi menjadi buku Braille atau buku elektronik sehingga para tunanetra pun bisa menikmatinya. Tanpa perlu melangkahkan kaki dari rumah pun Anda bisa berpartisipasi!

Share artikel ini:

Artikel Terkait