Matikan Mood Kantor Anda Ketika Sampai Di Rumah

Ada cerita menarik dari pengalaman masa kecil mantan Presiden Amerika, Benjamin Franklin. Karena dia sangat bernafsu membeli seruling, uang tabungannya ia habiskan untuk membayar seruling. Setelah sampai di rumah, saudaranya yang merasa terganggu dengan bunyi seruling yang dimainkan Franklin, bertanya berapa harga serulingnya.

Mendengar jawaban Franklin, saudaranya kaget lalu menasehatinya begini: “Don’t give too much for the whistle!” Sampai Franklin menjadi presiden, nasehat pendek itu selalu ia ingat, “Jangan membayar terlalu banyak untuk sebuah seruling” (hanya karena nafsu, ambisi, atau lupa diri).

Di Gedung Putih, Franklin menyaksikan banyak orang yang membayar terlalu besar untuk sebuah seruling, seperti dirinya pada waktu masih kecil. Karena ambisi, nafsu, dan lupa diri, mereka mengorbankan banyak hal, dari dirinya sampai  keluarganya.

Sebagai ibu yang bekerja, kita pun bisa saja bernasib seperti masa kecilnya Franklin. Kita mengorbankan banyak hal karena ambisi, lupa diri, atau nafsu. Kita kehilangan keseimbangan antara perhatian kita terhadap tugas-tugas kantor dan peranan kita di rumah. Kita terlalu hanyut dan larut  pada urusan kantor hingga sampai di rumah pun pikiran kita masih terbawa ke sana.

Tidak berarti kemudian bekerja itu membahayakan bagi seorang ibu. Bekerja dan tidak bekerja pada dasarnya sama saja. Sebab, bahaya dan tidak bahayanya itu bukan terletak pada pekerjaannya, tetapi terletak pada pikirannya. Pikiran yang tidak seimbang dapat membuat kita terkena workaholic yang tidak sehat. Ciri-cirinya antara lain:

  • Kita tidak memiliki batasan mental yang jelas antara urusan rumah dan urusan kantor
  • Dimanapun kita berada, yang menjadi prioritas utama di kepala kita adalah urusan pekerjaan
  • Kebahagian kita hanya dirasakan ketika bersentuhan dengan pekerjaan
  • Kita merasa stress dengan urusan pekerjaan
  • Kita tidak tertarik dengan hal-hal yang berbau menyenangkan dna hiburan karena urusan pekerjaan
  • Kita memikirkan pekerjaan meskipun kita sedang liburan

Supaya itu tidak terjadi, kita perlu menjalani hidup ini seperti orang menjalankan kendaraan. Ada saatnya kita harus menancap gas, menahan kopling, dan menginjak rem.  Ada saatnya kita harus berkonsentrasi untuk urusan kantor, urusan rumah, urusan diri sendiri, urusan anak-anak, dan seterusnya.

Agar kita tidak lupa diri terlalu lama, kita diperintahkan untuk menjaga hubungan dengan diri sendiri dan Tuhan, melalui ibadah atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan spiritual, misalnya untuk apa saya bekerja, apa saja yang paling bernilai pada hidup saya dan keluarga, apa dampak perilaku saya bagi pasangan, dan anak-anak, dan lain-lain. Jika jawabannya kita temukan, kesadaran kita akan muncul.

Semoga bermanfaat.

* lifeskill facilitator, penulis dan learning counselor


 

Share artikel ini:

Artikel Terkait