Membawa Kebiasaan Baik Di Tempat Kerja

Semua manusia di dunia ini meyakini adanya berkah, terlepas itu disadari atau tidak atau terlepas istilahnya mau pakai berkah atau tidak. Berkah adalah berbagai kebaikan yang sifatnya mengandung plus (sulit diungkapkan seluruhnya).

Berkah itu datangnya bisa dari sebab-sebab yang tak terduga atau yang bisa diduga. Misalnya kita sering mengatakan istilah “Semoga sukses” atau “Mudah-mudahan berhasil” atau istilah lain yang pengertiannya seperti itu, entah good luck atau apa saja.

Kalau ditelusuri, saat kita mengucapkan itu, kita sedang mengharapkan adanya kebaikan plus dari sumber-sumber yang tak terduga. Atau misalnya kita berpikir bahwa jika kita baik kepada orang lain, maka akan ada kebaikan untuk kita, entah dari orang itu atau dari orang lain (lingkungan).

Demikian juga dengan tempat kita bekerja. Ada tempat yang bisa disebut penuh berkah, tetapi ada yang krisis berkah, alias masalahnya banyak, dari sumber yang terduga dan yang tak terduga. Kita sering menyebutnya dengan istilah “hawanya kurang mendukung” 

Supaya tempat kerja kita mengandung banyak berkah (berbagai kebaikan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata), kita pun perlu menjadi si Pembawa Berkah. Cara-caranya bagaimana? Secara spiritual, berkah itu bisa diundang dengan melakukan antara lain:

  • Jadilah orang yang membawa kedamaian, bukan pembawa permusuhan atau pertengkaran.
  • Jadilah orang yang menjalankan tanggung jawab atau kesepakatan yang sudah disetujui. Begitu kita mengingkari, mengabaikan, atau melanggar, kita menjadi pembawa masalah buat kita dan lingkungan.
  • Jadilah orang yang punya budaya untuk memperbaiki, bukan orang yang suka merusak, entah tatanan fisik atau non-fisik, misalnya perusak etika, norma, atau budaya yang baik.

Di luar dari ketiga hal di atas, kata kunci yang bisa kita pedomani adalah menjadi diri sendiri 100% dengan karakter kita, tapi pada saat yang sama, kita juga perlu menjadi makhluk sosial yang 100% juga. Artinya, tidak bisa kita seenaknya sendiri, tetapi tidak bisa juga kita serba mengikuti lingkungan.

Atau perlu ada pemahaman bahwa setiap tindakan kerja yang kita lakukan, perlu ada pemikiran mengenai sejauhmana tindakan saya ini memberi dampak bagi orang lain. Ini agar kita bisa menjadi si Pembawa Berkah, bukan si Pembawa Masalah.

Semoga bisa kita praktekkan.

* lifeskill facilitator, penulis dan learning counselor

Share artikel ini:

Artikel Terkait