Bagaimana Menghadapi Bos Yang Belum Matang?

Tidak semua orang yang menduduki jabatan sebagai bos itu sudah cukup matang. Misalnya, bos kita termasuk orang yang suka membawa-bawa masalah rumah ke kantor atau bos kita ini perfeksionisnya sangat tidak sehat.
 
Terlepas dari apakah bos kita matang atau tidak, selama kita masih di bawah supervisinya, maka kita tetap dituntut untuk harus bisa bekerja. Lain soal kalau kita punya pilihan lain.

Lalu, apa yang perlu kita lakukan? Tentunya, yang perlu kita sadari adalah jangan sampai kita berpikiran untuk mengubah bos. Yang lebih penting untuk kita pikirkan adalah bagaimana mengubah cara kita menghadapi bos. Yang sering terjadi, orang lain akan berubah jika kita mengubah cara kita. Bentuk perubahan cara yang diperlukan itu antara lain:

  • Tetap berusaha bisa bekerja / berperilaku seprofesional mungkin. Kerjalah pada waktunya, kerjakan tugas seoptimal mungkin, dan tinggalkan pekerjaan pada waktunya juga. Ini akan memberikan pesan bahwa Anda profesional.
  • Berusahalah untuk bisa menghadapi dengan tenang dan sopan dalam kondisi apapun, misalnya saat bos marah tanpa alasan yang jelas. Ingatkan diri Anda untuk tidak menjadikan situasi kantor sebagai momok yang menakutkan, tetapi sebuah situasi yang perlu Anda pelajari agar Anda lebih matang. Akrabkan diri Anda dengan situasi seperti itu.
  • Hindari perdebatan atau konfrontasi. Lebih baik arahkan ke diskusi atau meminta pendapatnya. Jika Anda ingin membantahnya, bantahlah dengan fakta, realita atau data. Jangan membantah dengan argumen atau asumsi pribadi.
  • Jangan lupa mencatat apa yang ditugaskan, hasil yang diharapkan, rambu-rambu yang perlu dijaga. Ini supaya bos Anda tidak menuntut kesempurnaan yang melebihi batas.
  • Seiring dengan kematangan Anda, mulailah menunjukkan gaya interaksi yang tidak nampak takut tapi tetap sopan. Tingkatkan pengetahuan, pengalaman, jaringan, dan penguasaan situasi. Ini akan pelan-pelan mengubah perilaku si bos dan perlakuannya kepada Anda.

Inti dari semua ini sebetulnya adalah jangan sampai kita menjadi korban situasi yang hanya bisa mengeluh,  menuding keadaan atau merasa terancam oleh situasi. Sebaliknya kita perlu belajar menjadi orang yang tangguh, di mana kita selalu melihat peluang dan tantangan dari setiap situasi, berusaha untuk  menemukan sikap dan tindakan yang tepat bagi kemajuan kita.

Di sisi lain, situasi demikian juga perlu kita pahami dari sisi spiritual. Jika kita sudah berusaha mendapatkan yang terbaik tetapi belum terwujud, maka kenyataan itu perlu kita hayati sebagai pendidik kita, yang pasti nanti ada gunanya.

Semoga bermanfaat.

* lifeskill facilitator, penulis dan learning counselor

Share artikel ini:

Artikel Terkait