Menghadapi Si Sulit di Tempat Kerja

Menghindari konflik dengan rekan kerja yang menyulitkan dapat dilakukan dengan cara yang tepat, Anda justru akan belajar banyak tentang people management.

Idealnya, rekan kerja adalah ”teman seperjuangan” dalam menyelesaikan tugas dan target bersama. Namun yang kerap terjadi, hubungan Anda dengan rekan kerja tak semulus jalan tol. Maklum saja, perbedaan kepribadian dan cara kerja mau tak mau sering menyebabkan konflik. Jangan biarkan, karena bila tak terselesaikan, konflik-konflik ini dapat mengurangi produktivitas dan menyebabkan suasana kerja tidak menyenangkan.

Secara umum, konflik di tempat kerja terjadi karena perbedaan pendapat tentang ide atau keputusan dalam pekerjaan (conflict of ideas) atau ketidaksesuaian antar pribadi (personality clash). Bila individu-individu yang terlibat mau bertukar pikiran untuk mendapatkan solusi, conflict of ideas justru dapat mendorong terjadinya perubahan yang positif, misalnya cara kerja yang lebih efektif dan terobosan ide-ide segar. Sebaliknya, personality clash sering menyebabkan stres dan suasana kerja yang tak kondusif.

Personality clash juga kerap terjadi karena beberapa tipe rekan kerja yang memiliki kepribadian sulit. “Jangan membiarkan hal ini, terutama bila telah mempengaruhi kinerja yang bersangkutan, kinerja Anda dan rekan lain, maupun kualitas hubungan dengan klien,” tegas Gary S. Topchik, pengarang Managing Workplace Negativity. Menurutnya langkah pertama adalah peka mengenali perilaku negatif di tempat kerja dan mencari tahu penyebabnya, lalu bantu individu bersangkutan untuk mengatasi atau mengubah sikap ini.

Anda harus mulai dari mana? “Menghadapi tipe yang berbeda memerlukan pendekatan yang berbeda pula. Untuk beberapa tipe orang, pendekatan terbaik mungkin berbicara secara langsung dengannya. Untuk tipe lain mungkin dibutuhkan cara yang lebih halus dan tidak langsung,” saran Patricia Gosling, pengarang Mastering Your Ph.D.: Survival and Success in the Doctoral Years and Beyond.

Berikut beberapa tipe rekan kerja yang menyulitkan dan tips untuk menghadapinya:

Si Buldozer. Baginya tak ada yang lebih benar dibanding dirinya, dan menganggap semua orang harus melakukan semua hal dengan caranya. Tak jarang tanpa diminta ia akan panjang lebar menjelaskan apa cara terbaik menyelesaikan suatu tugas. Solusi: Tak perlu konfrontasi dengannya. Dengarkan saja yang dikatakannya, lalu ungkapkan pendapat dan pemikiran Anda dengan cara seolah bertanya. Misalnya: “Cara yang kau sarankan kelihatannya bagus juga, tapi pernahkah terpikir untuk mencoba cara ini?” Dukung pendapat Anda dengan alasan yang logis dan contoh-contoh nyata. Dengan cara ini, ia akan belajar bahwa ”banyak jalan menuju Roma” dan tak selamanya caranya adalah yang paling benar.

Si Tukang Kritik. Jangan harap mendapat tanggapan positif darinya, apa pun ide Anda pasti akan dianggapnya tidak baik. Tak ditanya pun ia senang ”mensabotase” dengan mengkritik ide atau hasil kerja rekannya saat rapat. Solusi: tipe yang satu ini sebenarnya kerap asal kritik alias tak punya dasar yang kuat. Dengan sopan tanyakan alasan atau bukti atas kritikannya, agar dapat Anda jadikan masukan. Biasanya, ia tak bisa memberi alasan. Bila hal ini Anda lakukan dengan konsisten, lama-kelamaan ia akan berpikir dua kali sebelum asal melontarkan kritik.

Si Anti Komitmen. Tipe ini paling tak bisa diandalkan karena tak pernah menganggap serius pekerjaannya hingga rekan satu tim-nya harus bekerja lebih keras. Selain senang menunda pekerjaan, begitu ditagih saat deadline ia kerap ”kaget” saat ditagih karena merasa tak tahu apa yang jadi tanggung jawabnya. Solusi: bagilah tugas secara jelas dan buat target serta tujuan secara terperinci, lalu sampaikan secara lisan dan tulisan padanya. Saat bekerja dengannya, ada baiknya Anda melakukan up-date secara berkala, agar Anda tak kelimpungan karena harus menyelesaikan tugas-tugas yang belum terselesaikan saat tiba tenggat waktu.

Tukang Menolak Pekerjaan. Rekan tipe ini akan menolak semua pekerjaan, sesederhana apa pun itu, dengan alasan: “Itu tidak termasuk dalam deskripsi tugasku”. Seringkali hal ini dilakukannya sebagai cara ‘balas dendam’ pada rekan kerja, atasan, atau perusahaan karena ketidakpuasannya atas apa yang diterimanya. Solusi: Beri ia kesempatan ikut serta dalam pelatihan atau pengembangan ketrampilan. Kerap kali tipe ini sebenarnya menginginkan peningkatan karier, namun karena merasa posisinya sudah mandek maka ia kehilangan semangat dan berusaha bekerja sesedikit mungkin.

Si Pengeluh. Tak ada satu pun hal yang menyenangkan bagi si tukang mengeluh. Pekerjaannya sulit, bosnya tak simpatik, peralatan kantor tak memadai, bahkan kehidupan pribadinya pun seolah penuh masalah. Solusi: Jangan tanggapi keluhannya dengan keluhan Anda atau bersikap kasihan, karena semangatnya untuk mengeluh akan semakin berkobar! Cobalah bersikap netral dengan mendengarkan keluhannya sebentar saja, lalu doronglah dia melakukan sesuatu untuk menyelesaikan masalahnya. Misalnya katakan padanya: “Memang sulit ya kalau komputermu bermasalah terus. Apa yang akan kau lakukan? Mungkin bisa minta bagian IT untuk memperbaikinya?”.

Sumber:
www.betterhealth.vic.gov.au
sciencecareers.sciencemag.org
Love.ivillage.com

Share artikel ini:

Artikel Terkait