Motivasi Apa Yang Dibutuhkan Dalam Bekerja?

Apa motif kita bekerja? Apapun yang akan kita katakan, tapi jika tidak menyebutkan uang sebagai motifnya, mungkin orang lain yang mendengarnya akan bilang kita ini sok idealis atau tidak realistis. Ditolak atau diterima, uang memang salah satu motif manusia bekerja.

Hanya, bedanya adalah ada orang yang menjadikan uang sebagai motif tunggal atau dominan di kepalanya dan ada orang yang motif kerjanya bukan semata untuk mendapatkan uang, tetapi uang dan selain uang. Misalnya saja untuk aktualisasi-diri, untuk membantu pasangan, membangun network, atau untuk menjalankan perintah Tuhan (ibadah).

Baik secara teori atau prakteknya, motif kedua jauh lebih sehat. Semakin mendalam motif yang menggerakkan kita  atau semakin banyak kita tambahi dengan nilai dan visi yang abstrak, tidak semata berupa materi konkret, maka motivasi kita semakin kuat, semakin kreatif, dan semakin bermakna (contented) hidup kita.

Karena kekuatan materi itu dalam menciptakan energi di  jiwa sangat sementara. Uang memang bisa membuat kita sejahtera atau bahagia. Tapi, jika uang itu tak bisa membuat kita lebih kaya dari tetangga atau rekan kerja, uang tak bisa menghentikan kerakusan dan ketidakpuasan. Buktinya adalah praktek korupsi.

Banyak orang yang menurut kita kaya secara materi, tapi dia sendiri mendefinisikan dirinya tidak begitu. Ini karena yang ia bandingkan adalah teman dia di luar negeri atau orang di sekitarnya. Karena itu, kita butuh  nilai dan visi hidup yang abstrak sebagai motivasi kerja, bukan hanya uang semata.

Yang juga penting dalam motivasi adalah, apakah yang menggerakkan kita itu motif negatif (nafsu atau setan) atau motif positif (energi Tuhan)? Misalnya, apakah motif kita bekerja supaya bisa sombong atau untuk mengembangkan diri?

Sombong adalah energi negatif dan akan melahirkan akibat yang negatif pada wilayah hidup kita yang lain. Tapi, mengembangkan diri akan mengharmoniskan hubungan kita dengan yang lain, termasuk ketika kita sukses sekali pun. 

Nah, karena tidak ada manusia yang kebal dari serangan nafsu dan godaan setan, maka melakukan koreksi yang membuat kita supaya tetap di jalur menjadi sangat penting. Jangan sampai kita terlalu lama dikuasai oleh motif yang merusak.

Koreksi atau audit itu idealnya perlu kita lakukan seperti kita mandi dan makan. Karena setiap hari kita harus mandi dan makan, maka setiap hari pula (sebetulnya) kita perlu koreksi dan audit. Semoga bermanfaat.

Share artikel ini:

Artikel Terkait