Tetap Profesional Bekerja Bersama Teman

Tepat seperti apa yang dikatakan para filsuf bahwa dalam perjalanan nasib seseorang itu selalu ada sesuatu yang pas untuk disebut uncharted water (perairan yang tak  terjamah). Maksudnya adalah sebuah kejadian yang benar-benar di luar jangkauan prediksi, estimasi, atau skenario kita.

Termasuk di dalamnya terkadang perjalanan nasib karier kita. Misalnya, entah bagaimana prosesnya, tetapi ujung-ujungnya orang yang dulu menjadi teman kita, kini menjadi rekanan perusahaan kita atau bawahan kita.  Jika misalnya kenyataan seperti itu benar-benar kita hadapi saat ini, kira-kiria sikap seperti apa yang tepat?

Di luar konteks dan alasan yang sifatnya sangat spesifik, ada satu pedoman dalam manajemen yang seringkali pas untuk kita terapkan. Pedoman itu adanya di prinsip dasar manajemen kinerja. Prinsipnya adalah membedakan hal-hal yang harus dibedakan dan menyamakan hal-hal yang harus disamakan.

Penyamaan dan pembedaan itu harus kita kaitkan alasannya dengan kinerja kantor. Misalnya saja sikap kita terhadap praktek mangkir. Karena ini terkait dengan kinerja organisasi, dan aturannya sudah jelas, maka kita perlu menyamakan sanksinya. Begitu kita menerapkan manajemen “dengan pandang-bulu”, maka hilanglah wibawa profesi atau jabatan kita.

Orang lain merasa punya hak untuk menentang atau tidak mendengarkan kita. Akan lebih parah lagi jika kita sampai melindungi perbuatan yang merugikan orang banyak karena pertimbangan konco (kolusi dan nepotisme). Kita telah membeda-bedakan hal-hal yang mestinya perlu disamakan.

Atau juga sebaliknya. Kita tidak membedakan hal-hal yang harus dibedakan. Misalnya, karena takut dibilang kolusi, lantas teman kita yang punya kinerja di atas yang lain, kita samakan reward-nya. Teman kita menjadi korban rasa takut kita. Kita telah menyamakan sesuatu yang mestinya perlu dibedakan.

Dengan kata lain, walaupun sesama teman, kita tetap harus profesional. Profesional dalam arti tetap berkomitmen menjaga nilai-nilai profesi / jabatan dan menjadikan fakta sebagai landasan utama dalam mengambil keputusan.

“Apa nanti tidak dibilang sok  kita?” Untuk menghindari hal ini, senjata kita jangan hanya  prinsip di atas saja. Kita perlu menambah satu lagi, yaitu cara. Walaupun prinsipnya harus sama, tapi, khusus dengan teman, caranya terkadang butuh beda, entah lebih friendly atau cara lain.  

Jadi, kita perlu berpegang pada prinsip sekuat batu karang di lautan. Tapi, cara yang kita gunakan untuk menerapkan prinsip itu haruslah sefleksibel orang berenang. Ini jika keadaan membutuhkan. Dengan begitu, kita tetap dihormati dan dipahami posisi kita.

Semoga bermanfaat.

 

* lifeskill facilitator, penulis dan learning counselor

Share artikel ini:

Artikel Terkait