Tips Menerima Asisten Rumah Tangga Baru

Lebaran memang sudah menjadi peristiwa sosial dan kultural yang dibarengi dengan sekian tradisi lain, misalnya mudik, urbanisasi, dan lain-lain. Lebaran bukan semata peristiwa personal dan spiritual sehabis berpuasa sebulan.

Tradisi itu  seringkali membawa imbas perubahan pada sebagian keluarga. Yang sudah umum terjadi adalah hadirnya asisten rumah tangga (ART) baru di rumah karena yang lama tidak kembali setelah mudik lebaran. Apakah Anda termasuk salah satu keluarga yang terkena imbas itu? Kalau Anda tidak punya persiapan mental, bisa-bisa Anda seperti seorang petinju yang terkena pukulan mendadak. Anda mungkin  shock atau bahkan bisa kecewa.  Tapi jika Anda sudah siap, lebih-lebih sudah menyiapkan cadangannya, ini akan terasa biasa-biasa. Namun demikian, Anda tetap dituntut harus lebih selektif lagi dalam menyeleksi dan memfasilitasi proses adaptasi asisten baru itu.

Mengapa proses menyeleksi dan adaptasi ART menjadi penting? Ini adalah karena harus diakui bahwa peran ART cukup besar dalam kelangsungan rumah tangga sehari-hari.

Mereka membantu dalam proses memasak, yang berarti membantu menyiapkan nutrisi bagi seluruh anggota keluarga, membantu menjaga kebersihan lingkungan rumah, dan jika memang diperlukan, juga membantu menjaga dan mengawasi anak-anak. Karena itulah beberapa hal menjadi sangat penting untuk diperhatikan, seperti kesehatan si ART dan kejelasan identitasnya.

Hal terpenting saat menyeleksi adalah harus menjelaskan kesepakatan di depan, misalnya gaji, kondisi kerja, atau keahlian yang dibutuhkan. Idealnya, seleksi ini harus langsung, minimalnya lewat telepon. Jangan sampai membeli kucing dalam karung, misalnya Anda mempercayakan ke orang lain 100%.

Perlukah tes kesehatan? Untuk antisipasi, ini sangat diperlukan, bahkan harus masuk dalam kesepakatan yang bisa secara gamblang dipahami oleh pihak kita dan dia. Lebih-lebih jika tugasnya untuk merawat si Kecil. Lakukan beberapa tes kesehatan, termasuk tes darah jika diperlukan. Yang perlu diwaspadai adalah apakah di calon ART mengidap penyakit akut atau yang menular.

Apakah harus orang sekampung yang keluarganya kita ketahui? Ini memang sering dilematis. Terkadang mengambil orang yang sekampung itu lebih baik tetapi terkadang tidak. Ini tergantung banyak hal. Pengalamanlah yang akan menunjukkan kita.Tetapi selalu usahakan melalui orang yang riwayatnya jelas, melalui orang yang Anda percaya, atau melalui jaringan yang terpercaya, dan pastikan kejelasan identitas si ART.

Tahapan setelah seleksi adalah memfasilitasi proses adaptasi dari orang lama ke orang baru. Atau apabila ART yang lama memang sudah tidak ada, berarti proses yang berlangsung adalah proses ‘transfer ilmu dan keterampilam’ dari Anda kepada ART. Agar prosesnya smooth,  ada beberapa hal penting yang perlu dilakukan, di antaranya adalah:

§  Instruksi yang konkret dan spesifik, misalnya jam menutup pintu belakang, jam tidur, dan lain-lain. Ini tidak cukup sekali. Lakukan berkali-kali tapi dengan bahasa yang berbeda

§  Untuk pekerjaan tertentu, perlu contoh langsung dan dicatat, misalnya menyeterika, takaran susu untuk si kecil, cara menggendong, dan lain-lain. Instruksi saja tidak cukup.

§  Hindari yang ‘terlalu’, misalnya  terlalu cuek (100 % percaya) atau terlalu cerewet (100 % tidak percaya atau serba ngatur). 

§  Membangun hubungan yang empatik, dalam arti menghindari ucapan yang  menyakitkan hati dan memunculkan hati yang peduli.  

Kemudian, sebaik apa pun kelihatannya ART baru Anda, Ibu harus tetap waspada dan berhati-hati. Terutama yang berkaitan dengan si Kecil. Sikap cermat dan hati-hati selalu diperlukan agar kelangsungan hidup rumah tangga sehari-hari  tetap lancar.

Share artikel ini:

Artikel Terkait