Agar Anak Tidak Konsumtif

Tidak semua kebaikan yang kita berikan pada anak-anak itu akan baik. Bencana juga bisa datang dari kebaikan. Ini bisa terjadi apabila kebaikan itu berlebihan (tidak mendidik) atau salah sasaran (belum saatnya).

Ketika semua kemauan anak itu kita muluskan secara instan, hanya karena alasan kita punya dan mampu, lama kelamaan ini akan membiasakan anak untuk mendapatkan sesuatu dengan cara menuntut (demanding) dan maunya instan.

Untuk pendidikan mental, ini kurang mendukung dan akan cenderung membahayakan apabila porsinya kebablasan. Anak kita akan kurang kesempatan berlatih menghadapi realitas. Padahal, mau tidak mau nanti mereka harus menghadapi realitas tanpa kita.

Potensi bahaya juga muncul ketika barang-barang yang kita berikan itu belum saatnya. Di era digital ini, ada tawaran dan godaan untuk memiliki berbagai perangkat teknologi yang datang dari berbagai sumber, televisi, internet dan teman-temannya.

Padahal dari sekian perangkat teknologi itu ada sebagian yang menyediakan fasilitas yang mirip seperti jalan raya. Maksudnya, semua aperilaku yang baik dan buruk ada di situ.

Ibarat jalan raya, meski itu sifatnya umum, tetapi untuk bisa menggunakannya dibutuhkan SIM, yang berarti ada seleksi usia. Penggunaan perangkat teknologi pun begitu. Ukurannya bukan semata mampu dan membahagiaan.

Lebih besar lagi potensi bahayanya ketika kita telah membiasakan anak-anak punya budaya konsumtif atau ingin membeli segala yang dilihatnya sekedar unuk memuaskan nafsu atau karena iri sama temannya.

Jika tidak terkontrol, perilaku demikian dapat membiasakan anak salah dalam mengambil keputusan, kurang akurat melihat diri sendiri atau akan salah dalam melihat hubungan pertemanan.

Tiga hal itu tentu sangat membahayakan. Karena itu, terlepas kita orang mampu atau tidak, sikap yang perlu kita munculkan adalah melatih anak-anak  untuk tidak punya perilaku konsumtif yang kebablasan.

Latihannya adalah selalu mengajak dia berpikir soal kebutuhan, keadaan, dan kebaikan. Kalau meminjam istilah psikologi, kita perlu melatih anak-anak untuk menggunakan reason ketimbang reaction.

Latihannya lagi adalah mengajak mereka mengubah orientasi pembelian. Jangan semua diarahkan ke barang-barang yang semata untuk konsumtif (menghibur), tetapi harus diimbangi dengan barang-barang yang membuatnya produktif.

Misalnya, membeli komputer untuk meningkatkan karyanya, memberi sepeda untuk berolahraga, dan lain-lain. Dengan cara ini akan membuat kebaikan kita membuahkan kebaikan pada mereka juga.

Yang tidak kalah pentingnya adalah memberi contoh. Akan sulit kita menghadang perilaku konsumtif pada anak-anak jika kita juga orangtua yang konsumtif.

Semoga bisa kita jalankan.

Share artikel ini:

Artikel Terkait